Menggerakkan Orang Lewat Doa

Filsafat hidup Hudson Taylor adalah "Kita harus menggerakkan orang lewat Allah—yaitu dengan doa." Hudson Taylor adalah pendiri China Inland Mission yang sekarang disebut Overseas Mission Fellowship (OMF). Sewaktu ia masih muda ia mendengar suara dari Surga, "Pergilah ke China untuk-Ku." Sejak awal Taylor sadar bahwa panggilan yang sulit itu akan tergenapi hanya jika Allah yang bekerja lewat doa. Sepanjang hidupnya ia telah dengan baik dan berhasil membuktikan filsafatnya yang berbunyi, "Hanya lewat doa segala hal dapat dilakukan."

Pada tahun 1851, tidak lama setelah menerima panggilan Tuhan, Taylor tahu ia harus mulai menyiapkan dirinya jika ia mau menjadi seorang misionaris ke Cina. Keluarganya tergolong kelas menengah dan ia tinggal bersama orang tua dan kedua adiknya di rumah yang cantik di kawasan perumahan yang bagus. Sebagai latihan sebelum ia mulai bekerja di ladang Tuhan, ia pindah ke daerah kumuh dan tinggal di antara orang-orang miskin.

Ia mendapatkan pekerjaan di suatu klinik praktik yaitu sebagai seorang asisten dokter. Tujuan Taylor memisahkan diri dari kenyamanan hidup yang dijalani sebelumnya adalah agar ia dapat membiasakan diri dengan kesendirian dan bahaya yang muncul dari hidup di suatu tempat asing di mana hanya Tuhan yang akan menemaninya. Ia memilih pekerjaan sebagai asisten dokter karena ia tahu pengetahuan medis akan sangat membantunya di China nanti. Usianya baru 19 tahun pada waktu itu.

Melihat pada integritas rohani Taylor sejak awal perjalanannya dengan Tuhan, tidaklah mengherankan bahwa Tuhan dapat memakainya dengan begitu luar biasa. Pada malam hari setelah tugasnya selesai, Taylor seringkali meluangkan waktu untuk bersaksi dan berdoa bagi tetangganya. Suatu malam, ia diminta untuk mendoakan seorang wanita yang sedang sakit.
Suasana rumah wanita itu sangatlah murung, karena bukan saja ibu itu sakit tetapi anak-anaknya juga sedang dalam keadaan kelaparan.

Waktu Taylor berdoa, sulit sekali baginya untuk mengucapkan kata-kata penghiburan karena terjadi pergumulan yang berat di dalam hatinya. Di dalam kantongnya ia memiliki sekeping koin perak yang dapat menjawab doa dan penderitaan keluarga miskin itu. "Munafik!" suara hatinya mengutuk dia. "Berbicara tentang Bapa Surgawi yang baik dan pengasih—tetapi saya sendiri tidak siap untuk mempercayai-Nya—untuk memberikan segala sesuatu yang saya miliki dan hidup tanpa uang sepeser pun!"

Selesai berdoa, Taylor mengikuti suara hatinya dan memberikan uang koin satu-satunya kepada keluarga tersebut. Sepulang ke kamarnya ia menikmati hidangannya yang terakhir—semangkok bubur yang sudah dingin. Dengan memberikan uangnya kepada keluarga miskin itu, ia menjadi sama miskinnya dengan mereka. Walaupun ia tidak tahu apa yang harus dimakannya besok, ia teringat akan satu ayat di Kitab Suci yang berkata, "Dia yang memberi kepada orang miskin, memberi kepada Tuhan."

Keesokan harinya tanpa diduga ia menerima kiriman paket. Di dalamnya terkandung sekeping uang emas - nilainya 4 kali lebih besar dari uang perak yang diberikannya di malam sebelumnya. Taylor langsung berseru, "Itu bunga yang tinggi sekali! Ha! Ha! Saya berinvestasi di bank Tuhan selama dua belas jam dan ia mengembalikan ini! Itulah namanya bank!"

Di 'sekolah Tuhan' di daerah kumuh itu, Taylor belajar bahwa ia dapat percaya dan taat sepenuhnya kepada Tuhan dalam setiap sisi kehidupannya. Memang masih terlalu banyak yang harus dipelajarinya, tetapi pelajaran awal yang didapatnya adalah bahwa janji dan ucapan Tuhan dapat diandalkan. Pengalamannya di waktu itu mengajarkan kepadanya bahwa tidak ada yang lebih mendatangkan sukacita dibandingkan dengan doa dan jawaban terhadap doa. Ia telah belajar bagaimana untuk menggerakkan orang lewat doa. Ia tidak pernah meminta dari manusia untuk hal-hal materil. Semua kebutuhannya ia bentangkan di hadapan Tuhan.

Waktu Taylor mulai bekerja sebagai asisten dokter, dokter yang dengannya ia bekerja pernah berkata, "Taylor, ingatkan saya ya, kapan saya harus membayar upahmu. Karena sering terlalu sibuk dengan pekerjaan, saya pasti akan lupa." Dan dokter itu benar-benar lupa. Tetapi Taylor tahu bahwa di Cina nanti, ia tidak akan dapat meminta pada siapa pun, melainkan hanya kepada Tuhan. Jadi ia memutuskan untuk hanya meminta kepada Tuhan dan menyerahkan hal mengingatkan sang dokter ini pun kepada Tuhan.

Tiga minggu setelah itu sang dokter tiba-tiba teringat ia belum membayar gaji mingguan Taylor, tetapi pada malam itu ia kebetulan tidak punya uang karena semuanya sudah disetorkan ke bank. Taylor waktu itu telah sama sekali tidak memiliki uang dan ia harus membayar uang sewa kamarnya. Dan ia juga tidak memiliki uang untuk membeli makanan. Sepanjang hari itu sebetulnya ia sudah berdoa sambil bekerja agar sang dokter itu akan ingat. Sesuai doanya, sang dokter itu memang ingat tetapi ingat pada saat ia kehabisan uang!

Pada malam itu Taylor bekerja sampai jam 10 malam, walaupun letih tetapi ia merasa lega karena setidaknya ia tidak perlu pulang lebih awal dan menghadapi tuan rumahnya yang pasti akan menagih uang sewa kepadanya. Waktu ia sedang berkemas untuk pulang, sang dokter tiba-tiba masuk ke ruangannya dan berkata, "Aneh sekali, pasien saya baru saja datang dan membayar tagihannya! Ia salah satu pasien saya yang paling kaya dan ia bisa saja membayar lewat cek kapan-kapan saja tetapi ia datang membayar dengan uang kontan jam 10 di malam minggu!" Lalu ia menambahkan, "Oh ya, Taylor, sebaiknya kamu ambil saja uang ini. Saya tidak punya uang receh, tapi gajimu yang selebihnya akan saya bayar minggu depan... Selamat malam!"

Doanya terjawab! Ia bukan saja punya uang untuk membayar sewa kamar tetapi juga uang makan untuk minggu yang akan datang. Ia telah membuktikan sekali lagi dalam kehidupan sehari-harinya bahwa Tuhan menjawab doa dan menggerakkan orang. Ia telah siap untuk pergi ke China!

Catatan: Hudson Taylor merupakan misionaris yang paling besar dipakai Tuhan di dalam sejarah penginjilan di Cina. Selama 51 tahun pelayanannya, China Inland Mission yang didirikanya membangun 20 pos misi, mengirim 849 misionaris, melatih 700 pekerja pribumi dan mengumpulkan dana sebanyak empat juta dolar dengan iman (mengikuti contoh George Mueller), dan mengembangkan gereja Cina dengan jemaat 125,000 orang. Diperkirakan setidaknya 35,000 jiwa merupakan hasil langsung pelayanannya dan ia membaptiskan sekitar 50,000 orang. Taylor memiliki karunia luar biasa untuk menginspirasi orang-orang Kristen untuk memberikan diri dan kekayaan mereka bagi Kristus. (CPM)
Baca selanjutnya...

Doa Memohon Hikmat dan Pimpinan


Yesus, pimpinlah jalan
Melalui jalan panjang kehidupan kami;
Di saat jalan kami tampak tidak menyenangkan,
Tolong kami untuk mengikuti tuntunan-Mu, untuk tetap tenang dan tidak takut;
Tuntun kami dengan tangan-Mu
ke tanah perjanjian

Yesus, jadilah terang kami,
Di tengah malam gelap;
Kiranya rasa takut tidak menguasai kami;
Kiranya iman dan pengharapan kami tidak meninggalkan kami;
Kiranya kami senantiasa merasa Engkau dekat
Di saat kami menyembah-Mu di sini

Di tengah dukacita terdalam,
Kuatkanlah iman kami;
Pada saat godaan menyerang,
Jadikan kami sabar dan bertahan;
Tuhan, kami mencari kasih karunia-Mu
Di tempat kudus ini

Yesus, pimpinlah kami terus,
Sampai ke tempat perhentian kami;
Jika Engkau menuntun kami melalui tempat-tempat yang sulit,
Beri kami kasih karunia-Mu yang berkuasa menebus.
Jika jalan hidup kami telah berakhir,
Bukalah pintu sorga

By Nicholas L. von Zinzendorf
Sumber: Ideals Treasury of Prayer | Editor: Julie K. Hogan

Baca selanjutnya...

Doa Dalam Pimpinan Roh Kudus

Oleh: Thomas Eny Marsudi

Ada hubungan yang tak terpisahkan antara doa dan Roh Kudus. Hal yang sangat penting ialah Roh Kudus akan membawa kita ke dalam kondisi rohani yang baik dan benar untuk berdoa. "Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran" (Yoh. 16:13).

Dua sisi ini saling melengkapi: Hidup dalam roh menjadikan orang suka berdoa, orang suka berdoa menjadikan hidup dalam Roh. Mana yang lebih dahulu? Ini seperti dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Seperti ikan tidak perlu dipaksa untuk berenang ke dalam air, karena air adalah kondisi alamiahnya. Demikianlah bila kita berada dalam kondisi hidup dalam Roh, kita tidak perlu dipaksa berdoa lagi.

Roh Kudus mendorong kita berdoa
Bila Roh Kudus menguasai hidup kita, Roh Kudus akan mendorong kita berdoa sesuai dengan keinginan Roh. Doa orang yang dikuasai Roh Kudus, sangat berbeda dengan doa orang yang dikuasai kedagingan.

Dalam Kisah Para Rasul 7:55, 59-60, Stefanus—seorang diaken yang teraniaya dirajam dengan batu—dipenuhi Roh Kudus, sehingga ia berdoa memohon pengampunan untuk orang yang menganiayanya. Hasilnya? Saksi penganiayaan—Paulus—bertobat (Kis. 8:1 bnd. 1Kor. 15:9).

Dalam Roma 8:27, Roh Kudus mendorong kita untuk berdoa bagi orang-orang kudus. Orang yang dikuasai Roh Kudus akan didorong berdoa dan menghasilkan buah Roh: kasih, sukacita, damai sejahtera, dan sebagainya (Gal. 4:22-23).

Roh Kudus menyampaikan doa
Roh Kudus, selain mendorong doa juga meneliti permohonan, keluhan yang tersembunyi dalam hati kita. Keluhan-keluhan yang tak terkatakan saat kita berdoa. Namun oleh Roh Kudus, keluhan-keluhan tersebut diubah menjadi doa yang disampaikan kepada Allah.

"Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan." (Rm. 8:26)

Acap kali hati kita dipenuhi masalah, bagaikan timbunan sampah yang menggunung, tidak tahu apa yang harus kita lakukan. Acap kali hati kita bagaikan awan yang gelap, sehingga tanpa sadar kita hanya bisa meneteskan air mata. Ya, masalah banyak, tidak tahu jalan keluarnya, hanya bisa mengeluh, dan mendesah kebingungan. Namun Roh Kudus mampu menyelidiki, dan mengubah keluhan menjadi doa. Luar biasa!

"Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah." (Rm. 8:28)

Jangan mendukakan Roh Kudus
Apakah maksudnya? Roh Kudus adalah Pribadi. Roh Kudus yang berdiam dalam diri orang beriman bisa berpikir (Rm. 8:27), bisa merasakan (Ef. 4:30), bisa berkehendak (1Kor. 12:11). Seperti suami istri, apabila dalam dua pribadi ini terdapat dua keinginan yang berbenturan, suasana duka akan dirasakan rumah tangga mereka.

Demikian juga Roh Kudus, apabila kita memiliki keinginan yang berbenturan dengan kepribadian Roh Kudus, dan dengan keras hati kita tetap melawan kehendak Roh Kudus, kita akan mendukakan Roh Kudus.

Apa saja yang bisa mendukakan Roh Kudus? Roh Kudus akan berduka saat suara Roh Kudus dihina (Ibr. 10:29), ditentang (Kis. 7:51), ditipu (Kis. 5:3), dihujat (Mat. 12:31). Apabila kita dengan sadar dan sengaja melawan kehendak Allah, kita membuat Roh Kudus berduka. Oleh sebab itu, untuk menjaga kepekaan rohani agar tetap menuruti kehendak Roh Kudus, kita harus melatih dan membiasakan diri kita.

Bila damai sejahtera kita rusak karena dosa atau karena hubungan dengan sesama, sekecil apapun itu harus segera diselesaikan. Suara hati yang tidak dilatih untuk peka akan menjadi kekerasan hati, kemunafikan, dan mendukakan Roh Kudus.

"Dan berdoakan setiap waktu di dalam Roh." (Ef. 6:18)

Sumber: Doa Itu Indah, Doa Itu Mudah (Jakarta: Gloria Graffa, 2007)
Baca selanjutnya...

Berdoa Sebagaimana yang Tuhan Kehendaki

Oleh: Ev Yuzo Adhinarta

Yesus mengajar para murid untuk tidak berdoa seperti orang munafik, berdoa sedemikian rupa supaya dilihat orang dan untuk pujian manusia. Ia juga memperingatkan para murid untuk tidak berdoa seperti orang yang tidak mengenal Allah, yang berdoa dengan bertele-tele dan berpikir bahwa doa mereka akan didengar karena banyaknya kata-kata yang mereka ucapkan.

Yesus kemudian menyimpulkan dan memerintahkan agar para murid tidak menjadi seperti mereka—munafik dan tidak mengenal Allah—karena, Yesus berkata, “Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya.” Dari bagian Alkitab yang singkat di Mat. 6:5-8 kita belajar bahwa Yesus mengetahui bagaimana banyak orang salah mengerti tentang doa.

Ia kemudian memerintahkan para murid-Nya untuk tidak berdoa seperti mereka berdoa. Pada saat yang sama, Yesus mengajar mereka pengertian yang benar tentang doa. Pertama-tama, doa haruslah dilakukan dengan kepekaan bahwa kita sedang berdiri di hadirat Allah, bukan manusia. Kedua, doa haruslah berakar kepada pengenalan yang benar akan Allah.

Doa yang benar harus selalu berlandaskan iman yang benar, percaya bahwa Allah yang Mahatahu mengetahui dan mendengar bahkan suara-suara hati kita. Allah sanggup membedakan antara motivasi yang benar dan salah dalam doa. Jika Allah adalah Allah atas segenap hidup kita, jika Allah adalah Raja di atas segala raja dan pemilik segala sesuatu yang ada, maka di dalam inti setiap doa seharusnya ada sebuah kerinduan yang tulus, sebuah hasrat yang taat untuk menyesuaikan kehendak kita dengan kehendakNya, bukan sebaliknya.

Itu sebabnya, sebisa mungkin, kita berdoa dengan kesadaran bahwa kita sedang berdiri di hadapanNya dan berdoa dengan pengenalan yang Allah yang sepantasnya. Theologi dan spiritualitas hanya bisa dibedakan dengan kata-kata, tetapi tidak bisa dipisahkan dalam prakteknya.

Lantas bagaimana kita harus berdoa? Apa yang Yesus mau kita pelajari tentang doa ketika Ia mengajarkan “Doa Bapa Kami,” doa yang seharusnya menjadi panutan bagi doa-doa yang lain?

“Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu.” (Matius 6:9; TB)
Ketika kita berdoa kepada Allah sebagai “Bapa kami,” kita menempatkan diri kita sebagai anak-anak-Nya di hadapan tahta suciNya, dan dengan pertolongan Roh Kudus kita memohon kepada-Nya untuk membangkitkan di dalam diri kita sikap hormat seorang anak dan percaya kepada-Nya. “Bapa kami” juga berarti bahwa kita tidak seharusnya berdoa hanya sebagai individu-individu, tetapi sebagai sebuah komunitas anak-anak Allah; tidak berdoa demi ambisi pribadi yang egois, tetapi bagi kebutuhan orang lain juga, dan yang terutama, agar NamaNya dipermuliakan melalui hidup, kata-kata, dan segenap perbuatan kita. “Karena itu berdoalah demikian,” kata Yesus.

"Datanglah KerajaanMu, jadilah KehendakMu di bumi seperti di surga." (Matius 6:10; TB)
Allah mengajarkan kita untuk berdoa "Dikuduskanlah Nama-Mu." Bagaimana kita bisa menguduskan nama Allah dan membuat NamaNya dihormati dan dipuji oleh orang-orang di sekitar kita? Dengan membiarkan diri kita diperintah oleh Firman dan Roh Kudus-Nya, semakin menundukkan diri kepada-Nya. Orang akan melihat melalui hidup kita bahwa Kerajaan Allah hadir ketika Allah menjadi Raja atas hidup kita: keluarga, pekerjaan, perkataan, dan perbuatan kita. Untuk menghadirkan Kerajaan Allah, kita perlu berdoa agar Allah menolong kita menyangkal kehendak pribadi kita dan menaati kehendak-Nya. Semakin kita mengenal hidup yang sejati, semakin kita menyadari bahwa hidup yang diperintah oleh kehendak Allah adalah satu-satunya hidup yang layak dihidupi. Ini adalah rahasia hidup penuh sukacita dan bahagia yang sejati.

"Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya." (Matius 6:11; TB)
Permohonan ini bukanlah basa-basi semata, namun sebuah permohonan yg tulus dan keyakinan iman bahwa kebutuhan jasmani kita hanya akan mendapatkan pemenuhan dari Allah, satu-satunya sumber dari segala sesuatu yg baik (Yak. 1:17). Di balik segala proses alami, transaksi ekonomi, dan mekanisme sosial yg kelihatan, kita mengaku bahwa tangan Allah yang tidak kelihatanlah yang menyediakan makanan kita sehari-hari. Allah bekerja dalam segala sesuatu untuk kebaikan kita (Rm. 8:29). Yesus mengajar kita utk meminta makanan "yang secukupnya," bukan untuk tahun-tahun mendatang, tapi utk hari ini. Allah menghendaki kita belajar bergantung kepada-Nya dan meletakkan percaya kita kepada-Nya di setiap hari dalam kehidupan kita, dan menarik rasa percaya kita kepada ciptaan-ciptaan yang lain, termasuk rasa percaya diri sendiri. Ia menghendaki kita meminta seporsi berkat yang cukup dan perlu untuk menopang kerinduan kita untuk memuliakan Dia dengan tubuh dan jiwa kita. Sudahkah kita mengucap syukur kepada-Nya, yang telah memberi segala berkat yang kita terima?

"Dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami." (Matius 6:12; TB)
Yesus mengajar kita berdoa untuk memohon pengampunan kepada Allah, mengakui segala kelemahan dan dosa yang kita pernah lakukan dan memohon kemurahanNya mengalahkan semua itu yang masih melekat pada kita. Kita menerima pengampunan tersebut hanya jika kita percaya dan bertobat, dan dibasuh oleh darah Kristus. Pengampunan ini, bersama dengan pembaruan batin oleh Roh Kudus, membawa perubahan radikal dalam hidup yang tidak bisa dikembalikan. Kita bisa melihat perubahan radikal ini dalam hidup kita melalui dampak-dampaknya. Tidak ada tanda anugerah Allah yang lebih meyakinkan daripada hati yang mengampuni, hati yang dipenuhi oleh anugerahNya. AnugerahNya memampukan kita mengampuni diri dan berdamai dengan masa lalu kita. Tidak hanya kita akan melihat diri kita secara berbeda, kita juga akan melihat orang lain secara berbeda, dan juga dimampukan untuk mengampuni mereka. Mintalah pengampunan Allah dan belajarlah mengampuni!

"Dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat." (Matius 6:13a; TB)
Alkitab berkata bahwa Allah tidak mencobai siapapun, dan tiap orang dicobai dan tergoda oleh nafsunya sendiri (Yak. 1:13). Doa ini mengajarkan kita: (1) dengan jujur mengaku kepada Allah bahwa kita sangat mudah jatuh ke dalam dosa dan menjauh dari tugas kita memuliakan Dia; (2) menyadari kehidupan yang penuh penderitaan dan kejahatan ini; dan (3) menyatakan kuasa Allah Mahatinggi yang mengatasi segala yang jahat. Diri kita begitu lemah sehingga kita tidak bisa berdiri sendiri sedetikpun. Ketika kita dicobai oleh musuh-musuh kita (iblis, dunia berdosa, dan kedagingan kita), kita harus berdoa agar Ia memberi kekuatan untuk menghadapi pencobaan sehingga kita tidak berdosa dan menjauh dari Allah. Ingatlah bahwa iblis berkeliaran mencari mangsa untuk dimakan! (1Ptr. 5:6-11) Itu sebabnya kita perlu berdoa agar Allah membatasi si jahat dan membela kita dari kejahatan sekarang dan yang akan datang dengan membebaskan kita dari cengkeraman cakar-cakar mereka.

"Karena Engaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin." (Matius 6:13b; TB)
Bagian penutup Doa Bapa Kami mendorong kita untuk sekali lagi mengaku bahwa segala permintaan kita dalam doa didasari atas kepercayaan kita sepenuhnya akan Allah sebagai Raja, bahwa Ia memiliki segala kuasa untuk menjawab doa-doa kita, untuk memberi kepada kita segala yang baik, dan bahwa melalui semua permintaan kita, bukan kita, tapi biarlah Nama Allah yang kudus yang dipermuliakan. Sangatlah penting bagi kita untuk senantiasa mengingat akan Kerajaan Allah, kuasa, dan kemuliaan-Nya ketika berdoa, sehingga kita bisa berdoa secara efektif tanpa terlarut dalam kata-kata manusia yang sia-sia belaka. Marilah berdoa bukan untuk keinginan atau agenda pribadi kita, tetapi mari memanjatkan doa-doa yang menyenangkan Allah, sebagamana yang Yesus ajarkan kepada kita. Biarlah kata-kata Tuhan kita Yesus Kristus dalam doa ini mengajar kita dan menanamkan kerinduan untuk berdoa dengan sungguh-sungguh.


"Lagipula, berdoa adalah mengarahkan pikiran kepada Allah, dan sebuah percakapan denganNya yang tak tertandingi oleh apapun yang sanggup membakar hati manusia dengan hasrat surgawi dan dengan penuh kuasa mengubah pikiran sesuai dengan kehendak Allah." (The Tetrapolitan Confession (1530), Ch. VII)

Sumber: "Not" Our Daily Bread
Baca selanjutnya...

Doa Syafaat


Kepada-Mu kuangkat dosa syafaatku, khususnya bagi mereka yang menyakitiku, membuatku sedih, atau berbuat salah kepadaku, atau yang telah menimbulkan kerugian atau membuatku bersusah hati. Aku berdoa bagi mereka yang juga pernah kusakiti, kubuat susah hatinya, kubebani, dan tersinggung olehku, melalui kata-kata atau perbuatanku, dengan sengaja maupun tidak sengaja; kiranya Engkau mengampuni kami semua atas segala dosa kami dan perbuatan kami yang saling menyakiti.

Jauhkanlah kiranya dari hati kami, ya Tuhan, segala bentuk kecurigaan, kebencian, amarah, dan dendam, dan apapun yang merusak kerukunan dan mengurangi kasih di antara sesama.

Berbelas kasihlah, ya Tuhan, berbelas kasihlah kepada mereka yang merindukan belas kasih-Mu, limpahkan kasih karunia bagi mereka yang membutuhkan, dan bentuk kami sedemikian rupa, sehingga kami layak menikmati kasih karunia-Mu dan melangkah masuk ke dalam kehidupan kekal. Amin.

Sumber: Ideals Treasury of Prayer | Editor: Julie K. Hogan
Baca selanjutnya...

Doa Pertobatan


Ampunilah semua, ya Tuhan:
Dosa-dosa kelalaian kami dan dosa-dosa perbuatan kami;
Dosa-dosa masa muda kami dan dosa-dosa masa tua kami;
Dosa-dosa jiwa kami dan dosa-dosa tubuh kami;
Dosa-dosa kami yang tersembunyi maupun yang terbuka;
Dosa ketidakpedulian kami dan keterkejutan kami;
Dan dosa-dosa yang kami lakukan dengan sengaja dan direncanakan;
Dosa-dosa yang telah kami lakukan untuk menyenangkan diri kami sendiri;
Dosa-dosa yang telah kami lakukan untuk menyenangkan orang lain;
Dosa-dosa yang kami ketahui dan yang kami ingat;
Dan dosa-dosa yang telah kami lupakan;
Dosa-dosa yang telah kami sembunyikan dari orang lain
Dan dosa-dosa yang kami lakukan, yang membuat orang lain marah;
Ampunilah semua itu, ya Tuhan, ampunilah semua itu demi Dia,
Yang telah mati bagi dosa-dosa kami dan yang telah bangkit untuk membenarkan kami,
Dan yang sekarang berdiri di sebelah kanan untuk berdoa bagi kami, Yesus Kristus Tuhan kami.

Sumber: Eerdman's Book of Famous Prayers: A Treasury of Christian Prayers Through the Centuries | Compiled by: Veronica Zundel
Baca selanjutnya...

Saat Tidak Melihat Jawaban Doa

Oleh: Stormie Omartian

Pernahkah anda berdoa mengenai suatu situasi tertentu, seseorang, suatu kebutuhan, atau suatu impian, dan tetap belum melihat jawaban atas doa-doa anda itu? Bila doa-doa kita tidak dijawab selama bertahun-tahun, mungkin kita akan merasa ingin menyerah saja dan atau menjadi jemu.

Jemu berarti anda terluka sangat dalam, sehingga anda tidak mempunyai kekuatan, kemampuan, motivasi atau harapan lagi untuk tetap berdoa. Dan juga, bila doa-doa kita tidak dijawab, kita sering mengira Allah tidak mengasihi dan tidak mempedulikan kita lagi serta segala sesuatu yang kita pedulikan, kemudian menjadi sedih dan kecewa. Kecewa kepada Allah karena Ia tidak menjawab doa-doa kita.

Namun, jangan biarkan kita tinggal dalam kekecewaan karena hal itu akan membawa kita menjadi kehilangan pengharapan dan hidup penuh dengan iri hati, kepahitan dan kemarahan.

Karena doa bukan memberitahukan kepada Allah apa yang harus dilakukanNya. Doa adalah membagikan perasaan kita dan membuat permohonan-permohonan kita diketahui olehNya. Kemudian Ia menjawab sesuai dengan kehendak-Nya.

Jadi hal apa yang harus kita lakukan saat kita tidak melihat jawaban doa kita? Memuji dan menyembah Allah. Mengapa?

• Saat kita menyembah Allah, maka kita dimampukan untuk melihat dan menyadari bahwa Allah lebih besar dari pada doa-doa kita (masalah kita). Dan pujian akan membawa kita melepaskan kekhawatiran dan kekecewaan itu kepada Allah, iman kita dibaharui sehingga kita dapat percaya lagi.

• Pujian dan penyembahan membawa kita masuk ke hadirat Allah dan mengundang hadiratNya agar tinggal di dalam kita dan lebih dalam. Di dalam hadiratNya, kita tidak mungkin tidak diberkati.

• Tindakan menyanyikan pujian kepada Allah akan melepaskan berkat-berkatNya kepada kita dan melepaskan hidup kebangkitan-Nya mengalir di dalam kita. Inilah kuasa yang tersembunyi di balik pujian kepada Allah. Kita dapat mengubah kesedihan kita menjadi sukacita melalui nyanyian pujian, dan rantai keputus-asaan yang berat akan hancur, karena dengan menyanyi kita menunjukkan bahwa iman dan pusat perhatian kita tertuju pada kebajikan dan kuasa Allah, bukan pada keadaan kita.

• Penyembahan adalah suatu tindakan iman, di mana kita menunjukkan kepada Bapa Sorgawi bahwa meskipun kita tidak selalu melihat jawaban-jawabanNya atas doa-doa kita, kita tetap percaya bahwa rencana-rencanaNya bagi kita adalah untuk kebaikan.

Baca selanjutnya...

Doa Menentukan Kemenangan

“Dan terjadilah, apabila Musa mengangkat tangannya, lebih kuatlah Israel, tetapi apabila ia menurunkan tangannya lebih kuatlah Amalek.” (Keluaran 17:11)

Ayat di atas merupakan ayat yang disampaikan ketika bangsa Israel berperang melawan orang-orang Amalek. Kemenangan bangsa Israel atas Amalek tidak ditentukan oleh strategi, perencanaan, kekuatan dan kemampuan pasukan Yosua dalam menghadapi pertempuran, namun oleh tangan Musa yang terangkat atau diturunkan.

Hal yang tampaknya “aneh” tetapi benar-benar terjadi dalam pertempuran itu. Ini juga merupakan gambaran pertempuran bagi anak-anak Tuhan di tengah-tengah dunia yang menghadapi krisis, himpitan persoalan hidup dan desakan-desakan ekonomi yang makin menggempur hidup kita. Ingat kita hidup juga dalam peperangan menghadapi hawa nafsu daging dan rayuan dunia yang menginginkan kita kalah dan hancur dalam hidup kita. Apa yang bisa kita pelajari dari ayat tersebut?

1. Doa memberi pengaruh
Jelas dikatakan dalam ayat tersebut jika Musa mengangkat tangan maka kuatlah Israel, jika menurunkan tangan maka kuatlah Amalek. Dalam ayat ini diberitahukan bahwa doa memberi pengaruh anda akan menjadi kuat atau anda akan menjadi lemah.
1 Tesalonika 5:17 “Tetaplah berdoa“ ayat yang diajarkan oleh Rasul Paulus kepada jemaat Tesalonika untuk tetap memiliki spirit/roh doa dalam diri mereka, sebab doa itu memberi pengaruh kepada yang berdoa. Doa kita akan memberi kekuatan dalam hidup kita untuk menghadapi segala lawan dan musuh dalam kehidupan kita.
Filipi 4:13 “Segala perkara dapat kutanggung didalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku,“ berdoa memberi dampak kekuatan bagi kita.

2. Doa menentukan Kemenangan
Ternyata dalam peristiwa diatas doa memberi pengaruh kemenangan dalam peperangan Yosua dengan Amalek. Demikian juga dalam kehidupan kita jika kita tidak berdoa maka kita sedang memberikan diri kita untuk dikalahkan oleh musuh-musuh kehidupan kita. Tangan Musa yang terangkat mempengaruhi kemenangan Yosua, jika tidak terangkat maka kekalahan terjadi atas Yosua. Jika kita ingin mengalami kemenangan demi kemenangan dalam persoalan hidup ini “berdoalah dan berdoalah”, maka kemenangan akan berpihak dalam hidup kita.
Roma 8:37 "Tetapi dalam semuanya itu kita lebih daripada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita" Tuhan Yesus telah memberi kemenangan tetapi itu akan terlaksana jika kita hidup dalam doa kepada Tuhan Yesus.

3. Doa di atas segalanya
Dalam pertempuran pasti di dalamnya ada strategi, perencanaan dan perhitungan-perhitungan yang dilakukan untuk mendapatkan gambaran kekuatan musuh dan menghitung kekuatan kita. Tetapi fakta nas di atas menunjukkan bahwa tanpa tangan terangkat maka strategi pertempuran apapun yang telah direncanakan tidak memberi dampak kemenangan. Tempatkan doa di atas strategi, perencanaan dalam menghadapi situasi dan pergumulan hidup, maka kemenangan yang kita cita-citakan akan terlaksana dalam hidup kita. Manusia boleh merancangkan tetapi keputusan Tuhan-lah yang terlaksana.

KESIMPULAN
Jadikan doa kepada Tuhan Yesus menempati prioritas yang utama dalam hidup kita, karena di dalam doalah ditentukan kemenangan atau kekalahan dalam pertempuran hidup kita untuk menghadapi segala persoalan hidup, keinginan dunia, keinginan daging, ekonomi bahkan melawan sakit penyakit. Oleh karenanya doa menjadi sangat penting untuk menentukan kemenangan, jika tidak berdoa maka kita sedang membawa diri kita untuk dikalahkan oleh musuh-musuh kita.

Sumber: TDmail
Baca selanjutnya...

7 Teladan Doa dari Yesus

Ketika kita berbicara tentang doa, maka Yesus sendiri adalah contoh terbaik. Tidak ada cara terbaik untuk belajar berdoa selain Tuhan menempatkan diriNya sendiri sebagai contoh dan mengajari kita. Ada 7 hal penting yang ditunjukkan Yesus dalam berdoa:

01. Yesus menunjukkan bahwa berdoa itu harus SERIUS
Bagi Yesus, berdoa jauh lebih penting dari udara yang Dia hirup, makanan yang Dia makan dan air yang Dia minum. Sama seperti pentingnya makanan untuk mendukung kehidupan fisik kita maka doa pun sama pentingnya untuk mendukung kehidupan rohani kita. Karena itu sangatlah penting apabila kehidupan berdoa kita dilakukan dengan serius melebihi apapun (1 Tesalonika 3:10)

02. Yesus menunjukkan bahwa berdoa itu harus RAHASIA
Berdoa adalah sebuah pertemuan dengan Tuhan. Berdoa bukanlah berbicara dengan seseorang melainkan dengan Bapa Sorgawi. Berdoa diperuntukkan hanya untuk Tuhan saja. Kalau kita melihat bahwa berdoa itu serius maka kita akan menjauh dan menghilangkan semua pengganggu yang bisa mengalihkan perhatian kita dalam berdoa (Matius 14:23)

03. Yesus menunjukkan bahwa berdoa itu harus SPESIFIK
Kita bisa lihat dalam Alkitab bahwa Yesus bisa berdoa sepanjang malam. Mengapa? Karena Yesus selalu berdoa dengan spesifik. HubunganNya dengan Bapa di Sorga dan misiNya serta dunia yang terhilang membuat Yesus tidak ingin kehilangan setiap hal itu di dalam doaNya. Setiap hal, setiap langkah, setiap orang dibawaNya dalam tangan Bapa untuk perhatian yang seharusnya. Hal ini menunjukkan betapa seriusnya Yesus berinvestasi dalam berdoa. (Yohanes 17)

04. Yesus menunjukkan bahwa berdoa itu harus MENYERAH
Begitu banyak orang berdoa dengan konsep yang salah. Masih ada doa yang dipanjatkan dengan harapan bahwa harapan dan permintaannya akan terkabul. Namun Yesus ingin menekankan bahwa berdoa harus disertai dengan penyerahan total pada kehendak Bapa di Sorga (Matius 6:9-10).

05. Yesus menunjukkan bahwa berdoa itu harusTULUS
Emosi yang kuat adalah bagian dari kehidupan Yesus, karena hubungannya dengan Bapa di Sorga adalah nyata dan kasihNya untuk manusia juga adalah nyata. Apabila kita terinspirasi untuk serupa dengan Yesus, maka kita pun harus menaruh perasaan yang dalam untuk setiap hal dan orangyang kita doakan (Ibrani 5:7).

06. Yesus menunjukkan bahwa berdoa itu harus YAKIN
Tuhan kita bukanlah Tuhan yang jauh, tak dapat digapai, tidak peduli ataupun terasing dari jangkauan kita. Tuhan kita adalah Tuhan yang selalu peduli dan mengetahui semua kebutuhan kita. Dia adalah Tuhan yangdapatdigapai dengan sejauh doa (Ibrani 4:16)

07. Yesus menunjukkan bahwa berdoa itu harus KONSISTEN
Tuhan kita adalah Tuhan yang selalu rindu untuk member). Kita harus menyadari betapa siapnya Tuhan untuk bagianNya, datang untuk menolong setiap kita. Jika kita mulai berpegang pada kebenaran dari bagianNya Tuhan, maka bagian kita adalah berdoa (Lukas 11:9).

Bagaimanakah kehidupan berdoa anda? Mulailah jalin hubungan yang benar dengan Tuhan melalui doa pribadi anda. (KIT)
Baca selanjutnya...

Berdoa dalam Roh

Berdoa dalam Roh disebutkan tiga kali dalam Kitab Suci. 1 Korintus 14:15 mengatakan, “Jadi, apakah yang harus kubuat? Aku akan berdoa dengan rohku, tetapi aku akan berdoa juga dengan akal budiku; aku akan menyanyi dan memuji dengan rohku, tetapi aku akan menyanyi dan memuji juga dengan akal budiku.”

Efesus 6:18 mengatakan, “Dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus.” Kemudian, Yudas 20 mengatakan, “Akan tetapi kamu, saudara-saudaraku yang kekasih, bangunlah dirimu sendiri di atas dasar imanmu yang paling suci dan berdoalah dalam Roh Kudus.” Jadi apa itu berdoa dalam Roh?

Kata Bahasa Yunani yang diterjemahkan “berdoa dalam” dapat memiliki beberapa makna. Kata itu dapat berarti “dengan cara,” “dengan pertolongan,” “dalam dunia,” dan “dalam hubungan dengan.” Berdoa dalam Roh bukan menunjuk pada kata-kata yang kita ucapkan. Sebaliknya, itu menunjuk pada bagaimana kita berdoa. Berdoa dalam Roh adalah berdoa sesuai dengan pimpinan Roh. Itu adalah berdoa untuk hal-hal yang Roh mau kita doakan. Roma 8:26 memberitahu kita, “Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan.”

Ada orang, berdasarkan 1 Korintus 14:15, menyamakan berdoa dalam Roh dengan berdoa dalam bahasa lidah. Berbicara mengenai karunia bahasa lidah, Paul menyebut “berdoa dengan rohku.” 1 Korintus 14:14 menyatakan bahwa ketika seseorang berdoa dalam bahasa lidah, dia tidak tahu apa yang dikatakannya, karena itu diucapkan dalam bahasa yang tidak diketahuinya. Lebih lagi, tidak seorangpun dapat memahami apa yang dikatakan, kecuali ada penerjemah (1 Korintus 14:27-28).

Dalam Efesus 6:18 Paulus memerintahkan kita untuk “dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus,” Bagaimana kita dapat berdoa dalam dengan permohonan yang tak putus-putusnya dan berdoa untuk segala orang kudus kalau tidak seorangpun, termasuk orang yang berdoa, yang mengerti apa yang diucapkan? Karena itu berdoa dengan Roh harus dipahami sebagai berdoa dalam kuasa Roh, dengan pimpinan Roh, dan menurut kehendak-Nya, bukan sebagai berdoa dalam bahasa lidah.

Sumber: Got Questions
Baca selanjutnya...

There was an error in this gadget

Komentar Terbaru

Artikel Terbaru

Cari di pendoa.blogspot.com...

About this blog

Blog ini dibuat dengan tujuan untuk membagikan berkat firman Tuhan yang diperoleh kepada saudara seiman yang membutuhkan agar dapat saling membangun sebagai satu tubuh dalam Kristus. Materi diambil dari berbagai sumber seperti buku, milis, buletin, traktat, dan berbagai media lain. Hak cipta setiap tulisan ada pada masing-masing penulis, pembuat atau penerbit seperti yang tercantum pada setiap akhir tulisan (kecuali yang tidak diketahui sumbernya). Isi blog ini bersifat non-denominasi dan tidak condong/tidak memihak kepada kelompok denominasi tertentu. Apabila di dalamnya terdapat materi/tulisan yang tidak cocok/ tidak sesuai dengan pendapat/pemahaman Anda, mohon tetaplah menghargai hal itu dan silakan memberi tanggapan secara sopan dan tidak menghakimi. God bless you...

  © 2008 Blogger template by Ourblogtemplates.com

Back to TOP