Suami Isteri: Perlukah Berdoa Bersama?

Oleh: Wina

Rumah tangga adalah unit terkecil dari sebuah lembaga agama. Suasana akrab dengan sesama tampak dalam lingkup keluarga. Suami isteri saling memahami, anak-anak memahami orangtua mereka, begitu pula sebaliknya. Jadi, dalam doa, mereka mengerti betul apa yang mereka kehendaki bersama. Berbeda dengan kebaktian di gereja. Di gereja, semua orang datang berkumpul dan mendoakan hal yang sama namun tidak selamanya mengerti betul keperluan masing-masing. Tetapi, di dalam keluarga, ayah mendoakan anak-anak mereka, anak-anak mendoakan orangtua mereka, ibu mendoakan kesejahteraan semua keluarga.

Masing-masing individu di dalam keluarga mengerti betul apa yang mereka doakan. Begitu yakin atas permintaan mereka itu, karena suasana akrab ada di dalam mereka, tanpa rasa curiga. Karena saling mempedulikan, mereka berada di dalam persatuan dan kesatuan. Permintaan mereka jelas dan Tuhan yang mereka sembah dan yakini ada dan mendengar doa mereka. Sebagaimana mereka melihat kenyataan bahwa orangtua, bapak dan ibu mereka ada di tengah-tengah mereka, demikian pulalah mereka memastikan bahwa Bapa yang di sorga itu pun mendengar doa mereka dengan kapasitas dan kenyataan yang tidak meragukan.

Kapan Berdoa Bersama?
Pada waktu anak-anak bangun, dapat diadakan ibadah singkat, mendengarkan firman Tuhan sejenak sebelum melakukan kegiatan sehari-hari. Anak-anak dapat berpartisipasi dalam doa, mendoakan keperluan keluarga dan diri mereka, didukung anggota keluarga lainnya.

Pada waktu makan bersama, pemimpin doa dapat bergantian dan semuanya "mengaminkan" bahwa Tuhan yang memberikan makanan mereka sehari-hari. Mereka yakin bahwa Tuhan juga akan memberikan makanan bagi mereka untuk hari esok.

Ketika hendak tidur, anak-anak dan orangtua berdoa bersama, bersyukur kepada Tuhan karena mereka telah menjalani hari yang nyaman dan penuh dengan perjuangan, dengan baik. Oleh karena itu, mereka bersyukur kepada Tuhan bahwa waktu tidur, istirahat dengan tenang, diberikan Tuhan kepada mereka serta memohon perlindungan Tuhan, dalam suasana tidur yang tenang ini, agar Tuhan menjaga mereka sepenuhnya. Mereka sama sekali tidak berdaya dalam suasana tidur itu sehingga hanya dengan penjagaan Tuhan saja mereka dapat bangun keesokan harinya.

Begitu pun ketika mereka bangun, mereka berdoa dan bersyukur kepada Tuhan karena masih diberi kesempatan untuk menjalani hidup hari ini. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi esok hari. Hanya Tuhan yang memiliki hari esok, dan hari esok itu diberikan Tuhan kepada umat manusia sesuai dengan kehendak-Nya. Setiap hari selalu baru. Baru bagi umat manusia. Doa-doa yang baru pun disampaikan kepada Tuhan.

Saat Teduh untuk Diri Sendiri
Kalau anggota keluarga yang ada masih terlalu kecil dan individualistis, biasanya ibulah menjadi pihak paling sibuk. Namun demikian, seorang ibu hendaknya mengambil waktu yang tenang untuk dirinya sendiri, untuk berjumpa dengan Tuhannya. Banyak kecemasan yang dirasakan seorang ibu yang tidak pernah dirasakan atau dicemaskan sang suami. Derita anak adalah derita ibu, kata ungkapan. "Sorga berada di bawah telapak kaki ibu," kata orang lagi. Jadi derita dan surga ada dan bertumpu pada perilaku kehidupan seorang ibu.

Oleh karena itu, sudah selayaknya seorang ibu menyediakan waktu berdoa seorang diri. Manakala semua anggota keluarga sudah tidur dengan tenang, ia perlu bangun dan berdoa, mengutarakan kepada Tuhan semua masalah yang dialami, dihadapi dan digelisahkannya. Saat itu digunakan untuk mencurahkan segenap keluh kesah kepada-Nya, pelindung yang Maha Tangguh, Maha Kuasa dan tidak pernah meninggalkan umat-Nya. Yesus Kristus akan mendengarkan doa seorang ibu karena memang Ia pun pernah merasakan kasih sayang seorang ibu ketika Ia berada di dunia ini sebagai Anak Manusia, yang lahir di tengah-tengah keluarga Yusuf dan Maria. Berdoalah kepada-Nya, hai kaum ibu, Ia akan mendengarkan keluh kesahmu. Tidak ada kesukaran dunia ini yang tidak pernah dirasakan-Nya, tidak ada derita manusia seberat derita yang pernah ditanggung-Nya. Dalam usia yang singkat, sebagai manusia, Ia telah menanggung penderitaan umat manusia sampai kepada kematian sekalipun.

Utarakanlah persoalanmu kepada-Nya, maka Ia akan memberikan kekuatan dan jalan keluar yang baik kepadamu. Tidak ada masalah yang tidak dapat dipecahkan-Nya. Tidak ada kesulitan besar di dunia ini yang tidak dapat diselesaikan-Nya. Ingatlah, bahwa Dialah pencipta, penyedia segala keperluan hidup umat manusia dan segala makhluk yang hidup di bawah langit bumi ini.

Tiada gunung kesulitan yang tidak dapat didaki bersama Yesus Kristus. Tidak ada lembah derita yang begitu dalam yang tidak dapat dijangkau Yesus Kristus. Tidak ada laut perjuangan hidup yang paling kuat gelombangnya yang tidak dapat diteduhkan oleh Kristus. Tidak ada penyakit yang begitu parah yang tidak dapat disembuhkan oleh Kristus. Tidak ada lembah maut yang begitu kelam yang tidak dapat ditaklukkan oleh Kristus. Tiada tangisan yang begitu sedih yang tidak dapat dihiburkan oleh Kristus. Tengadahkan wajahmu ke atas, ulurkan tanganmu dua-duanya kepada-Nya, maka Ia akan melihatmu dan mengulurkan tangan pertolongan untukmu. Gunakanlah saat teduh itu dengan hati sungguh-sungguh.

Ketika Jarak Memisahkan Suami dan Isteri
Kehidupan kota yang begitu rumit dan dinamis membuat suami dan isteri bekerja di tempat yang berbeda dan jauh jaraknya. Karena "jarak" ini banyak godaan yang dihadapi kedua belah pihak. Iblis mencari celah-celah untuk merenggangkan hubungan suami dan isteri karena jarak ini.

Mungkin, Hawa cepat jatuh ke dalam godaan ular itu karena ia berjauhan dari Adam. Dalam jarak yang berjauhan ini, perhatian kadang-kadang terpusat pada sesuatu yang menggoda itu saja, dan tidak menyadari bahaya yang mengancam. Bahaya itu muncul bukan secara tiba-tiba. Datangnya sangat pelahan dan halus, nyaris tidak terasa dan tahu-tahu kita sudah terperangkap di dalamnya. Waktu dan tempat sangat memegang peranan penting dalam "penggodaan." Semakin jauh Anda dari pusat kendali, semakin berkurang tenaga pengendalian Anda.

Doa adalah komunikasi dengan Tuhan. Seringlah berdoa di mana pun Anda berada. Seorang isteri yang jauh dari suaminya harus menyiapkan diri untuk lebih banyak berdoa, baik untuk suaminya dan juga untuk dirinya sendiri. Doa akan meneguhkan iman, memberikan ketentraman kepada jiwa dan mendatangkan keteduhan bagi batin dan perasaan. Juga bagi sang suami, banyak godaan di tempat pekerjaan yang dapat membuat perhatiannya untuk sementara jauh dari kepentingan keluarga.

Kepeduliannya terhadap keluarga hendaknya diungkapkan dalam doa dan Tuhan akan mengatasi jarak itu serta menanamkan "rasa rindu" di dalam diri masing-masing anggota keluarga, untuk berkumpul bersama-sama. Tuhan itu Maha Tahu dan Maha Kuasa. Ia mengetahui kekurangan-kekurangan umat-Nya dan mampu memberi kekuatan kepada mereka apabila mereka memohon pertolongan kepada-Nya. Ia akan menjawab pada waktu yang tepat.

Suami yang jarang berdoa, lebih dekat kepada bencana yang dapat muncul sewaktu-waktu. Isteri yang lupa berdoa, berarti membiarkan pencobaan mengancam rumah tangganya dan kemungkinan akan lebih banyak menuai ketidakbahagiaan.

Doa yang Efektif
Bagaimana cara berdoa yang efektif? Tanyakan kepada diri kita sendiri. Di dalam lingkungan keluarga, sebagaimana yang telah kita bicarakan pada awal tulisan ini, doa yang efektif itu adalah doa yang disampaikan dengan hati yang tulus, pada saat yang tepat dan kemudian menunggu jawaban dengan sabar. Doa menjadi efektif kalau kita membiarkan Tuhan menyelesaikan persoalan bagi kita. Persoalan kita diselesaikan-Nya? Tanya kita lagi. Ya, dengan semboyan "Ora et Labora." Bekerja dan berdoa.

Di dalam keluarga, doa yang efektif ialah apabila masing-masing pasangan memperlakukan pasangannya dengan penuh pertimbangan, penguasaan diri dan merindukan kesejahteraan pasangannya. Artinya, saling mendoakan dengan penuh kesungguhan. Tanpa pamrih.

Doa sang suami akan menjadi efektif apabila ia melakukan hal yang berikut ini:

"Demikianlah juga kamu," kata Petrus dalam 1 Petrus 3:7, "hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah." Petrus mengungkapkan hubungan suami-istri di sini dengan pengakuan bahwa pihak istri itu adalah "kaum yang lemah" atau memang dalam posisi yang lemah menurut pendapat orang pada zaman itu. Kalau mereka memang lemah maka adalah menjadi kewajiban yang kuat untuk menolongnya.

Banyak perempuan yang memperjuangkan hak-hak asasi kaumnya, karena diperlakukan tidak sebagaimana wajarnya sebagai sesama manusia, juga di dalam keluarga. Sang suami, yang merasa dirinya kuat, bantulah isterimu yang lemah. Maka doamu akan dijawab oleh Tuhan. Mengapa suami berdoa kepada Tuhan? Ya, setidaknya karena ia merasa lemah di hadapan Tuhan untuk menghadapi perjuangan hidup. Kalau Tuhan menolongnya, pertolongan berikutnya wajarlah diberikannya kepada isterinya. Dengan demikian, doanya akan dijawab.

Lebih lanjut Petrus mengatakan di dalam ayat yang sama: "Hormati mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya 'doamu jangan terhalang'." (tulisan tambahan dengan tanda petik dari penulis). Jelas sekali di sini diberikan jawaban bagaimana doa yang efektif itu. "Hormati mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia," artinya, ada kesamaan derajat antara suami dan istri. Doa yang tidak disertai dengan rasa hormat dan kasih sayang tidak akan dijawab oleh Tuhan. Hal itu dikatakan dengan jelas di sini. Hal itu juga berarti, bahwa barangsiapa yang menyiksa isterinya, doanya tidak akan dijawab. Mari kita camkan itu. Sebagai ahli waris kasih karunia, yakni Kerajaan Allah, istri harus diperlakukan dengan baik dan ramah, sederajat, karena sama-sama calon warga sorga.

Sikap dalam doa, hendaknya diungkapkan dengan rasa hormat dan ketenangan yang meneduhkan jiwa dan lingkungan. Kalau kita meminta kepada Tuhan (berdoa), perlukah kita berteriak-teriak seolah-olah Ia kurang peka terhadap permintaan kita?

Coba kita perhatikan apa yang dikatakan oleh Rasul Paulus dalam Roma 8:2, "Demikianlah juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan."

Sang rasul mengatakan di sini bahwa kita ini lemah, dan selalu memerlukan kekuatan dari Tuhan, bahkan, kadang-kadang seruan kita tidak terucapkan karena tekanan yang begitu dalam menekan sanubari kita. Saat hening, saat teduh, saat yang khusyuk, sangat kita perlukan untuk berkomunikasi dengan Tuhan.

Suami isteri dan anak-anak dalam keluarga yang berdoa bersama-sama akan tetap dalam ketentraman dan kebahagiaan bersama-sama. Tuhan akan mendengarkan doa mereka. *

Sumber: Kalam Hidup, Juni 2005/Wina/Yayasan Kalam Hidup, Bandung/e-KONSEL

0 comments:

Komentar Terbaru

Artikel Terbaru

Powered By Blogger
Cari di pendoa.blogspot.com...

About this blog

Blog ini dibuat dengan tujuan untuk membagikan berkat firman Tuhan yang diperoleh kepada saudara seiman yang membutuhkan agar dapat saling membangun sebagai satu tubuh dalam Kristus. Materi diambil dari berbagai sumber seperti buku, milis, buletin, traktat, dan berbagai media lain. Hak cipta setiap tulisan ada pada masing-masing penulis, pembuat atau penerbit seperti yang tercantum pada setiap akhir tulisan (kecuali yang tidak diketahui sumbernya). Isi blog ini bersifat non-denominasi dan tidak condong/tidak memihak kepada kelompok denominasi tertentu. Apabila di dalamnya terdapat materi/tulisan yang tidak cocok/ tidak sesuai dengan pendapat/pemahaman Anda, mohon tetaplah menghargai hal itu dan silakan memberi tanggapan secara sopan dan tidak menghakimi. God bless you...

  © 2008 Blogger template by Ourblogtemplates.com

Back to TOP