Showing posts with label syafaat. Show all posts
Showing posts with label syafaat. Show all posts

Doa Syafaat


Kepada-Mu kuangkat dosa syafaatku, khususnya bagi mereka yang menyakitiku, membuatku sedih, atau berbuat salah kepadaku, atau yang telah menimbulkan kerugian atau membuatku bersusah hati. Aku berdoa bagi mereka yang juga pernah kusakiti, kubuat susah hatinya, kubebani, dan tersinggung olehku, melalui kata-kata atau perbuatanku, dengan sengaja maupun tidak sengaja; kiranya Engkau mengampuni kami semua atas segala dosa kami dan perbuatan kami yang saling menyakiti.

Jauhkanlah kiranya dari hati kami, ya Tuhan, segala bentuk kecurigaan, kebencian, amarah, dan dendam, dan apapun yang merusak kerukunan dan mengurangi kasih di antara sesama.

Berbelas kasihlah, ya Tuhan, berbelas kasihlah kepada mereka yang merindukan belas kasih-Mu, limpahkan kasih karunia bagi mereka yang membutuhkan, dan bentuk kami sedemikian rupa, sehingga kami layak menikmati kasih karunia-Mu dan melangkah masuk ke dalam kehidupan kekal. Amin.

Sumber: Ideals Treasury of Prayer | Editor: Julie K. Hogan
Baca selanjutnya...

Tuhan Mencari Pemburu

Oleh: Indri Gautama

Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya! – 1 Korintus 9:24

Tuhan sangat tahu bahwa umat-Nya bersifat seperti anak kecil, karena itu Tuhan suka memberi upah untuk memotivasi kita mentaati Dia. Kita belajar mengenal Tuhan, belajar mentaati-Nya dan Tuhan menjanjikan upah di setiap ketaatan kita. Lama kelamaan hal ini akan membangun roh Anda, membangun karakter Anda dan membangun gaya hidup Anda yang berjalan dipimpin Roh.

Ketika Anda sudah berjalan dipimpin Roh, Anda akan mencapai titik di mana Anda berkata: “Diberi upah atau tidak, hal itu tidak mengganggu saya. Saya mengasihi Tuhan dan mau melayani Dia. Saya mau patuh kepada perintah-perintah-Nya karena Dia adalah Tuhan.” Saya berani mengatakan hal ini, karena saya sudah mengalaminya. Ingat Firman Tuhan yang berkata bahwa “Orang buta tidak bisa menuntun orang buta”, artinya Anda tidak bisa dituntun oleh seseorang menuju ke suatu tempat bila orang yang menuntun Anda belum pernah ke sana.

Bergaul Intim Dengan Tuhan
Tuhan kita suka diburu oleh umat-Nya. Karena Tuhan menginginkan hubungan pribadi yang intim dengan kita. Berdoa syafaat adalah mengejar Tuhan. Pada waktu Anda bersyafaat, Anda sedang memburu Allah dan janji-janji-Nya. Tuhan suka memberi upah pada orang yang tekun memburu-Nya. Tuhan memotivasi dengan upah supaya kita tekun menjalani Firman. Tetapi Tuhan lebih mementingkan keintiman ketika kita mengejar Dia dengan tekun daripada upah yang akan diberikan-Nya.

Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya! Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi. Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul. Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak. – 1 Korintus 9:24-27.

Berdoa Dengan Sifat Memburu
Murid-murid Yesus tidak pernah meminta Dia untuk mengajarkan mereka cara memperoleh berkat atau cara berkhotbah. Mereka meminta Yesus mengajarkan cara berdoa. Mereka menyadari bahwa kunci keberhasilan Yesus selama 33½ tahun memakai tubuh manusia berdosa di bumi adalah hubungan intim-Nya dengan Bapa di surga. Jadi mereka bertanya bagaimana hubungan itu?

Di Lukas 11:1-13 kita baca mengenai murid-murid Yesus yang bertanya tentang cara berdoa kepada-Nya.
1 Pada suatu kali Yesus sedang berdoa di salah satu tempat. Ketika Ia berhenti berdoa, berkatalah seorang dari murid-murid-Nya kepada-Nya: “Tuhan, ajarlah kami berdoa, sama seperti yang diajarkan Yohanes kepada murid-muridnya.”
2 Jawab Yesus kepada mereka: “Apabila kamu berdoa, katakanlah: Bapa, dikuduskanlah nama-Mu; datanglah Kerajaan-Mu.
3 Berikanlah kami setiap hari makanan kami yang secukupnya
4 dan ampunilah kami akan dosa kami, sebab kamipun mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan.”
5 Lalu kata-Nya kepada mereka: “Jika seorang di antara kamu pada tengah malam pergi ke rumah seorang sahabatnya dan berkata kepadanya: Saudara, pinjamkanlah kepadaku tiga roti,
6 sebab seorang sahabatku yang sedang berada dalam perjalanan singgah ke rumahku dan aku tidak mempunyai apa-apa untuk dihidangkan kepadanya;
7 masakan ia yang di dalam rumah itu akan menjawab: Jangan mengganggu aku, pintu sudah tertutup dan aku serta anak-anakku sudah tidur; aku tidak dapat bangun dan memberikannya kepada saudara.
8 Aku berkata kepadamu: Sekalipun ia tidak mau bangun dan memberikannya kepadanya karena orang itu adalah sahabatnya, namun karena sikapnya yang tidak malu itu, ia akan bangun juga dan memberikan kepadanya apa yang diperlukannya.
9 Oleh karena itu Aku berkata kepadamu: Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.
10 Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan.
11 Bapa manakah di antara kamu, jika anaknya minta ikan dari padanya, akan memberikan ular kepada anaknya itu ganti ikan?
12 Atau, jika ia minta telur, akan memberikan kepadanya kalajengking?
13 Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya.”

Ayat 8 menggambarkan sikap memburu Allah tanpa putus asa. Allah selalu meresponi pemburu. Anda harus memburu janji Allah seperti seseorang yang memburu harta kekayaan dunia. Kalau yang dijanjikan dunia bersifat sementara, maka kita harus lebih sungguh-sungguh lagi mengejar janji Allah yang bersifat kekal.

Dibutuhkan ketekunan dalam berdoa. Tuhan lebih mementingkan karakter kita daripada berkat yang akan diberikan-Nya kepada kita. Ini merupakan strategi Tuhan supaya kita mengejar (pursue) Dia. Kita tidak perlu memelintir tangan Tuhan supaya Dia melakukan apa yang Anda mau, karena Tuhan lebih rindu untuk menggenapi kehendak-Nya daripada Anda. Seorang olahragawan hanya dapat memperoleh mahkota sebagai juara, apabila ia bertanding menurut peraturan-peraturan olahraga. – 2 Timotius 2:5

Berdoa Dengan Tujuan
Saya belajar mengenai “The Secret Place” dari Leonard Ravenhill, seorang pendoa syafaat yang membangkitkan kebangunan rohani dan penulis buku “The Awakening”. Hanya orang yang masuk ke tempat rahasia-Nya akan tahu hati dan keinginan Tuhan. Setelah Anda mengetahui tempat rahasia Tuhan dan hati Tuhan, maka Anda akan dapat berdoa dengan tujuan dan target. Tuhan mau kita diam di dalam 'Secret Place'-Nya. Tuhan berjanji di Mazmur 25:14 bahwa TUHAN bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia, dan perjanjian-Nya diberitahukan-Nya kepada mereka.

Pendoa syafaat itu digambarkan oleh asisten Suzette Hattings seperti seseorang yang pergi berperang dengan busur berisi anak-anak panah di punggungnya. Anda tidak bisa berperang dengan mengambil lima anak panah dan membidiknya sekaligus. Pasti tidak ada yang kena sasaran. Anda harus memilih target yang Tuhan mau. Fokus pada target itu. Satu anak panah untuk satu sasaran.

Pada waktu Anda bersyafaat artinya Anda sedang mengejar Tuhan. Jika kita mengejar Tuhan maka sukses tidak bisa dielakkan, tetapi bila Anda mengabaikan Tuhan dalam segala upaya Anda, maka kegagalan pun tidak bisa dielakkan. “If you ignore God, failure is in evitable but if you pursuit God, success is inevitable.” Tuhan harus ada di depan kita.

Jika Anda mengalami kegagalan sebelumnya, sekarang saatnya Anda harus mengambil sikap positif. Pelajari letak kegagalan Anda dan mulai ambil langkah yang baru dengan sikap yang baru. karena Allah kita adalah Allah yang merestorasi. Selalu ada jalan jika Anda mencari Dia. Sampai kita benar-benar tekun mencari dan mengejar Dia, maka kehidupan kita tidak akan berubah. Kejar Tuhan, karena Tuhan suka memberi upah pada yang tekun memburu-Nya. *

Sumber: sahabatsurgawi.net
Foto: Paul Ruhter/www.billingsgazette.net

Baca selanjutnya...

Rahasia Kuasa Doa yang Membawa Anda ke 'Next Level'

Oleh: Indri Gautama

Saya akan membagikan 8 kunci hikmat yang harus Anda pegang mengenai pentingnya syafaat dalam kehidupan kita:

1. Kecantikan, talenta, kebajikan, kemurahan Tuhan tidak cukup untuk membuat tugas yang Tuhan berikan tercapai dalam hidup Anda.
Mari kita belajar dari Ester, perempuan tercantik di seantero 127 propinsi se-Asia Afrika. Dia mengetahui bahwa pada saat menemui suaminya–raja Ahasyweros–kecantikannya tidak bisa mengubah suaminya untuk membatalkan hukum peraturan yang berkata bahwa untuk menghadap raja tanpa raja mengangkat tongkatnya terlebih dahulu akan dihukum mati.

Ester mengundang seluruh isi istananya dan meminta Mordekhai sepupunya yang jauh lebih tua untuk berdoa syafaat dan berpuasa kepada Tuhan. Setelah mereka semuanya bersyafaat dan berpuasa, Tuhan turun tangan dan mengubah hati suaminya. Kemurahaan dari Allah dapat mengubah peraturan pemerintahan. "Pergilah, kumpulkanlah semua orang Yahudi yang terdapat di Susan dan berpuasalah untuk aku; janganlah makan dan janganlah minum tiga hari lamanya, baik waktu malam, baik waktu siang. Aku serta dayang-dayangkupun akan berpuasa demikian, dan kemudian aku akan masuk menghadap raja, sungguhpun berlawanan dengan undang-undang; kalau terpaksa aku mati, biarlah aku mati.” – Ester 4:16. Hanya orang yang tahu kuasa bersyafaat bisa berkata seperti itu.

2. Hanya doa syafaat akan menghasilkan sesuatu. Koneksi tidak menghasilkan apa-apa.
Ester tahu jika ia hanya mengandalkan statusnya sebagai ratu dari raja Ahasyweros, Ester tidak bisa mengubah keputusan raja. Hanya syafaat yang bisa menghasilkan apa yang Ester mau terjadi bagi bangsa Israel di negara itu dan bukan karena koneksi Ester sebagai isteri dari raja Ahasyweros. Hukum berkata siapapun juga yang berani menghadap raja tanpa dipanggil oleh raja akan dihukum mati walaupun isteri sendiri.

3. Doa syafaat bukanlah pengganti kerja keras dan produktifitas.
“Intercession is not a substitute for labour and productivity.” Jika Anda bersyafaat, bukan berarti Anda boleh tidak bekerja. Tidak! Anda harus tetap bekerja keras, tetapi syafaat membuat segala upaya Anda produktif.

4. Doa syafaat bukan undangan untuk menjadi sia-sia dan bermalas-malasan.
“Intercession is not an invitation to idleness nor sluggishness.” Pendoa syafaat bisa menggoncangkan sorga dan membuat pintu sorga terbuka.

5. Janganlah sekali-kali berdoa syafaat untuk sesuatu yang Anda ragukan.
“Never intercede for anything that you doubt.” Anda harus berdoa dengan percaya bahwa doa Anda akan dijawab karena Anda berdoa sesuai kehendak Allah. 1 Yohanes 5:14-15 – “Dan inilah keberanian percaya kita kepada-Nya, yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepada-Nya menurut kehendak-Nya. Dan jikalau kita tahu, bahwa Ia mengabulkan apa saja yang kita minta, maka kita juga tahu, bahwa kita telah memperoleh segala sesuatu yang telah kita minta kepada-Nya”.

6. Belajar menghormati pendoa syafaat yang sudah Allah tunjukkan dan hubungkan dengan Anda.
“Learn to respect the intercessors God has already link to you.” Di mana dua atau tiga orang sepakat berdoa, Yesus akan bekerja seperti dikatakan di Matius 18:19: “Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga”. Allah selalu terlibat dalam syafaat.

7. Beritahukan pokok-pokok doa kepada para pendoa syafaat Anda agar mereka memiliki arah dalam berdoa.
Anda harus menjaga supaya para pendoa syafaat yang berdoa untuk Anda selalu menerima informasi mengenai apa yang Tuhan mau kerjakan.
Filipi 4:6 – “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.”
Yakobus 5:14-15 – “Kalau ada seorang di antara kamu yang sakit, baiklah ia memanggil para penatua jemaat, supaya mereka mendoakan dia serta mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan. Dan doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang sakit itu dan Tuhan akan membangunkan dia; dan jika ia telah berbuat dosa, maka dosanya itu akan diampuni. Dan doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang sakit itu dan Tuhan akan membangunkan dia; dan jika ia telah berbuat dosa, maka dosanya itu akan diampuni”. Doa sepakat bersama-sama sangat besar kuasanya.

8. Sewaktu Anda mendoakan kehendak Allah, keyakinan dan iman mudah sekali untuk timbul.
Mengenai syafaat, dapat disimpulkan bahwa tugas dari Tuhan membutuhkan keterlibatan Tuhan sendiri. "Your assignment requires God." Pendoa syafaat kita dapat berdoa dengan luar biasa jika kita mengijinkan mereka terlibat dalam pokok-pokok doa kita sehingga kemurahan Allah akan mengalir dalam kehidupan kita. Jadi jika Anda benar-benar menghormati pendoa syafaat dan doa syafaat, Anda akan melihat hasil yang sangat dramatis yang belum pernah Anda alami sepanjang hidup. Seperti Ester mengalami hal yang sangat dramatis ketika satu bangsa, yaitu bangsa Israel diselamatkan; demikian juga Hana mengalami hal dramatis ketika melahirkan Samuel, seorang nabi terbesar yang paling ditakuti di seluruh Israel, seorang nabi yang membawa kebangunan rohani se-Israel.

Doa adalah nafas orang Kristen, sorga tidak bisa bekerja sampai doa dideklarasikan di udara, doa adalah jantung Tuhan, doa menggoncangkan kerajaan musuh. Doa membuat yang mustahil menjadi tidak mustahil, doa menggoncangkan kerajaan Allah. *

Sumber: sahabatsurgawi.net
Baca selanjutnya...

Doa Syafaat Penginjilan

Oleh: W. Jahnke

Dari Roma 3:10, 19 kita mengetahui bahwa semua orang berada di bawah kuasa dosa, dan seluruh dunia jatuh ke bawah hukuman Allah. Firman ini dengan terus terang mengatakan bahwa semua manusia di bawah hukuman Tuhan, karena mereka sudah berbuat dosa (Roma 3:23). Dosa memisahkan manusia dari Tuhan (Yesaya 59:2-3). Tetapi TUHAN tidak membiarkan hal ini, tetapi mengirim Anak-Nya yang membayar untuk orang durhaka dalam dunia ini dengan darah-Nya (Roma 3:24). Berita ini harus disampaikan kepada mereka yang belum mengerti rahasia keselamatan Tuhan, dan ini merupakan tanggung jawab kita.

Selain pergi kepada mereka, doa syafaat mempunyai satu peranan yang ikut menentukan dalam menjangkau mereka yang terpisah dari Tuhan. Tokoh-tokoh Alkitab memberikan contoh kepada kita bagaimana mereka mendoakan bangsa dan suku bangsa yang sudah menyeleweng dari jalan yang benar: Musa (Mzm. 106:23), Samuel (1Sam. 12:23; 15,11; Mzm. 99:6), Yesaya 64, jawaban doanya di Yes. 65:1, Daniel 9, Nehemia 1:4-11; 9:1-37. Yesus dan Rasul Paulus pun banyak berdoa syafaat. Doa syafaat buat suku-suku terabaikan merupakan satu keharusan buat seorang Kristen, tetapi bagaimana cara berdoa bersama buat penginjilan?


Vision
Perlu ada visi dan pengertian yang dalam tentang doa syafaat. Membaca banyak bagian dalam Alkitab tentang perlunya doa, akan membantu untuk menjadi seorang yang bisa terjun ke dalam doa syafaat. Apalagi dipelajari bagaimana dahsyatnya hukuman Allah atas mereka yang tidak selamat ("Ngeri benar, kalau jatuh ke dalam tangan Allah yang hidup" Ibrani 10:31 - dan banyak ayat lain di kitab-kitab nabi di Perjanjian Lama), kita akan dipenuhi dengan belas kasihan untuk mereka yang tidak mempunyai harapan. Firman Tuhan menjadi rangsangan untuk berdoa syafaat.


Janji-Janji Tuhan
"Bukalah mulutmu untuk orang yang bisu, untuk hak semua orang yang merana. Bukalah mulutmu, ambillah keputusan secara adil dan berikanlah kepada yang tertindas dan yang miskin hak mereka" (Amsal 31:8-9).

Suku-suku bangsa jauh dari Tuhan, tidak bisa membuka mulutnya dan menyebutkan nama Yesus, karena itu kita yang mengenal Yesus harus berseru buat mereka, supaya mereka dapat mendengar firman yang dapat menyelamatkan mereka dari berbagai ikatan. Mereka secara rohani merana dan tertindas, kita harus berseru kepada Tuhan, agar mereka diselamatkan (Roma 10:13).

Sebelum Yesus datang kembali, Injil Kerajaan harus diberitakan lebih dahulu kepada semua suku bangsa. Matius 24:14 menulis, "Dan Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya." Hanya lewat berita ini mereka mendapat kesempatan untuk bertobat. Kita mau memegahkan Yesus atas semua penduduk di antara suku-suku terabaikan di Indonesia. Yesus Kristus sudah mati untuk mereka semua, Ia sudah membayar dengan penuh, semua kuasa yang ada di antara mereka sudah dikalahkan oleh Yesus. Meskipun kita tidak mengetahui dengan rinci tentang sebagian suku-suku terabaikan, tetapi kalau kita meletakkan nama Tuhan atas mereka (seperti dahulu para imam di Bilangan 6:27), Tuhan akan mulai bekerja di tengah mereka, supaya mereka akan mengenal jalan keselamatan untuk mereka sendiri.


Langkah-langkah Praktis untuk Doa Syafaat
Perlu seorang pemimpin yang memiliki visi yang jelas untuk berdoa syafaat buat suku-suku terabaikan. Buatlah pokok doa tertulis, supaya waktu tidak habis untuk penjelasan yang terlalu panjang. Sangat menolong, kalau semua peserta doa mempunyai pokok doa di tangannya. Sambil berdoa mereka dapat membacanya.

Tempat: Bisa di kantor, di sekolah/kampus, di rumah antara tetangga, gedung gereja, di luar di bawah pohon dll.

Waktu: Bisa dipakai waktu luang di kantor atau sekolah/kampus, para tetangga bisa bertemu sebelum pergi ke tempat kerja, siang hari pada waktu istirahat, atau malam hari, bisa singkat saja atau dua tiga jam lamanya.

Apabila waktu doa agak lama, perlu bahan pokok doa lebih banyak. Jika tidak, para pendoa tidak tahu lagi mau mendoakan apa. Akan lebih baik kalau dibuat beberapa sesi, di mana setiap sesi dengan pokok doa tersendiri. Sesudah 15-20 menit, pemimpin mengangkat suaranya sebagai tanda sesi ini sudah selesai, sesudah itu ia mengumumkan bagian pokok doa berikutnya yang sudah ada di tangan para peserta. Dengan demikian, tidak perlu ada penjelasan panjang lebar, sehingga mereka dapat langsung berdoa lagi. Lewat cara ini akan lebih menghemat waktu!

Untuk doa dalam Persekutuan Doa (PD), kalau kelompok cukup besar, lebih baik dibuat beberapa kelompok kecil yang duduk berdekatan (2-4 orang) dan mendoakan pokok doa dengan setengah suara secara bergiliran. Dalam PD tidak perlu panjang lebar Pendalaman Alkitab (PA) dan nyanyian, cukup beberapa ayat Firman Tuhan sebagai janji dan rangsangan dalam doa syafaat. Biarlah doa merupakan bagian yang paling penting dan paling utama.

Supaya doa syafaat sesuai kebutuhan, jalinlah hubungan dengan para pekerja misi di garis depan, dengan demikian para pendoa mendengar apa yang perlu didoakan. Cari juga informasi dari koran dan majalah yang sering membawa berita dari daerah, suku bangsa, dan dari banyak negara.

Bertekunlah dalam doa. Dalam doa syafaat penginjilan, seringkali hasilnya tidak kelihatan dalam waktu singkat. Diperlukan ketekunan sampai benteng Iblis dibongkar (1Tes. 5:17; Rm. 12:12). Berdoalah secara terus-menerus sampai ada hasil yang nampak (Luk. 18:1-8), lihat Abraham (Rm. 4:18-21). Di ruang doa dan rumah sendiri pasanglah peta-peta dunia dan daerah-daerah, gambar-gambar dari suku yang sudah diadopsi dan pokok doa singkat, supaya kapan saja melihatnya kita diingatkan kembali.


Apa yang Menjadi Halangan untuk Terjun Dalam Doa Syafaat?
TIDAK ADA WAKTU. Gunakanlah waktu dengan bijaksana! Firman Tuhan di Efesus 5:16, "pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat." Kemudian di Mazmur, "Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana." (Mzm. 90:12).

Pengalaman saya, kalau mengundang orang Kristen untuk menghadiri persekutuan doa, seringkali mendapat jawaban, "Saya tidak ada waktu!" Sebenarnya jawaban ini tidak tepat, karena tidak ada orang yang tidak mempunyai waktu. Semua orang mendapat setiap hari 24 jam, tidak ada yang lebih dan juga tidak ada yang kurang daripada itu. Yang menjadi masalah, bagaimana 24 jam dibagi dengan sekian tugas dan tuntutan yang ada. Ada sekian jam di mana orang lain yang menentukan buat kita, dan ada sekian jam di mana kita bisa mengatur sendiri dengan bebas.

Yang menjadi pokok adalah prioritas yang diberikan pada sekian tugas dan tuntutan yang ada. Saya mempunyai kesan, doa syafaat sering mendapat prioritas yang paling bawah. Tanggapan orang seringkali adalah, "Saya mempunyai banyak tugas, ada acara lain dan sebagainya." Kalau semua yang lain sudah selesai dan masih ada waktu tertinggal, baru orang ini siap untuk mengambil bagian dalam doa syafaat. Tetapi biasanya tidak ada waktu yang tertinggal, dengan demikian, persekutuan doa, apalagi doa syafaat untuk penginjilan tidak ramai dikunjungi. Secara praktis ini berarti seolah-olah orang mau berkata, "Yang lain lebih penting dari pada doa." Meskipun secara langsung tidak berani mengungkapkan ini.

Kalau kita mengatakan, "Saya sibuk, karena itu tidak ada waktu tertinggal untuk berdoa," ini berarti kita lebih sibuk daripada yang Tuhan perintahkan kepada kita, dengan kata lain, kita melibatkan diri dengan tugas yang tidak dipercayakan-Nya kepada kita. Tidak mungkin Tuhan memperkerjakan seorang Kristen sedemikian rupa, supaya tidak ada lagi waktu untuk berdoa.

KURANG ADA INFORMASI. Kita tidak bisa mendoakan sesuatu yang kita tidak mengetahuinya. Paulus bisa berdoa untuk kota Kolose dan daerah lain yang ia tidak kenal, karena ia mendapat informasi dari situ (Kol. 1:9; 4:12), dan segera sesudah Paulus mendapat informasi ia langsung terjun dalam doa syafaat (Kol. 2:1-3). Pada masa kini sebenarnya tidak terlalu sulit untuk mendapat informasi, yang penting, apakah si pendoa mau mencari informasi. Berbagai lembaga misi yang ada merupakan salah satu sumber informasi buat penginjilan di antara suku-suku terabaikan. Dalam surat kabar, majalah umum, perpustakaan dan korespondensi juga terdapat berbagai informasi yang dapat menjadi pokok doa agar orang setia dalam berdoa syafaat.

KEROHANIAN PUDAR/SEGAN BERDOA. Ini merupakan masalah utama, kasih pertama sudah hilang. Perintah di Mazmur 105:4, "Carilah TUHAN dan kekuatan-Nya, carilah wajah-Nya selalu!" merupakan satu tugas yang menjadi berat, di mana kepedulian terhadap nasib kekal orang lain sudah hilang. Di sini "dekat dengan Tuhan" harus dipulihkan kembali lebih dahulu, baru seorang Kristen dapat terjun dalam pelayanan doa syafaat.

TIDAK DIPROGRAMKAN. Kalau waktu dan kesempatan untuk berdoa syafaat tidak dijadwalkan, maka tidak akan pernah ada waktu, karena telah terpakai untuk mengerjakan hal lain. Karena banyak orang Kristen hidup tanpa program, maka mereka juga jarang berdoa secara intensif; jam demi jam, hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan lewat begitu saja.

Seringkali dalam persekutuan yang dinamakan persekutuan doa, waktu dihabiskan dengan banyak cerita, nyanyian panjang yang melelahkan dll, sesudah itu hanya sedikit waktu tertinggal sehingga gairah orang untuk berdoa sudah hilang. Yang paling utama dalam persekutuan doa adalah doa syafaat. Kuasa Iblis mengganggu, karena ia tidak senang kalau orang Kristen berdoa syafaat. Kalau ada perasaan tidak mau berdoa, justru harus berdoa, karena perasaan ini merupakan serangan Iblis. Dalam nama Tuhan semua gangguan dan serangan Iblis harus dilawan, darah Yesus lebih kuat.


Bagaimana Respons Kita?
Mari kita menjadi sama dengan pengintai di Yesaya 62:6-7, "Di atas tembok-tembok, hai Yerusalem, telah Kutempatkan pengintai-pengintai. Sepanjang hari dan sepanjang malam mereka tidak akan pernah berdiam diri. Hai kamu yang harus mengingatkan TUHAN kepada Sion, janganlah kamu tinggal tenang, sampai Ia menegakkan Yerusalem dan sampai Ia membuatnya menjadi kemasyhuran di bumi." Yerusalem melambangkan jemaat yang beranggotakan dari semua suku di seluruh bumi. Tugas kita di Mazmur 105:1, "Bersyukurlah kepada TUHAN, serukanlah nama-Nya," dan Mazmur 96:3, "Ceritakanlah kemuliaan-Nya di antara bangsa- bangsa dan perbuatan-perbuatan yang ajaib di antara segala suku bangsa." Kita mendapat satu hak istimewa untuk melihat penggenapan dari Mazmur 72:19, "Kemuliaan-Nya memenuhi seluruh bumi. Amin, ya amin."

Sumber: Tidak diketahui
Baca selanjutnya...

Berdoa untuk Mereka yang Belum Terjangkau

Oleh: Karen Schmidt

Doa seperti apakah yang mempunyai dampak terbesar bagi Misi Pekabaran Injil? Di bawah ini adalah cuplikan dari tiga buah pendekatan tentang berdoa untuk mereka yang belum terjangkau.

Pemetaan Spiritual
Bagi George Otis Jr, pemetaan spiritual merupakan sebuah alat yang sangat penting untuk penginjilan. Otis adalah presiden dari kelompok Sentinel -- sebuah kelompok yang meluncurkan sebuah video dokumenter berjudul "Transformation I dan II" pada tahun 1999.

Video ini berdurasi 60 menit dan mendokumentasikan apa yang disebut dengan "Evangelistic Breakthrough" (Terobosan Penginjilan) di empat kota yang ada di tiga benua. Dobrakan ini terjadi sebagai respon dari doa-doa yang dipadukan dengan pemetaan spiritual.

Pemetaan spiritual adalah sebuah cara untuk memberi petunjuk kepada para pendoa syafaat tentang bagaimana menyelidiki apa yang disebut dengan "Spiritual Pathology" (Sumber/Analisa Masalah Spiritual) dalam komunitas mereka dan kemudian berdoa melawan roh setan/kuasa kegelapan yang mengikat komunitas tersebut. "Mengapa kegelapan rohani terus bercokol di sebuah komunitas tertentu?" tanya Otis yang juga adalah koordinator pembantu dari "United Prayer Track" untuk gerakan "AD 2000 and Beyond", dan juga telah mengarang sebuah buku berjudul "The Twilight Labyrinth".

Di buku ini dia menjelaskan penelitiannya tentang penyembahan berhala dan tekanan spiritual. Otis percaya, untuk berdoa bagi pertobatan dari orang-orang dunia itu dimulai dari pengidentifikasian penghalang-penghalang spiritual dan kejadian- kejadian yang menciptakan hal-hal tersebut. Setelah melakukan penelitian yang didasari atas pemetaan spiritual, para pendoa syafaat bagi komunitas tersebut diinstruksikan bagaimana berdoa agar Tuhan membebaskan komunitas tersebut dari penghalang-penghalang spiritual sehingga Roh Kudus bisa bebas bekerja.

Berdoa Seperti Teladan Paulus
Lain lagi bagi Michael Pocock, Ph.D. yang merupakan ketua Departemen Penginjilan Dunia dan Studi Antar Kebudayaan di Sekolah Teologia Dallas. Dia percaya jika kita hendak berdoa untuk misi penginjilan, kita harus mengikuti contoh teladan yang diberikan di Alkitab. Pocock mengambil contoh Paulus yang berdoa di medan penginjilan terdepan yaitu di tempat para penyembah berhala. "Lihatlah apa yang didoakannya, apa yang dia minta orang lain untuk berdoa bagi dia dan bagaimana hasilnya di surat-suratnya." Kata Pocock.

Menurut Pocock, adalah sesuatu hal yang benar jika kita meminta Allah untuk mengakhiri kuasa iblis yang menguasai orang-orang tidak percaya di dalam nama Yesus Kristus ketika kita sedang berdoa untuk pertobatan suatu komunitas tertentu.Tetapi Pocock tidak melihat adanya alasan untuk mengetahui lebih banyak tentang roh-roh jahat. "Saya tidak menemukan di Alkitab tentang pentingnya kita mengetahui lebih banyak tentang siapakah roh-roh jahat tersebut. Mungkin memang ada setan-setan yang berkuasa di daerah tertentu dan mereka bisa memperoleh kekuatan melalui kerjasama dari para penyembah berhala yang tinggal di daerah tersebut. Tetapi saya mempertanyakan apakah mengidentifikasikan setan-setan tertentu adalah perintah Allah di Alkitab."

Walaupun begitu, Pocock berpendapat bahwa berdoa di tempat yang merupakan pusat orang yang tidak percaya merupakan hal yang dibenarkan dan dia sangat mendukung filosofi dari apa yang disebut dengan 'Prayer Walk' (Doa Keliling -- Praying Onsite with Insight).

"Melakukan 'Prayer Walk' sungguh merupakan sesuatu yang berharga. Saya pikir, dengan kita berdoa di tempat di mana penginjilan sedang berlangsung akan memberikan perbedaan dibanding kita berdoa di tempat lain. Saya tidak perduli jika dibutuhkan biaya yang besar untuk mendatangi tempat tersebut hanya untuk berdoa di sana. Hal ini sangat berharga."

Pocock sebelumnya melayani di sebuah gereja injili terbesar di Caracas, Venezuela. Gereja di mana Pendeta Samuel Olsen memulai gerakan 'Prayer Walk'-nya. Ketika gereja sedang mencoba untuk menjangkau daerah yang baru, maka Olsen dan orang-orang di gereja tersebut pergi berjalan kaki (atau menggunakan mobil jika terlalu berbahaya) untuk melewati blok demi blok dan berdoa untuk orang-orang yang ada di blok tersebut.

Doa yang Tekun
"Saya meragukan kalau ada organisasi misi atau penginjilan yang didukung oleh doa yang cukup." kata Dr. Wesley Duewel, seorang veteran OMS International berumur 61 tahun yang sekarang menjabat sebagai Presiden Emeritus di organisasi tersebut. Pada awal karir misionarinya, Duewel melayani di India. Dia mengatakan, "Kita berada di daerah yang sulit secara spiritual. Semua ladang misi adalah tempat peperangan untuk Allah. Ketika saya dalam penerbangan ke Amerika untuk menghadiri beberapa rapat setelah 25 tahun melayani di India, saya bertanya-tanya mengapa kita tidak mendapatkan hasil yang besar seperti yang saya harapkan."

Selama dalam perjalanan di Amerika, Duewel merasa Tuhan mengarahkan dia untuk meminta 1000 orang berdoa selama 15 menit setiap hari untuk misi penginjilan di India. "Kita memperoleh orang-orang yang mau berdoa dan tahun itu Tuhan memberikan kita 1500 petobat baru. Kemudian ada dua sampai tiga gereja yang didirikan dalam setahun, diikuti dengan pendirian lima gereja lagi. Seiring dengan berjalannya waktu, kami melihat rata-rata 25 gereja yang dibangun setiap tahunnya. Hal ini perlu usaha yang keras dalam berdoa untuk bisa memulai dobrakan bagi Allah di ladang penginjilan. Duewel percaya kalau peperangan rohani adalah elemen yang selalu hadir di dalam pekerjaan misi. "Peperangan rohani itu lebih dari hanya sekadar melawan setan-setan dan manifestasinya yang kelihatan." katanya. "Peperangan ini berarti menghalau kegelapan dan mengambil inisitatif melalui doa. Hal ini membutuhkan 'a holy hunger' (kerinduan yang kudus) bagi mereka yang terhilang dan doa dengan sepenuh hati serta jiwa. Saya percaya kalau kita perlu berdoa dengan sungguh-sungguh kepada Allah untuk jiwa-jiwa tersebut.

Duewel percaya kalau orang Kristen seharusnya berdoa dengan menggunakan firman Allah untuk "membujuk" Allah. Namun lebih dari sekadar kata-kata dalam doa, dia menyadari bahwa pengabdian untuk berdoa dan semangat untuk menjangkau orang terhilang adalah kuncinya. "Saya tidak dapat lebih menekankan lagi akan pentingnya peran doa" kata Duewel. "Harapan kami satu-satunya untuk memperoleh tuaian ialah dengan tekun berdoa." *

Sumber: "World Pulse" 22 Juni 2001/e-JEMMi
Baca selanjutnya...

Puasa yang Berkenan

Oleh: Yenny Verodika

Doa syafaat diberi kekuatan tidak hanya oleh Roh Kudus tapi juga dengan puasa yang benar secara Alkitabiah. Doa yang dibarengi dengan puasa akan mempersiapkan gereja untuk menghadapi masa-masa yang semakin jahat. Berpuasa diartikan sebagai "menghindari dengan rela makanan dengan maksud memfokuskan diri dalam doa yang sungguh-sungguh."

Charles G. Finney berpuasa setiap minggu. Dia mungkin orang yang paling besar dan paling diurapi sebagai pemenang jiwa setelah Rasul Paulus. Finney akan menghabiskan dua atau tiga hari tambahan dalam berpuasa dan doa ketika ia merasa pekerjaan Allah melambat atau kurang kuasa Allah dalam pelayanannya.

Puasa meneguhkan kemutlakan kita bersandar pada Allah, menemukan Dia sebagai sumber pertahanan lebih dari makanan. Yesaya 58:6-12 menjelaskan tentang puasa yang Allah sukai dan terjawab. Puasa yang benar, tindakan rendah hati dan pengharapan dari Allah akan menyebabkan-Nya mencurahkan berkat-berkat-Nya. "Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk..."

Melepaskan Belenggu-belenggu Kejahatan
Kata "melepaskan" dalam bahasa Ibrani berarti "bergerak dengan gerakan melompat tiba-tiba, membuka pintu yang tertutup, membebaskan, melepaskan tawanan, membuka ikatan dari tali." Sasaran dari doa puasa adalah melepaskan apa yang si jahat telah ikat, melawan mereka yang mengejar tanpa aturan segala yang sia-sia dan palsu, dalam kemutlakan mengesampingkan Allah. Hidup yang jahat dalam kekacauan menyerah pada kerinduan-kerinduan si jahat, dalam tuntutan batin, tanpa damai sejahtera. Mereka terkurung dan terikat, setiap ikatan dijaga oleh kuasa-kuasa iblis yang khusus ditugaskan.

Kejahatan-kejahatan ini adalah sasaran doa puasa kita. Saat kebahagiaan diartikan sebagai kepuasan dari nafsu seksual. Homoseksualitas, tanpa moralitas, perzinahan, percabulan dan pornografi adalah sasaran yang meningkatkan dengan cepat serta menghancurkan setiap orang dalam genggamannya. Doa syafaat kita menghadang kejahatan ini, melepaskan ketergantungan seks, perzinahan dan homoseksualitas. Ketika masyarakat yang bingung menjadi tuli akan Allah, inilah waktunya bagi gereja untuk berdoa dengan berpuasa.

Membuka Beban-beban yang Berat dan Membiarkan yang Ditindas Pergi Dengan Bebas
Kata "penindas" menjelaskan pekerjaan musuh melawan pribadi atau kelompok. Penindas artinya "menekan dengan keras, mengganggu, menghancurkan emosi atau pikiran, menjadi hancur dan diperas ke dalam suatu tempat yang sempit."

Penekanan, ketidakstabilan emosi dan sakit mental dapat dikategorikan sebagai penindasan. Penindasan adalah pekerjaan si jahat dan kita menghancurkan otoritasnya atas jiwa-jiwa (Kis. 10:38). Ini hanya akan diselesaikan melalui doa puasa serta ketekunan.

Menghancurkan Setiap Kuk
Tujuan doa puasa kita adalah menghancurkan setiap ikatan si jahat atau kuk dari penindas. Kuk yang melambangkan perbudakan; adalah potongan kayu lengkung yang diletakkan diatas leher binatang-binatang atau budak-budak. Kuk dipasang pada tawanan yang telah tertangkap. Mereka dibelenggu, dipaksa melayani musuh-musuh mereka dalam cemoohan dan rasa malu. Kuk yang dipasang dalam posisinya dengan tali pengikat atau ikatan. Ada tali pengikat kulit di bawah leher dari tawanan. Lebih banyak ikatannya, lebih besar tali pengikatnya pada kuk. Beberapa tali pengikat terbuat dari besi dan tidak pernah dilepaskan. Doa dan puasa melepaskan kuk, menghancurkan tali ikatan dan membebaskan tawanan. Doa syafaat menyerang kuk-kuk atas kota dan bangsa. Doa dengan berpuasa adalah kuasa satu-satunya yang akan menghancurkan kuk-kuk abad 21 ini.

Kita, sebagai gereja Tuhan harus tanggap dengan kondisi komunitas/kota di mana kita tinggal. Kunci kelepasan dan kelegaan ada di tangan kita. Maukah Saudara menggunakannya untuk membebaskan yang tertawan? *

Sumber: "Warta Gereja Mawar Sharon"/22 Mei 2005
Baca selanjutnya...

Menjadi Pendoa Syafaat yang Baik

Oleh: Moses David Livingstone

Belajar dari Nehemia 1:1-11; 2:1-10, kita menemukan empat karakteristik pendoa syafaat yang baik, yaitu:

1. Seorang pendoa syafaat yang baik harus pro-aktif dalam mencari informasi doa yang jelas.
Informasi doa yang jelas itu penting sekali dalam berdoa syafaat. Hal ini penting agar kita dapat berdoa dengan baik, sungguh-sungguh dan sesuai dengan fakta. Saya pernah beberapa kali mengalami 'kecelakaan' dalam memimpin doa. Pernah suatu kali saya memimpin doa sebelum acara latihan koor dimulai. Saya berdoa untuk setiap kami yang menyanyi, untuk pianis dan juga untuk konduktor. Setelah selesai (amin), semua protes karena orang yang saya kira konduktor, ternyata bukan. Seharusnya orang lain yang jadi konduktor saat itu. Yah... saya pikir bagaimana untuk meralatnya? Apa saya harus berdoa lagi untuk meralat doa saya yang keliru, ya?

Hal itu memang hal kecil saja. Tetapi hal tersebut juga sangat mempengaruhi kesungguhan kita dalam berdoa. Jika informasi itu tidak jelas atau bahkan salah, apakah kita akan mengatakan kepada Tuhan, padahal itu bukan hal yang benar? Bagaimana halnya sikap Nehemia dalam hal ini? Nehemia adalah seorang Yahudi yang hidup di pembuangan. Pada tahun kedua puluh pemerintahan Artahsasta I (445 SM) Nehemia ini menduduki jabatan sebagai pejabat minuman raja.

Jabatan ini adalah jabatan yang tinggi, dan orang yang menduduki jabatan ini merupakan orang yang sangat dipercaya oleh raja. Sebab tugas mereka adalah mencoba minuman yang akan diminum oleh raja, apakah minuman itu beracun atau tidak. Jadi jabatan itu merupakan jabatan yang menentukan hidup matinya seorang raja. Dikisahkan dalam pasal 1:1-2, pada bulan Kislew tahun kedua puluh pemerintahan Artahsasta, salah seorang saudaranya, Hanani, datang dari Yehuda bersama-sama dengan beberapa orang saudara. Perhatikan di ayat 2, "... Aku menanyakan keadaan orang-orang Yahudi yang terluput, yang terhindar dari penawanan dan tentang Yerusalem." Saudara, Nehemia sendiri mengambil inisiatif untuk bertanya. Ini bukan pertanyaan basa-basi. Jika kita bandingkan dengan reaksi Nehemia dan tindak lanjutnya setelah mengetahui hal ini (ay. 4), maka saya dapat simpulkan bahwa pertanyaan Nehemia bukan pertanyaan basa-basi, tetapi dia memang rindu akan informasi yang benar tentang keadaan bangsanya untuk kemudian mendoakan.

Ia tidak menunggu informasi itu diberikan. Tetapi dia sendiri bersikap pro-aktif mencari informasi yang jelas itu. Memang ia tidak pergi sendiri ke Yerusalem, tetapi kepekaannya dapat melihat peluang akan sumber informasi yang akurat. Memperlihatkan bahwa dia begitu proaktif dan memandang perlunya informasi yang akurat untuk didoakan.

Dalam kehidupan kita, jika kita mau menjadi pendoa syafaat yang baik, kita harus pro-aktif dalam mencari dan mendapatkan informasi doa yang jelas. Jangan sekadar berdoa dengan informasi yang tidak jelas. Kita perlu kejelasan informasi tersebut. Jika kita berdoa untuk pergumulan seseorang, alangkah baiknya jika kita tahu tentang pergumulan orang itu. Dan ini haruslah menjadi kebiasaan kita, yaitu aktif untuk mencari informasi doa yang jelas. Jangan tunggu orang datang minta didoakan, tetapi cari informasi tentang pergumulan orang lain, apa yang dapat kita doakan baginya. Jika kita mau proaktif mencari informasi doa yang jelas, maka kita akan menjadi seorang pendoa syafaat yang baik. Sebab hal ini menunjukkan kesungguhan kita untuk berdoa.


2. Seorang pendoa syafaat yang baik memiliki empati terhadap orang yang didoakan.
Dalam ayat 3, Nehemia mendapatkan informasi dari saudara-saudaranya tentang keadaan orang-orang Yahudi yang lolos dari penawanan. Keadaan mereka sangat buruk, tercela. Mereka dalam kesukaran besar. Tembok Yerusalem telah terbongkar dan pintu-pintu gerbangnya telah terbakar. Reaksi Nehemia setelah mendengar informasi itu (ay. 4): ia sedih sekali, ia menangis, ia berkabung selama beberapa hari, ia berpuasa dan berdoa.

Sungguh suatu reaksi yang sangat dramatis. Nehemia memiliki jabatan yang tinggi, namun ia peduli dan berempati kepada saudara-saudara sebangsanya dan terhadap bangsanya. Bukankah lebih enak jika ia tidak ikut campur dengan keadaan bangsanya. Bukankah lebih baik baginya jika ia hidup tenang dengan jabatannya saat itu? Untuk apa dia bersusah payah memikirkan bangsanya (bahkan jika kita lihat dalam pasal berikutnya, nyawanya sendiri harus dipertaruhkan). Tetapi Saudara, rasa ikut memiliki, ikut merasakan inilah yang mendorong Nehemia untuk berdoa dengan bersungguh-sungguh bagi bangsanya.

Ingatkah peristiwa Yesus memberi makan lima ribu orang? Yesus melihat orang banyak yang terus mengikuti Dia, meskipun Yesus pergi lewat danau. Mereka mengambil jalan darat. Melihat hal itu, Dia tergerak oleh belas kasihan. Yesus merasakan kerinduan mereka dan bahkan kelelahan dan kelaparan mereka. Dan hal ini, pada gilirannya mendorong Yesus untuk memberi mereka makan.

Rasa empati, rasa ikut memiliki, ikut merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain dapat mendorong seseorang untuk bertindak dengan kesungguhan dan ketulusan hati. Bagaimana halnya dengan kita? Apakah kita dapat ikut merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain dalam berbagai permasalahan mereka? Mungkin mereka mengalami dukacita, dapatkah kita menyelami perasaan mereka? Mungkin mereka mengalami krisis dalam kehidupan rumah tangganya, dapatkan kita merasakan pergumulan mereka? Mungkin juga mereka sedang bergumul keras akan apa yang bisa mereka makan besok pagi, dapatkah kita merasakan pergumulan mereka? Masih ada begitu banyak macam pergumulan yang lain, Saudara, dapatkah kita ikut merasakannya? Mungkin ada saudara yang berkata, "Ah... yang penting kan saya sudah berdoa bagi mereka. Bukankah itu cukup?" Pertanyaan balik, "Apakah Anda dapat berdoa dengan kesungguhan hati jika Anda tidak merasakan apa sebenarnya yang dirasakan oleh orang yang kita doakan?"

Marilah kita belajar untuk berempati terhadap orang yang kita doakan. Dengan demikian kita dapat berdoa dengan sungguh-sungguh untuk mereka dan kita menjadi seorang pendoa syafaat yang baik.


3. Seorang pendoa syafaat yang baik memiliki konsep doa yang benar.
Mulai dari ayat 5-11 dicatat tentang doa Nehemia bagi pemulihan Israel. Jika kita melihat doa Nehemia tersebut kita melihat bahwa Nehemia memiliki konsep yang benar tentang doa. Rangkaian kata-kata doa Nehemia diawali dengan pujian bagi Tuhan (ay. 5). Setelah itu dilanjutkan dengan permohonan agar Tuhan mendengar doanya (ay. 6a).

Kemudian Nehemia mengaku dosa di hadapan Tuhan, dosa nenek moyangnya, dosa bangsanya dan dosanya sendiri (ay. 6b-7). Saudara, pengakuan dosa merupakan hal yang sangat penting dalam doa kita. Tuhan Yesus dalam doa Bapa Kami yang diajarkannya juga memasukkan hal pengakuan dosa dan pengampunan dosa. Bandingkan juga dengan Yakobus 5:16, "... hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan sangat besar kuasanya". Apakah di muka bumi ada orang benar? Tidak ada. Tetapi kita dibenarkan jika kita mengaku dosa kita (1 Yohanes 1:9).

Dalam doanya Nehemia memegang janji Tuhan (ay. 8-10). Segala permohonannya dilandaskan atas janji Tuhan dan dia tidak meminta yang berlebihan dari yang dijanjikan Tuhan. Di akhir doanya, Nehemia sekali lagi dengan segala kerendahan hatinya memohon kepada Tuhan untuk mengabulkan doanya. Namun dibalik kerendahan hatinya itu ada suatu keberanian untuk meminta karena dia terbuka di hadapan Tuhan (ay. 11).

Selain rangkaian doa Nehemia, hal lain yang memperlihatkan bahwa Nehemia memiliki konsep doa yang benar adalah bahwa dia berdoa dengan tak berkeputusan (ay. 4). Dan hal ini nampak pula pada pasal 2:1. Dicatat, "... Pada bulan Nisan tahun keduapuluh pemerintahan Artahsasta ..." Jika ayat ini dibandingkan dengan pasal 1:1 "... pada bulan Kislew ..." maka selang waktu yang ada dari informasi yang didapatkan (berarti juga waktu Nehemia berdoa) hingga peristiwa yang dicatat di pasal 2:1-8 yaitu sekitar 4 bulan. Dan saya yakin dalam waktu empat bulan itu Nehemia terus-menerus berdoa bagi bangsanya.

Bagaimana halnya dengan kita? Kita seringkali berdoa kepada Tuhan dengan konsep doa yang tidak benar. Kita seringkali datang pada Tuhan dengan membawa 'shopping list' yang panjang. Kemudian kita sodorkan pada Tuhan untuk dikabulkan. Kita seringkali seolah-olah menodong Tuhan, memaksa Tuhan untuk mengabulkan permintaan kita. Ini berarti bukan kehendak Tuhan yang jadi, melainkan kehendak kita yang jadi. Kita seringkali datang kepada Tuhan dengan dosa atau kesalahan yang tidak atau belum kita bereskan. Saudara, marilah pada hari ini kita belajar dari Nehemia untuk memiliki konsep doa yang benar.


4. Seorang pendoa syafaat yang baik siap untuk menjadi jawaban atas doanya sendiri jika Tuhan menghendaki.
Nehemia sungguh luar biasa. Dia tidak hanya berdoa bagi bangsanya, tetapi dia sendiri siap dipakai Tuhan untuk menjadi jawaban untuk doanya sendiri. Jika kita perhatikan pasal 2:2-10, kita melihat tindakan Nehemia bagi pemulihan bangsanya. Diawali ketika suatu hari Nehemia sedang murung pada saat bertugas dan ini dilihat oleh raja Artahsasta. dengan ketakutan Nehemia mengatakan apa alasan dia murung yaitu karena keadaan bangsanya. Sungguh tidak terduga jika kemudian Artahsasta bertanya "Jadi apa yang kau inginkan?"

Yang dilakukan oleh Nehemia saat itu adalah berdoa. Dalam doanya Nehemia mendapatkan satu keyakinan bahwa dia dipakai oleh Tuhan sebagai jawaban atas doanya sendiri (bandingkan juga dengan ayat 2:12b). Tuhan sendiri yang menaruh beban itu dalam hati Nehemia. Karena itu kemudian dia menjawab pertanyaan Artahsasta dengan mengajukan permintaan yang boleh dibilang sangat besar nilainya. Permintaan itu kecil kemungkinannya untuk dikabulkan. Namun ternyata permintaannya dikabulkan oleh Artahsasta karena tangan Allah yang murah menyertainya. Dan Nehemia sendiri bertindak mengatur restorasi Yerusalem...

Ini berarti setiap kita berdoa bagi orang lain, bagi kesulitan orang lain, kita harus siap menjadi jawaban atas doa kita sendiri manakala Tuhan menghendaki. Mungkin kita berdoa bagi penginjilan di pedalaman. Kita harus siap jika Tuhan menghendaki kita sendiri untuk pergi. Jika kita berdoa untuk orang yang kekurangan, kita harus siap jika Tuhan menghendaki kita sendiri sebagai saluran berkat bagi orang tersebut.

Menjadi pendoa syafaat merupakan satu bentuk pelayanan yang sangat penting dan besar artinya. Namun demikian, untuk menjadi pendoa syafaat yang baik bukan hal mudah. Hari ini kita telah belajar dari Nehemia untuk menjadi pendoa syafaat yang baik. Marilah kita ikuti teladan Nehemia. Kita dapat menjadi seperti Nehemia. Kita akan memiliki suatu relasi rohani yang indah dengan Tuhan dan sesama kita. *

Sumber: "Situs 5Roti2Ikan"/e-JEMMi 02/2003
Baca selanjutnya...

Komentar Terbaru

Artikel Terbaru

Powered By Blogger
Cari di pendoa.blogspot.com...

About this blog

Blog ini dibuat dengan tujuan untuk membagikan berkat firman Tuhan yang diperoleh kepada saudara seiman yang membutuhkan agar dapat saling membangun sebagai satu tubuh dalam Kristus. Materi diambil dari berbagai sumber seperti buku, milis, buletin, traktat, dan berbagai media lain. Hak cipta setiap tulisan ada pada masing-masing penulis, pembuat atau penerbit seperti yang tercantum pada setiap akhir tulisan (kecuali yang tidak diketahui sumbernya). Isi blog ini bersifat non-denominasi dan tidak condong/tidak memihak kepada kelompok denominasi tertentu. Apabila di dalamnya terdapat materi/tulisan yang tidak cocok/ tidak sesuai dengan pendapat/pemahaman Anda, mohon tetaplah menghargai hal itu dan silakan memberi tanggapan secara sopan dan tidak menghakimi. God bless you...

  © 2008 Blogger template by Ourblogtemplates.com

Back to TOP