Showing posts with label arti doa. Show all posts
Showing posts with label arti doa. Show all posts

Berdoa dalam Roh

Berdoa dalam Roh disebutkan tiga kali dalam Kitab Suci. 1 Korintus 14:15 mengatakan, “Jadi, apakah yang harus kubuat? Aku akan berdoa dengan rohku, tetapi aku akan berdoa juga dengan akal budiku; aku akan menyanyi dan memuji dengan rohku, tetapi aku akan menyanyi dan memuji juga dengan akal budiku.”

Efesus 6:18 mengatakan, “Dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus.” Kemudian, Yudas 20 mengatakan, “Akan tetapi kamu, saudara-saudaraku yang kekasih, bangunlah dirimu sendiri di atas dasar imanmu yang paling suci dan berdoalah dalam Roh Kudus.” Jadi apa itu berdoa dalam Roh?

Kata Bahasa Yunani yang diterjemahkan “berdoa dalam” dapat memiliki beberapa makna. Kata itu dapat berarti “dengan cara,” “dengan pertolongan,” “dalam dunia,” dan “dalam hubungan dengan.” Berdoa dalam Roh bukan menunjuk pada kata-kata yang kita ucapkan. Sebaliknya, itu menunjuk pada bagaimana kita berdoa. Berdoa dalam Roh adalah berdoa sesuai dengan pimpinan Roh. Itu adalah berdoa untuk hal-hal yang Roh mau kita doakan. Roma 8:26 memberitahu kita, “Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan.”

Ada orang, berdasarkan 1 Korintus 14:15, menyamakan berdoa dalam Roh dengan berdoa dalam bahasa lidah. Berbicara mengenai karunia bahasa lidah, Paul menyebut “berdoa dengan rohku.” 1 Korintus 14:14 menyatakan bahwa ketika seseorang berdoa dalam bahasa lidah, dia tidak tahu apa yang dikatakannya, karena itu diucapkan dalam bahasa yang tidak diketahuinya. Lebih lagi, tidak seorangpun dapat memahami apa yang dikatakan, kecuali ada penerjemah (1 Korintus 14:27-28).

Dalam Efesus 6:18 Paulus memerintahkan kita untuk “dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus,” Bagaimana kita dapat berdoa dalam dengan permohonan yang tak putus-putusnya dan berdoa untuk segala orang kudus kalau tidak seorangpun, termasuk orang yang berdoa, yang mengerti apa yang diucapkan? Karena itu berdoa dengan Roh harus dipahami sebagai berdoa dalam kuasa Roh, dengan pimpinan Roh, dan menurut kehendak-Nya, bukan sebagai berdoa dalam bahasa lidah.

Sumber: Got Questions
Baca selanjutnya...

It's Time To Pray

Oleh: Ps Philip Mantofa

Meski rajin ke gereja, tapi banyak orang Kristen tidak memiliki kehidupan doa. Mereka menganggap doa bukan prioritas. Namun, tidak bisa dipungkiri, ada banyak orang dipulihkan secara ajaib karena berdoa.

Seorang yang pemah mengalami kuasa doa mengatakan, "Banyak doa, banyak berkat. Kurang berdoa, kurang berkat. Tidak berdoa, tidak ada berkat." Berkat di sini bukan berkat secara jasmani saja, tapj menyeluruh. Dia mengalami sendiri, bahwa ada berkat Tuhan dalam doa. Ada kuasa dalam doa. Di akhir zaman ini, setiap orang yang mengandalkan dirinya sendiri, tidak akan mendapat berkat Tuhan.

Mengapa Berdoa?
Mengapa kita harus berdoa? Dalam kalimat pembuka Doa Bapa Kami, "Bapa kami yang ada di sorga, dikuduskanlah nama-Mu…' (Mat. 6:9), kita mendapati tiga hal penting mengenai doa:

Pertama, kita diciptakan untuk berdoa setiap hari. Dalam Kejadian 1:27 jelas dikatakan bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Kita memiliki kebutuhan rohani (karena Allah adalah Roh--kata Firman Tuhan).
Sesuatu yang bersifat immateri (rohani) tidak bisa dipuaskan oleh materi. Contohnya, kebahagiaan. Kebahagiaan bersifat rohani. oleh karena itu kebahagiaan yang sejati (bertahan lama) tidak bisa dipuaskan dengan materi seperti uang dan harta.

Kebahagiaan yang sejati hanya bisa didapatkan melalui hubungan yang intim dengan Tuhan. Hal ini hanya mungkin terjadi lewat berdoa kepada Allah, Sang Sumber Kebahagiaan.

Ada juga orang Kristen yang mengatakan bahwa doa adalah "milik” orang-orang Kristen tertentu saja. seperti pendeta, hamba-hamba Tuhan dan para pendoa saja. Hal ini salah. Setiap orang percaya dipanggil untuk berdoa, Allah ingin supaya kita mencari Dia dan berbicara kepadaNya. Bahkan, Roh KudusNya ditaruh di dalam diri kita untuk menolong kita menyatakan permohonan-permohonan kepada Bapa (Roma 8:26).

Dari sini kita bisa menyimpulkan bahwa doa adalah komunikasi umat percaya dengan Allah Bapa. Berarti, berdoa hanya bisa dilakukan oleh orang yang sudah lahir baru di dalam Kristus. Hanya orang yang sudah diadopsi menjadi anak Allah yang dapat menyebut Allah dengan sebutan "Bapa". Tetapi sekali lagi. hal itu bukan karena kuat dan gagah kita, melainkan karena Roh Kudus yang ada di dalam diri orang percaya.

Umat Tuhan mengerti bahwa doa adalah kebutuhan utama untuk hidup. Tanpa doa. orang Kristen hanyalah mayat hidup (zombie), yang secara jasmani kelihatan hidup, tapi rohaninya mati. Kalau rohani seseorang mati, maka apapun yang dikerjakannya pada hakikatnya adalah sia-sia bagi dirinya, karena kesudahannya adalah kematian kekal.

Perjumpaan Istimewa
Kedua, perjumpaan pribadi dengan Tuhan melalui doa selalu menguatkan kita. Berdoa selalu merupakan perjumpaan yang istimewa dengan Tuhan. Ada sebuah anekdot. Suatu hari ada seseorang yang mengeluh bahwa dia sudah berdoa selama bertahun-tahun untuk sakit yang dideritanya, tetapi tidak kunjung sembuh. Dia kemudian berniat untuk berhenti berdoa karena merasa doa itu sia-sia belaka.

Seseorang di sampingnya kemudian menjawabnya, "Doa itu seperti makan. Mungkin menunya sama setiap hari, hanya sayur dan nasi. Mungkin kita merasa makanan itu tidak enak, tetapi tetap kita makan juga. Namun justru karena makanan itulah yang membuat kita bisa bertahan hidup lebih lama!"

Kita tidak pernah tahu bagaimana Tuhan bekerja melalui doa-doa kita, tapi yang pasti doa itu memberi kita kekuatan melewati hari demi hari. Masalah akan selalu datang, bahkan mungkin dengan tiba-tiba dan bersamaan. Tetapi melalui doa, kita akan kuat menghadapi dan melalui masalah.

Kita butuh kekuatan setiap hari, dan kekuatan sejati hanya bersumber dari doa. Selain itu, melalui doa, kita beroleh kekuatan dan keberanian untuk tidak berkompromi dengan dosa. Sebuah ungkapan menarik mengatakan demikian. 'Christianity is not a religion, Christianity is a relationship, with a living God.' Kita percaya bahwa doa kita pasti dijawab Tuhan, karena kita percaya bahwa Tuhan itu benar-benar ada. Dia pernah turun ke dunia 2000 tahun yang lalu, mati menebus dosa kita, dan bangkit dari kematian. Dia adalah Allah yang benar-benar hidup dan berkuasa untuk menjawab segala doa-doa kita.

Doa Mengubah Kita
Ketiga, pengalaman-pengalaman rohani lewat doa mengubah hidup kita. Tuhan tidak menghendaki orang Kristen mengenal Allah sejauh pengetahuan atau teori saja, melainkan la ingin kita benar-benar mengenalNya secara pribadi.

MengenalNya secara penuh berarti juga mengalami karya-karyaNya yang ajaib, termasuk ketika Dia secara perlahan-lahan atau cepat mengubahkan karakter kita menjadi serupa denganNya.

Orang Kristen pasti berubah ke arah Kristus. Semakin kudus serupa dengan Kristus. Setiap orang Kristen yang tidak pernah berubah, mungkin dikarenakan Dia tidak mengenal Allah dengan penuh dan benar. Dalam arti, dia tidak pernah "berkonsultasi" dengan Allah melalui doa. Jadi, mulailah berdoa, sekarang juga!

Bagaimana caranya berdoa? Ya berdoa saja! Cuma itu caranya. Doa itu mudah, jadi jangan dipersulit. Allah adalah Bapa kita. Kita adalah anakNya, dan Dia mengasihi kita apa adanya. Jadi, jangan takut berdoa karena tidak tahu bagaimana caranya berdoa. Allah tidak pernah mempersulit anakNya untuk datang kepadaNya.

Ungkapkan segala isi hatimu kepada Tuhan dengan sejujur-jujumya, dan biarkan Roh Kudus menuntunmu. Maka, tidak hanya karaktermu akan Tuhan ubahkan, tetapi juga apa yang engkau doakan. Semakin dekat dengan Tuhan, engkau akan melihat betapa besar kuasa doa. Engkau akan semakin takjub melihat apa yang Tuhan bisa kerjakan atas hidupmu melalui doa. Selamat berdoa!

Sumber: Buletin Gereja Mawar Sharon
Baca selanjutnya...

Doa Minta Jodoh

Oleh: Ev Yuzo Adhinarta

Membaca banyak buku tentang doa, mengikuti seminar doa, meneliti jurnal-jurnal dan buah karya mahapenting para saleh tentang doa tidak membuat kita otomatis bisa dan pandai berdoa. Tapi untunglah, doa yang efektif tidak identik dengan metode, frekuensi, dan kefasihan kalimat yang dipakai dalam berdoa. Allah yang kepadaNya kita berdoa adalah pribadi, itu sebabnya doa bukan mantra yang impersonal.

Namun perlu diingat bahwa bagaimana seseorang berdoa menunjukkan bagaimana ia mengenal Tuhan dan memperlakukan Tuhan dalam doa-doanya. Doa harus dinaikkan dengan iman berdasarkan pengenalannya akan Tuhan. Sehingga sikap seseorang tentang/terhadap doa mencerminkan hubungan pribadinya dengan Tuhan.

Doa Minta Jodoh
Ya Tuhan, kalau dia memang jodohku, dekatkanlah ... Tapi kalau bukan jodohku, jodohkanlah ... Jika dia tidak berjodoh denganku, maka jadikanlah kami jodoh ... Kalau dia bukan jodohku, jangan sampai dia dapet jodoh yang lain, selain aku ... Kalau dia tidak bisa dijodohkan denganku, jangan sampai dia dapet jodoh yang lain, biarkan dia tidak berjodoh sama seperti diriku ... Dan saat dia telah tidak memiliki jodoh, jodohkanlah kami kembali ... Kalau dia jodoh orang lain, putuskanlah! Jodohkanlah denganku ... Jika dia tetap menjadi jodoh orang lain, biar orang itu ketemu jodoh yang lain dan kemudian jodohkan kembali dia denganku ... Aaaamin.
Sumber: E-mail “Doa Minta Jodoh” di Fica-net (beberapa tahun silam)

Setujukah Anda dengan doa tersebut di atas? Mengapa? Diakui atau tidak, banyak orang sering berdoa sedemikian. Ini adalah masalah sikap doa. Dan sikap doa berkaitan dengan pengenalan seseorang terhadap Allah, yang kepadaNya ia berdoa. Sikap kita ketika berbicara dengan seorang guru besar, pejabat, atau orang tua yang kita hormati tentu berbeda dengan sikap kita ketika berbicara adik, sahabat lama, atau pegawai/bawahan kita. Mengapa? Ini berkaitan dengan level pembicara dan lawan bicara. Kepada yang (kita pandang) berlevel lebih tinggi biasanya kita lebih sopan, penuh hormat, tidak membentak, dengan pilihan kata-kata yang apik dan tereja dengan baik dan benar. Kepada yang berlevel sama biasanya kita lebih akrab, intim, menggunakan bahasa sehari-hari, dan senda gurau. Kepada yang berlevel lebih rendah biasanya kita lebih kasar, bernada memerintah, tidak perduli perasaan orang lain, dan tidak jarang pula menyakitkan.

Bagaimana sikap Anda ketika berbincang dalam doa kepada Allah yang Mahatinggi dan Mahadahsyat itu? Sikap berdoa yang benar seperti apa yang seharusnya kita miliki? Belajar dari nabi Habakuk akan menolong kita menjawabnya.

Dalam pergulatannya dengan realita hidup yang dihadapi, nabi Habakuk mengalami konflik yang dahsyat dalam batinnya. Konflik antara apa melawan apa? Antara kehendak diri dengan kehendak Tuhan. Inilah pergulatan mendasar seseorang yang berdoa. Mengapa Tuhan tidak menjawab doaku? Aku harus berdoa seperti apa lagi? Berapa lama lagi Tuhan? Kalau doa tidak mengubah kehendak Tuhan, lalu buat apa berdoa?

Habakuk melewati beberapa fase dalam kehidupan doanya sampai akhirnya ia mengalami kemenangan dan bertumbuh dalam imannya kepada Tuhan. Bergumul dalam doa memang tak terhindarkan dalam kehidupan orang percaya sejati, tetapi masalahnya adalah apakah pergumulan itu menuju ke arah yang benar. Pergumulan ke arah yang salah tidak membawa seseorang bertumbuh di dalam Tuhan, doa menjadi sia-sia, membentur langit-langit atap dan jatuh kembali ke bumi. Tidak perduli seberapa rajin dan tekunnya seseorang berdoa, doa menjadi tidak berguna selama sikap dalam berdoa tidak berubah. Fase-fase pergumulan Habakuk memberikan arah yang jelas bagi orang Kristen segala zaman untuk bertumbuh. Rindukah Anda bertumbuh melalui pergumulan yang sehat dalam doa? Teladanilah nabi Habakuk!

Fase I: Minta (Habakuk 1:1-11)
“Berapa lama lagi, TUHAN, aku berteriak, tetapi tidak Kaudengar, aku berseru kepadaMU: ‘Penindasan!’ tetapi tidak Kautolong? Mengapa Engkau ...” (Hab. 1:2-3)

Pada fase ini yang menjadi fokus dalam doa adalah permintaan, permintaan, dan permintaan. Permintaan yang dimaksud di sini adalah permintaan yang bersifat antroposentris, yaitu permintaan yang ditujukan untuk pemenuhan kebutuhan manusia (diri sendiri dan/atau juga orang lain). Dan ketika permintaan tersebut tidak terpenuhi seseorang jadi bertanya-tanya: Apakah Tuhan mendengar doaku? Bagi orang yang berdoa dalam fase ini, berdoa berarti meminta dan jawaban doa identik dengan pengabulan permintaan. Pemuasan diri menjadi tujuan akhir doa dan Tuhan diperlakukan sebagai mesin ATM atau dewa-dewi imajinasi yang siap kapanpun untuk diperalat. Jika Tuhan tidak menjawab seperti yang dia mau dalam waktu yang cukup lama, biasanya orang pada fase ini akan menganggap Tuhan tidak menjawab doanya dan berhenti berdoa, ngambek, kecewa, hilang iman.
Pada fase ini seseorang sedemikian terobsesi dengan dirinya, bukan kepada Tuhan. Yang penting adalah bagaimana Tuhan bisa memuaskan diri, bukannya diri memuliakan Tuhan. Dan karena begitu sibuknya berdoa sampai-sampai tidak punya waktu untuk mendengar jawaban doa.

Siapa bilang Tuhan tidak menjawab doa-doa para pendoa pada fase ini? Bukankah Dia yang memerintahkan manusia untuk berdoa kepadaNya dan berjanji untuk memenuhi setiap permintaan kita dengan cara terbaik? Tuhan menjawab doa Habakuk sekalipun dinaikkan dengan sikap yang tidak benar (Hab. 1:5-11). Demikian pula dengan doa-doa yang kita naikkan. Hanya saja seperti Habakuk (Hab. 1:12-17), kita sering tidak siap untuk menerima jawaban doa dari Tuhan karena tidak seperti yang kita mau. Argumentasi dan keberatan atas jawaban doa Tuhan yang kita naikkan ke langit seringkali mengabaikan kasih sayang, kemahatahuan, dan kedaulatan Tuhan atas hidup kita. Mata jasmani dan rohani kita jadi buta untuk sesuatu yang jauh lebih baik dan mulia yang Tuhan janjikan bagi setiap anakNya.

Jika kehidupan doa Anda berada pada fase ini, tidak apa-apa! Ini baru awal perjalanan doa Anda. Jangan berhenti! Lanjutkan ke fase berikutnya!


Fase II: Minta - Dengar (Habakuk 1:12-2:20)
“Aku mau berdiri di tempat pengintaianku dan berdiri tegak di menara, aku mau meninjau dan menantikan apa yang akan difirmankanNya kepadaku, dan apa yang akan dijawabNya atas pengaduanku.” (Hab. 2:1)

Orang yang mau mendengar orang lain adalah lebih bijak daripada orang yang hanya mau didengar. Pernahkah Anda mempunyai pengalaman memiliki seorang teman yang suka berbicara tetapi jarang mau mendengar? Setiap kali bertemu dia bercerita tentang dirinya dan bahkan meminta pertolongan kita, namun pada gilirannya kita berbagi rasa atau meminta pertolongan dia mengelak dengan seribu satu macam alasan. Menyebalkan, bukan? Namun seorang teman yang mau mendengar keluh kesah dan pergumulan kita biasa kita sebut sebagai sahabat. Tuhan sudah menjadi sahabat terbaik buat kita. Ia mendengar setiap doa dan menjawab sesuai dengan apa yang Ia anggap terbaik (dan memang itulah yang terbaik). Tidak pernah terlalu cepat dan terlambat. Segala sesuatu indah pada waktu yang tepat, waktuNya. Namun apakah kita sudah menjadi sahabat Tuhan, yang selalu rindu mendengar perkataan dan pernyataan kehendakNya, yaitu isi hati Tuhan?

Pendoa pada fase kedua ini sudah berhasil melepaskan fokus dari permintaan yang bersifat antroposentris. Fokusnya kini adalah jawaban doa. Nabi Habakuk membuat sebuah langkah iman untuk memindahkan fokusnya dari permintaan kepada jawaban doa. “Aku mau berdiri di tempat pengintaianku dan berdiri tegak di menara ...” Berdiri di menara berarti berada di posisi yang lebih tinggi daripada permukaan bumi. Dari sana kita bisa melihat segala sesuatu lebih jelas. Para penjaga malam ditempatkan di menara untuk mengetahui apa yang terjadi di bawah sana sekalipun di tempat yang jauh. Seperti seorang penjaga yang menanti utusan yang kembali membawa berita, demikianlah pendoa pada fase ini berdoa dan menanti jawaban doa. Ia tidak menyibukkan diri dengan apa yang dimintanya tetapi “menantikan apa yang akan difirmankanNya” dan “apa yang akan dijawabNya” atas segala pengaduan dan permintaan (Hab. 2:1).

Pada fase ini seseorang harus mengembangkan kepekaan mendengar jawaban doa dan seni menunggu. Menunggu memang tidak enak. Tetapi menunggu menghindar-kan kita dari tindakan buru-buru yang justru merusak segalanya.

Seorang ibu yang sedang panik karena anaknya tiba-tiba kejang, segera menelepon dokter terdekat dan dengan nafas terengah berkata: “Dokter, dokter, cepat datang ke rumah saya, anak saya kejang-kejang. Cepat dokter, sekarang juga, cepat, cepat!!!” Lalu gagang telepon itupun ditutup. Sang dokter yang baru saja hendak naik ke tempat tidurnya itu segera mengemasi peralatan dan memasukkannya ke dalam tas seperti biasanya. Baru terpikir olehnya, “Siapa tadi yang menelepon saya?” Tidak lama kemudian telepon kembali berdering, “Dokter, kenapa belum berangkat?” “Sebentar, siapa nama Anda?” jawab sang dokter. “Saya ibu Adeline! Cepat dok, cepat berangkat ya? Sekarang!” “Sebentar, alamat Anda ...” (telepon terputus). Sang dokter segera membuka buku teleponnya untuk mencari nomor telepon dan ia menemukan. Segera sang dokter menelepon ibu Adeline. Namun pada waktu yang sama, ibu Adeline juga menelepon sang dokter. Akibatnya, setelah hampir setengah jam mereka saling menelepon dan tidak pernah tersambung, sesuatu yang mengenaskan terjadi. Sang anak tidak tertolong lagi. “Halo, ibu Adeline, ini saya, dokter Marvin. Saya mau tanya, alamat Anda di mana?” “Dia sudah meninggal, Dok!”
Menanti jawaban Tuhan lebih baik daripada bertindak tergesa-gesa. Tuhan tidak pernah terlalu cepat dan terlambat. Percayalah kepadaNya!

Habakuk belajar percaya kepada Tuhan. Ia menanti jawaban atas segala doanya. Dan Tuhan (seperti pada fase sebelumnya) tetap menjawab doa yang dinaikkan. Jawaban Tuhan tidak pernah berubah karena sikap manusia yang berubah. Jawaban Tuhan bersifat progresif tapi tidak pernah berkontradiksi. Rencana Tuhan tidak pernah berubah hanya karena kita berdoa. Kalau pada pasal pertama kitab Habakuk Allah menyatakan bahwa Ia sedang menghukum bangsa Israel dengan membangkitkan bangsa Kasdim, maka pada pasal kedua Allah menyatakan bahwa bangsa Kasdim pun akan menerima hukuman atas kesombongan dan keangkuhannya. Menerima jawaban pertama membuat nabi Habakuk bingung (Hab. 1:12). Tetapi jawaban berikutnya menentramkan hati. Jawaban demi jawaban doa yang progresif, yang membentuk kerangka pikir kita tentang Allah dan karyaNya akan diterima ketika kita belajar menyerahkan semuanya kepada Tuhan, menanti jawaban Tuhan, menanti Tuhan bekerja. Pasal kedua ditutup dengan kesimpulan yang luar biasa: “Tetapi TUHAN ada di dalam baitNya yang kudus” (Hab. 2:20a). Melalui kalimat ini nabi Habakuk mengekspresikan imannya kepada Allah YAHWEH,

Allah yang selalu setia dalam menepati janjiNya. Dia adalah Allah yang selalu bertahta atas segala sesuatu, termasuk segala kejadian di bumi, termasuk juga pernak-pernik kehidupan kita. Mengenal Allah yang demikian, Habakuk menyerukan: “Berdiam dirilah di hadapanNya, ya segenap bumi!” Sudahkah Anda mendapatkan rahasia besar nan luar biasa ini?

Jika kehidupan doa Anda berada pada fase ini, tidak apa-apa! Jangan berhenti! Lanjutkan ke fase berikutnya!


Fase III: Minta - Dengar - Beriman (Habakuk 3)

“Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan... namun aku bersorak-sorak di dalam Tuhan, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku. ALLAH Tuhanku itu kekuatanku...” (Hab. 3:17-19)

Apakah Anda melihat perubahan nada dan suasana dalam doa nabi Habakuk di pasal 3 ini? Apa yang berubah di sini? Apakah bangsa Israel dilepaskan dari tangan orang Kasdim? Apakah Allah berubah? Apakah seluruh pertanyaan nabi Habakuk—Berapa lama lagi, TUHAN?—terjawab? Tidak! Segala yang ada di luar diri nabi Habakuk tidak berubah. Yang berubah adalah yang ada di dalam diri sang nabi. Dan inilah doa yang memberi kemenangan dan pertumbuhan rohani. Inilah perubahan yang sejati, yang esensial, dan bernilai kekal. Dari mengikut diri menjadi mengikut Tuhan. Dari hidup untuk diri sendiri menjadi hidup untuk Tuhan. Bukankah perubahan ini yang berdampak di dalam kekekalan?

Pada fase ini pendoa tidak berhenti meminta dan mendengar. Meminta dan mendengar adalah unsur yang penting dalam sebuah doa, hanya saja meminta dan mendengar bukan lagi menjadi fokus doa. Fokus pendoa pada fase ini adalah diri Allah sendiri. Ia akan menganggap pengenalannya akan Allah secara pribadi jauh lebih penting daripada pemberian atau jawaban doa. Paulus pernah berkata: “Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitanNya dan persekutuan dalam penderitaanNya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematianNya ...” (Flp. 3:10). Doa para pendoa pada fase ini akan dipenuhi dengan puji-pujian yang tulus (tidak bermulut manis yang manipulatif) dan penyerahan total kepada kehendak Allah (“Biarlahkehendak Tuhan yang jadi”). Perhatikan pujian dan penyerahan diri nabi Habakuk dalam pasal 3 ini! Perhatikan pula pengenalannya akan Allah yang telah menyatakan diri melalui segenap perbuatanNya dalam sejarah peradaban manusia!

Setelah mengalami peningkatan dalam pengenalan pribadinya akan Allah (pribadi, sifat, dan karyaNya) ia tidak lagi menjadi kuatir akan apapun juga, termasuk hari depan. Sekalipun masih tebersit ketakutan dan ketidakmengertian secara manusiawi, namun imannya kepada TUHAN memberinya kekuatan untuk mampu “berjejak di bukit-bukit” batu kehidupannya.

Apakah pada fase ini sang pendoa akan berhenti meminta sesuatu melalui doanya karena sudah menyerahkan semuanya kepada Tuhan? Tidak! Lalu apa bedanya? Ia tetap meminta tetapi tidak sembarangan meminta. Ia tahu apa yang seharusnya diminta, yang terpenting, yang esensial, yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Inilah kunci kuasa doa! Doa yang PASTI dikabulkan adalah doa yang sesuai dengan kehendak Tuhan, bukan doa yang memanipulasi Tuhan untuk kepentingan diri. Tuhan Yesus sendiri menyibakkan rahasia kuasa doa ini pada malam sebelum Ia disalibkan: “Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firmanKu tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dankamu akan menerimanya. Dalam hal inilah BapaKu dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak ... Sampai sekarang kamu belum meminta sesuatupun dalam namaKu. Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu” (Yoh. 15:7-8, 24). Yakobus menulis: “Kamu tidak memperoleh apa-apa, karena kamu tidak berdoa. Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu” (Yak. 4:2b-3).

Di tengah pergumulan dan masalah hidupnya pendoa pada fase ini akan menuntut diri untuk mengenal Allah dan kehendakNya secara pribadi (dengan Alkitab sebagai sarana). Ia akan semakin rajin berdoa karena Tuhan pasti menjawab setiap doa yang dipanjatkan. Ia tidak takut salah meminta karena ia tahu bahwa Tuhan tahu ia sedang berada dalam proses belajar mengenal kehendakNya. Dan Tuhan pasti menjawab sesuai dengan kehendakNya, bukan kehendak diri. Dalam sikap penuh iman dan sedia untuk taat kepada Tuhan seperti inilah seseorang bertumbuh dalam pengenalan akan Tuhan dan mengalami kemenangan demi kemenangan dalam hidupnya.

Jangan teladani "Doa Minta Jodoh" di atas, tapi maukah Anda lebih rajin berdoa untuk masa depan Anda dengan sikap yang benar? Bersediakah Anda menaklukkan diri di bawah tangan Tuhan yang mengasihi Anda? Siapkah Anda melihat tangan Tuhan bekerja leluasa dalam hidup Anda?

"Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya." (Yak. 5:16)
Sumber: "Not" Our Daily Bread
Baca selanjutnya...

Doa: Antara Teori dan Praktik

Oleh: Ev. Paul Santoso Hidayat M.Th

Saya pernah mengalami kesulitan nafas. Sesudah terserang batuk agak lama, lalu saya mengalami sesak nafas karena alergi. Selain sangat menyiksa, juga pengalaman sewaktu nafas saya menjadi sesak, pendek dan terengah-engah itu menimbulkan rasa ngeri. Sekaligus saat itu saya menyadari betapa berharganya hidup sehat yang dapat bernafas tanpa masalah.

Saya pernah mengalami kesulitan nafas. Sesudah terserang batuk agak lama, lalu saya mengalami sesak nafas karena alergi. Selain sangat menyiksa, juga pengalaman sewaktu nafas saya menjadi sesak, pendek dan terengah-engah itu menimbulkan rasa ngeri. Sekaligus saat itu saya menyadari betapa berharganya hidup sehat yang dapat bernafas tanpa masalah.

Berdoa sering diumpamakan sebagai bernafas secara rohani. Jika kita benar-benar menerima gambaran itu, tentu kita akan menghargai betapa besarnya anugerah yang telah Allah berikan kepada umat-Nya dengan memberikan hak istimewa untuk boleh berdoa kepada-Nya. Dan, betapa besar risiko yang kita datangkan kepada hidup apabila kita mengabaikan doa dalam kehidupan kita. Sungguhkah seperti itu pertimbangan dan perlakuan kita tentang doa? Agaknya tidak selalu nyambung teori dengan praktik. Mengapa bisa begitu? Mungkin karena pemahaman teorinya pun hanya sambil lalu, tidak dalam, sehingga tidak sungguh dihayati!

Bagaimana kaitannya sampai doa jadi demikian hakiki dan vital? Doa terkait dengan fakta bahwa Allah yang kasih adanya itu menciptakan manusia sebagai makhluk yang berpotensi menyambut dan merespons Allah dalam kasih juga. Manusia disebut Allah sebagai gambar-rupa Allah. Sedangkan Allah, ketika menciptakan manusia sebagai gambar-rupa-Nya itu menyebut diri-Nya, “kita.” Banyak sekali isi Alkitab menegaskan bahwa Allah yang Esa itu adalah Allah yang berhakikat relasi. Allah kasih adanya! Ini yang dalam theologi Kristen diterjemahkan sebagai doktrin Tritunggal.

Di dalam hakikat kekal-Nya, Allah adalah Bapa, Putra, Roh yang berkasih-kasihan. Jadi sebagai gambar-rupa Allah, manusia pun memiliki kekhususan yaitu merupakan makhluk relasi. Dalam relasi dirinya, relasi sosialnya, relasinya dengan alam, manusia sebenarnya sedang mengungkapkan hakikat terdalamnya sebagai makhluk relasi yang berawal dari relasinya dengan Allah. Fakta Allah dan fakta manusia inilah yang menyebabkan doa merupakan suatu hal yang sangat hakiki dan vital dalam keberadaan manusia. Dalam pemahaman ini bahkan doa lebih hakiki dan vital daripada diartikan sebagai nafas rohani. Doa adalah ungkapan dari relasi kita dengan Allah. Doa adalah komunikasi atau dialog manusia dengan Allah. Ketidaklancaran kehidupan doa adalah gejala ketidakberesan relasi kita dengan Allah.

Jika demikian hakiki dan vital, mengapa pada kenyataannya kita tidak spontan menghasrati doa? Mengapa kehidupan doa kita (komunikasi kita dengan Tuhan) tersendat—Senin Kamis—tidak intim pada segala waktu? Karena menurut Alkitab relasi itu tidak lagi harmonis. Kejatuhan seluruh umat manusia ke dalam dosa pada intinya adalah memilih untuk tidak berhubungan dengan Allah. Tidak heran apabila kita tidak menghasrati doa sebab pada intinya kita tidak memiliki hasrat yang murni akan Allah. Syukurlah bahwa Allah tetap berhasrat untuk bersekutu dengan ciptaan-Nya ini. Itu sebab Ia mendirikan perjanjian dengan Abraham yang pada puncaknya menghasilkan pendamaian antara diri-Nya dengan umat-Nya di dalam Yesus Kristus. Dengan pendamaian yang Yesus Kristus hasilkan, pulihlah relasi kita dengan Allah, terbit pula hasrat kuat kita akan Allah—kesadaran dan kerinduan untuk berdoa yang melaluinya kita menumbuhkan relasi kasih kita dengan Allah.

Dengan demikian berdoa adalah sesuatu yang jauh lebih dalam dan lebih luas daripada sekadar cara untuk meminta berbagai berkat bagi hidup atau untuk mengalami kuasa Allah bagi berbagai kebutuhan hidup. Inti doa adalah relasi, adalah komunikasi dengan Allah. Hanya bila dalam komunikasi kita dengan Allah, ada tempat bagi Allah mengkomunikasikan diri-Nya juga pada kita, barulah doa itu menjadi bagian dari relasi yang riil. Inilah alasan mengapa Tuhan Yesus mengaitkan keadaan dipenuhi oleh firman sebagai syarat bagi doa yang dikenan Allah. Dan hanya dengan demikianlah semua berkat dari relasi kita dengan Allah yaitu berbagai akibat yang timbul dari pengenalan kita yang tumbuh mendalam akan Allah, atau akibat dari semakin leluasanya Allah hadir dalam kehidupan kita, akan dapat kita alami. Dan segala berkat itu kita terima bukan karena kita memiliki iman yang hebat atau gigih dalam mengklaim Allah, melainkan karena iman-harap-kasih kita dalam doa menyatu dengan kasih-hikmat-kuasa-rencana-Nya bagi kita.

Pengertian doa yang seperti inilah yang kita jumpai dalam berbagai kisah nyata kehidupan doa para tokoh Alkitab. Pada orang seperti Abraham, Musa, Samuel, Daud, Hizkia, Yeremia, Daniel, Yesus, para rasul, Paulus, doa bukan soal cara, aturan, formula, tetapi komunikasi yang sangat menentukan vitalitas kehidupan dan karya mereka. Itu sebabnya bukan kebiasaan berdoa lima atau tujuh kali dalam sehari yang memberdayakan doa mereka, tetapi keintiman hubungan dengan Allah yang membuat mereka memiliki daya doa yang memenuhi seluruh kehidupan dan karya mereka sepanjang hidup. Tidak heran apabila doa bukan sesuatu yang menjadi beban bagi mereka melainkan merupakan suatu kesukaan. Juga, apabila mereka begitu dalam merasakan kebutuhan untuk berdoa dan untuk didoakan.

Alkitab dan doa, atau doa yang interaktif dengan firman Allah, adalah doa yang benar yang menjadi semarak dari realita relasi yang intens antar Allah-manusia secara timbal balik. Bagaimanakah doa Anda? Nafas Anda sajakah yang mendengus di dalamnya, atau terdengar juga nafas bicara Allah di dalamnya? Dalam hubungan yang intimkah Anda dengan Allah? Bagaimana kualitas relasi Anda dengan Allah terdengar dalam irama, sikap, isi dan lingkup doa Anda sehari-hari? Bagaimana perhatian, arah hati, gerak misi Allah tercermin dalam doa-doa Anda?

Doa kita hendaknya mencirikan bahwa seluruh hidup kita adalah dari-oleh-untuk Allah saja! *
Baca selanjutnya...

Meditasi Atau Doa?

Oleh: Herlianto

Dalam agama kebatinan (pantheis/mistik) maupun yang mempercayai animisme dan magisme, praktek meditasi atau yang sekarang diperhalus disebut kontemplasi atau konsentrasi, merupakan salah satu cara populer untuk membangkitkan ‘energi vital/tenaga hidup’ dalam diri manusia di samping cara lain seperti latihan pernafasan dan gerakan tubuh.

"Untuk mengalami Tenaga Hidup sepenuhnya, Anda harus mengendalikan pikiran dari perasaan Anda. Hal itu berarti Anda harus menguasai keterampilan menjernihkan pikiran dan berkonsentrasi. Yang saya maksudkan di sini adalah sungguh-sungguh berkonsentrasi seperti yang belum pernah Anda lakukan ... Dan bagaimana cara terbaik untuk mencapai hal ini? Cukup mudah. Bermeditasi ... bermeditasi ... dan sekali lagi bermeditasi.” (Leo F. Ludzia, "Tenaga Hidup", hlm. 113)

Dalam kebatinan Hindu, meditasi merupakan latihan pengendalian mental penting yang dipraktekkan melalui yoga.

"YOGA... Seorang bangsa India penganut agama Hindu yang mempunyai tujuan utama untuk melatih pikiran dan tubuh sebagai satu keseluruhan. Untuk mencapai wawasan spiritual dan ketenangan yang dicapai melalui latihan serangkaian postur khusus yang disebut asana, latihan pernafasan yang disebut pranayama, pengendalian mental melalui meditasi, berbagai tehnik pembersihan dalam, dan pengendalian serta manipulasi suatu energi fundamental yang disebut prana .. Tujuan seorang siswa yang melakukan praktek yoga adalah untuk mempersatukan ketiga unsur tersebut dan mencapai persatuan dengan 'Sang Tuhan' atau 'Pikiran Alam Semesta’.” (Leo F. Ludzia, "Tenaga Hidup", hlm. 35-36)

Dalam meditasi Yoga ada usaha untuk mencapai persatuan At-man dengan Brahman, antara diri (self) manusia kepada diri Alam yang tidak berpribadi (Yang SATU itu), dan ini dilakukan dengan pengendalian diri dengan kekuatan sendiri. Prinsip meditasi yang sama sekali pun dengan istilah berbeda dapat dilihat dalam kebatinan Cina.

"meditasi merupakan keadaan mental terbaik untuk memelihara Chi. Sebuah buku Taoisme yang lain berjudul "Chung-tzu" menganjurkan pemanfaatan latihan pernafasan bersama dengan pengendalian pikiran seseorang untuk mengendalikan Chi. Pengendalian ini untuk mempersatukan diri seseorang dengan alam semesta dan Chi bertindak sebagai perantara atau daya pengikat.” (Leo F. Ludzia, "Tenaga Hidup", hlm. 22)

Di sini juga jelas bahwa meditasi itu mempunyai dua tujuan sekaligus, yang vertikal yaitu penyatuan dengan nafas semesta dan yang kedua secara horisontal tujuannya untuk mengatur kekuatan dalam dirinya untuk mencapai keseimbangan diri untuk memperoleh ketenangan, kesehatan, relaksasi, bahkan kelepasan.

Meditasi mencapai puncaknya dalam pertemuan Buddhisme dan Taoisme yang lebih dikenal sebagai Zen Buddhisme di mana: "Meditasi Zen dari Zazen mengkondisikan seseorang untuk memasuki dunia meditasi, tempat arus pikiran kacau yang terus menerus berhenti memenuhi alam pikiran.” (Leo F. Ludzia, "Tenaga Hidup", hlm. 26)

Berbeda dengan meditasi dalam Hinduisme dan Taoisme di mana meditasi ditujukan untuk menyatukan aku/diri (self, atman dalam Hindusisme) sendiri yang 'ada' kepada aku/diri alam semesta yang 'ada', maka dalam Zen Buddhisme, meditasi ditujukan untuk menyatukan 'yang ada menuju yang tidak ada' dalam aku/diri manusia kepada 'yang ada menuju yang tidak ada' aku/diri alam semesta, untuk mencapai pencerahan (satori) di mana tercapai apa yang disebut keadaan 'ketidak ada-an aku' (an-atman atau an-atta).

Masa kini, ada tiga tokoh di Indonesia yang dikenal luas mempopulerkan meditasi para profesional dan umum, yaitu Anand Krishna, Luh Ketut Suryani, dan Panyya Segara Merta Ada. Ketiga tokoh meditasi adalah tokoh agama Hindu. Sejak tahun 1987, Anand Krishna mendirikan 'Centre for Holistic Healing & Meditation Anand Ashram' dan menerima murid untuk berlatih meditasi: "Di tempat itu secara berkala dilakukan latihan-latihan meditasidan relaksasi untuk mencapai ketenangan batin atas dasar kesadaran yang tumbuh dari dalam.” (Kartini, no. 559, hlm. 113)

Menurut Merta, pendiri Bali Usaha Meditasi, tehnik meditasi ada dua:
Pertama meditasi konsentrasi, yang menerapkan tehnik memfokuskan pikiran ke satu obyek, hingga terjadi penyatuan dengan cara menyebut mantra-mantra tertentu, memandang cahaya lilin, dan sebagainya. "Dengan cara itu, muncullah kekuatan supranatural, sesuai dengan arah yang dikehendaki." Kedua, meditasi kebijaksanaan, tehnik untuk menghilangkan reaksi buruk di dalam memori: keserakahan, kebencian, dan kebodohan. "Sehingga akhirnya kita menjadi orang yang baik, sesuai dengan agama masing-masing.” (Gatra, 7 Agustus 1999, hlm. 26)

Umumnya dikatakan bahwa meditasi bisa diikuti oleh pengikut semua agama karena ditujukan kepada ‘Yang SATU itu’, tetapi dari praktek maupun yang diajarkan, agama di balik meditasi adalah agama pantheistik Hindu, Buddha atau Tao bahkan Merta melatih juga mantera Hindu, sedangkan yang disebut ‘Yang SATU itu’ adalah kekuatan/nafas semesta tidak berpribadi dan manusia adalah sebagian dari itu, atau dapat disebut bahwa kalau ‘Yang SATU itu’ disebut Tuhan, maka diri manusia juga sama dengan Tuhan. Shirley McLaine, mewakili paham New Age, menyebut dirinya ‘I am God,’ dan dalam serial Star Wars disebut “May The Force be with you.”

Banyak orang mempertanyakan "bolehkan orang Kristen bermeditasi?" Soalnya dalam usaha inklusivisme universalistis dan sinkretisme, ‘Yang SATU itu’ dianggap Tuhan semua agama, dan bagi umat Kristen, baik konsentrasi mapun meditasi dikaburkan dengan menerjemahkan tujuannya menuju ‘Kristus.’ Ini merupakan strategi misi agama mistik yang dengan mudah memasuki agama Kristen.

Situs ‘Christian Meditation’ sekalipun ingin menghadirkan meditasi gaya Kristen, tapi situsnya memuat rujukan ke ‘Mindfulness Meditation’ yang bermisi ‘to create a community of compassionate individuals in learning how to connect with their spiritual selves through meditation.’ Jadi, Yang SATU itu tidak lain identik dengan ‘spiritual self’ dalam diri manusia. Untuk diketahui bahwa situs Mindfulness Meditation memuat gambar patung Buddha bermeditasi, dan merujuk ke ‘Buddhisme Meeting group’ dan ‘Zen Meditation group.’

Sebuah meditasi Kristen di Indonesia juga menyiarkan hal yang mirip:
“Pikiran memiliki beberapa fase gelombang. … Beta … Alpha … Tetha. Kondisi yang lebih dalam lagi.
PADA SAAT INILAH PEMULIHAN TERJADI….PIKIRAN DAN PERASAAN DAN TUBUH MELAKUKAN AUTO RECONSTRUCTION.” (Rina Silaen, Meditasi ala Kristen)

Ucapan ini menunjukkan pemulihan melalui usaha merekonstruksi diri oleh diri sendiri. Namun, artikel yang sama memberinya nafas Kristen, melanjutkannya dengan menyebut: “….makanya proses pelepasan selalu terjadi ketika berada pada kondisi ini. Makanya orang yang sering menyembah Tuhan secara KHUSUK perasaannya jauh lebih kuat. KETIKA KITA MENYEMBAH TUHAN PADA KONDISI INI, FIRMAN MELEKAT JAUH LEBIH KUAT DI JIWA KITA. Makanya pada Meditasi rohani, ketika anda sudah berada pada kondisi Tetha, therapist akan membacakan Firman Tuhan Yesus yang bertemakan pemulihan…MAKANYA TIDAK HERAN setelah anda selesai meditasi anda merasa SANGAT SEGAR, KUAT, DAN PULIH. AMIN (Ibid.)

Pemulihan dan pelepasan tercapai melalui latihan meditasi, yang secara sinkretis dianggap ‘menyembah Tuhan’ bahkan disebutkan dengan cara ini ‘Firman melekat lebih kuat di jiwa kita,’ bahkan ‘kesegaran, kekuatan dan pemulihan terjadi karena meditasi.’ Bandingkan ini dengan ucapan Anand Krishna: “Tujuan meditasi itu universal, yaitu samadhi, yang dalam bahasa Sansekerta punya arti keseimbangan diri ... Secara sederhana, keseimbangan diri adalah menemukan jati diri. Begitu seseorang menemukan jati diri, dia menemukan hubungannya dengan Tuhannya, dengan Allah.”

Istilah Tuhan dan Allah di sini beda kandungannya dengan Tuhan dan Allah Kristen. Maka, sekarang jawab atas pertanyaan di atas mengenai ‘meditasi bagi orang Kristen’ tergantung apa yang kita maksudkan dan bagaimana melakukan 'meditasi' itu. Meditasi bisa berarti merenung atau samadi, dan ternyata penggunaan nama itu di Alkitab bahasa Inggris berarti lain dibandingkan penggunaannya dalam agama/aliran Kebatinan, sedangkan praktek meditasi Kristen yang umum dipraktekkan masa kini setali tiga uang dengan meditasi mistik, kecuali istilahnya diganti berbau kristiani.

Dalam Alkitab bahasa Inggris (Mazmur), istilah ‘meditate” dalam bahasa Indonesianya disebut merenungkan Taurat (Yos. 1:8; Mzm. 1:2), merenungkan Tuhan (Mzm. 63:7), merenungkan perbuatan Tuhan (Mzm. 77:13), merenungkan titah Tuhan (Mzm. 119:15,78), merenungkan ketetapan Tuhan (Mzm. 119: 23,48), merenungkan Janji Tuhan (Mzm. 119:148), dan merenungkan pekerjaan Tuhan (Mzm. 143:5). Dari ayat-ayat tersebut kita dapat melihat bahwa 'meditasi' dalam Alkitab Inggris selalu dikaitkan dengan 'adanya tujuan tertentu' dalam teologi Kristen, apakah itu merenungkan Taurat atau Tuhan sendiri. Bisa juga untuk merenungkan perbuatan, titah, ketetapan, janji atau pekerjaan Tuhan, jadi tujuannya jelas, dan meditasi ini dilakukan dalam doa atau saat teduh. Meditasi Alkitab ditujukan kepada Tuhan yang berpribadi, firmannya atau perintahnya dalam hubungan yang jelas antara 'ciptaan dan penciptanya.'

Berbeda dengan itu, 'meditasi mistik' dilakukan dengan obyek diri sendiri dan biasanya dengan cara bernafas dan sikap/posisi tertentu, tujuannya lebih untuk mengarah pada self, pengolahan tenaga batin, penyatuan diri dengan sumber yang 'ada' (Hinduisme, Taoisme) atau penyatuan diri dengan sumber yang menjadi 'tidak ada' (Zen-Buddhisme), jadi sifatnya berorientasi pada diri sendiri atau alam, dari ciptaan kepada ciptaan. Apalagi meditasi kebatinan biasa diiringi dengan latihan pernafasan dalam posisi lotus (piramid) dan otot dikendorkan, atau dengan posisi-posisi berubah-ubah seperti dalam Yoga.. Yang jelas meditasi adalah olah-pikiran yang juga sering diiringi pengucapan mantera. Bila meditasi itu dikaitkan dengan agama, sifatnya berfaham universalisme di mana semua tokoh agama itu hanya dianggap sebagai perantara (avatar) saja yang setara (Kristus sama dengan nabi-nabi agama lain), mereka hanya membantu diri sendiri yang bersifat ilahi melebur ke dalam diri/nafas semesta ‘Yang SATU itu.’

Dari perbandingan di atas, kita dapat melihat adanya perbedaan yang jelas antara kedua bentuk meditasi itu, dan karena istilah ‘meditasi’ sudah umum dikenal sebagai meditasi kebatinan, maka bagi umat Kristen, untuk membedakannya, lebih baik kita menggunakan terjemahan bahasa Indonesia yaitu ‘melakukan saat teduh/merenungkan’ daripada menggunakan terjemahan bahasa Inggris ‘meditate/meditation’ yang mengarah pada pengertian kebatinan dan berkonotasi New Age.

Memang, sekarang banyak orang Kristen tanpa sadar sudah menjadi target sinkretisme misi agama mistik yang berfaham universalisme (semua agama sama) melalui jargon ‘pengembangan diri, berfikir positif, atau meditasi Kristen’ yang mengabaikan adanya dosa dalam diri manusia dan mereka sebenarnya membutuhkan juruselamat dan bukan menjadi juru selamat bagi diri sendiri menuju pelepasan. Motivator Kristen banyak yang mempopulerkan slogan: “If it is to be, it is up to me.”

Umat Kristen perlu mengetahui bahwa dalam pelayanannya, Yesus dan Para rasul tidak pernah mengajarkan meditasi, latihan pernafasan, atau latihan gerak, mereka mengajarkan kehidupan yang benar yang berhubungan dengan datang kepada Tuhan Yesus Kristus dan bukan dengan cara penguasaan diri dan pikiran yang ditujukan kepada diri sendiri dan manusia menjadi juruselamat bagi dirinya sendiri.

Yesus dan Para Rasul mengajarkan agar kita ber‘doa’ yang ditujukan kepada Tuhan, Allah Bapa di Surga (Mat. 6:5-15). Tuhan Yesus berfirman:
“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan.” (Mat. 11:28-30)

Sumber: YABINA Ministry
Baca selanjutnya...

Nehemia: Doa dan Visi

Oleh: Haryadi Baskoro

Pada zaman pembuangan bangsa Israel di tanah Persia, Nehemia adalah seorang Yahudi yang memunyai kedudukan cukup tinggi dan mempunyai hubungan dengan raja negeri itu, Artahsasta. Ia mendapat izin dan dukungan raja untuk kembali ke Yerusalem guna membangun tembok-tembok kotanya yang telah runtuh. Di bawah kepemimpinan Nehemia, tembok Yerusalem selesai dibangun dalam 52 hari (Nehemia 6:15). Keberhasilan itu membuat malu musuh-musuh Israel yang mencemoohnya (Nehemia 6:16).

Semasa di Persia, Nehemia menjadi juru minum raja, sebuah jabatan yang istimewa. Raja Artahsasta sangat peduli dengan Nehemia dan mau mendengarkan aspirasi orang kepercayaannya itu. Dari hubungan itulah Nehemia berhasil melobi Artahsasta sehingga diberi izin untuk pulang ke Yerusalem guna membangun kota itu kembali (Nehemia 2:5). Bahkan, raja berkenan memberinya bantuan material berupa kayu-kayu untuk membangun pintu-pintu gerbang, bait suci, dan tembok kota Yerusalem (Nehemia 2:8).

Ketika tiba di Yerusalem, Nehemia melakukan penyelidikan rahasia untuk kemudian membuat perencanaan pembangunan (Nehemia 2:11-15). Selanjutnya, ia membagikan visi pembangunan itu kepada orang-orang Yahudi dan mereka pun merespons sangat positif (Nehemia 2:17). Dengan wibawa kepemimpinan yang kuat, Nehemia segera menggerakkan banyak orang untuk terlibat langsung dalam proses pembangunan tembok Yerusalem (Nehemia 3). Ketika pembangunan menghadapi tantangan, Nehemia menetapkan strategi-strategi yang jitu (Nehemia 4:16-19).

Nehemia bukan hanya berhasil membangun tembok Yerusalem, tetapi juga menjadi seorang pengembang (developer) yang mengatur perkembangan kota Yerusalem, baik secara teknis maupun tatanan sosial masyarakatnya (Nehemia 7:4-5). Di bawah kepemimpinan Nehemia, kota Yerusalem marak kembali.

Nehemia juga sangat memerhatikan pembangunan mental-spiritual bangsanya. Ia sangat tegas dalam menjaga kemurnian ibadah. Karena dosa imam Elyasib, Nehemia menjadi marah dan sedikit bersikap kasar (Nehemia 13:7-8). Ia lantas memerintahkan penahiran supaya ibadah Israel dimurnikan kembali (Nehemia 13:9).

Nehemia adalah seorang pemimpin yang benar-benar menjaga integritas kepemimpinannya. Sebagai bupati di tanah Yehuda, ia tidak mencari untung sendiri (Nehemia 5:18). Nehemia sangat menentang praktik korupsi yang merugikan rakyat!

Kehidupan Doa Nehemia
Ketika pada suatu hari Raja Artahsasta bertanya kepada Nehemia: "Jadi, apa yang kauinginkan?" (Nehemia 2:4a), ia tidak langsung menjawab. Tetapi, Nehemia berdoa dulu kepada Tuhan (Nehemia 2:4b). Di sini terlihat jelas prinsip iman Nehemia: ia tidak minta kepada manusia, tetapi minta kepada Tuhan.

Jika Anda seorang pendeta yang sedang membangun gedung gereja, lalu tiba-tiba datang kepada Anda seorang pengusaha kaya raya yang menanyakan apa keingian Anda, apa yang akan Anda lakukan? Mungkin secara refleks Anda akan langsung berkata, "Wah, saya sedang butuh seratus juta!", dengan harapan memperoleh donasi. Tetapi, pemimpin yang baik akan cepat mendengar dan lambat untuk berkata-kata (Yakobus 1:19). Lebih dari itu, ungkapkanlah dulu dan yang terutama keinginan Anda pada Tuhan. Jangan pernah berharap pada manusia!

Ketika menghadapi tantangan, cemooh, dan hinaan musuh, Nehemia tidak membalas, tetapi berdoa. Nehemia berseru, "Ya, Allah kami, dengarlah bagaimana kami dihina ...." (Nehemia 4:4). Pemimpin yang belum dewasa akan mudah terpancing emosi ketika harkat dan martabatnya diusik. Tetapi pemimpin Kristen yang dewasa membalas kejahatan dengan kebaikan, sebab Tuhan sajalah yang memunyai hak untuk melakukan pembalasan (Roma 12:19-21).

Nehemia menerapkan prinsip "ora et labora" (berdoa dan bekerja). Ketika Sanbalat dan Tobia mencoba menentang dan hendak menyerang pembangunan tembok Yerusalem, Nehemia menggalakkan doa (Nehemia 4:9) tanpa mengurangi semangat kerja yang gigih (Nehemia 4:16-18).

Ada pemimpin Kristen yang terjerumus dalam salah satu ekstrem: berdoa melulu tanpa bekerja, atau bekerja saja tanpa berdoa. Mengandalkan kekuatan sendiri tanpa doa tidak akan berhasil, malahan terkutuk (Yeremia 17:5). Tetapi, tanpa usaha juga tidak akan ada kemajuan. Ganjaran bagi seorang pemalas adalah kemiskinan (Amsal 6:9-11).

Nehemia selalu memohon perlindungan Tuhan melalui doa-doanya. Pada waktu orang-orang berusaha membunuhnya, Nehemia berdoa kepada Tuhan (Neheima 6:14). Ia tidak mau terancam oleh ancaman manusia, tetapi memohon perlindungan Tuhan.

Kehidupan doa Nehemia yang kuat membuatnya peka mendengar bisikan Roh Kudus. Meskipun bukan seorang pelihat, roh Nehemia yang sensitif sanggup menangkap kehendak Tuhan. Rencana-rencana yang dibuatnya bukan berasal dari pikirannya sendiri, namun merupakan ilham yang diberikan Tuhan (Nehemia 7:5).

Beban versus Panggilan
Kisah Nehemia dimulai dari bagaimana ia menerima informasi buruk tentang tembok Yerusalem yang telah terbongkar dan pintu-pintu gerbangnya yang telah terbakar habis (Nehemia 1:3). Mendengar kabar itu, Nehemia menangis, berkabung selama beberapa hari, dan berdoa puasa di hadirat Allah semesta langit (Nehemia 1:4). Perasaan duka itu tidak bisa ditutup-tutupinya, Nehemia selalu muram meskipun tubuhnya sehat walafiat (Nehemia 2:2).

Doa bertumbuh dari beban terhadap orang lain. Seorang pemimpin akan tekun berdoa jika hatinya sensitif dan mudah tergerak oleh belas kasihan. Pemimpin yang cuek biasanya tidak tertarik untuk berdoa. Tetapi, sampai di sini, harus diingat bahwa beban itu berbeda dengan panggilan. Rasa terbeban akan mendorong kita untuk berdoa, tetapi tidak sekaligus menjadikan kita terpanggil dalam beban itu. Melihat gelandangan di perempatan jalan hati kita terbeban, tetapi tidak selalu berarti bahwa Tuhan memanggil kita untuk melakukan pelayanan khusus bagi orang-orang tersebut.

Itulah sebabnya, Nehemia tidak langsung secara gegabah menetapkan pelayanannya. Begitu beban tentang kehancuran Yerusalem itu muncul di hatinya, Nehemia berdoa untuk beberapa waktu lamanya. Ia tidak langsung pergi ke Yerusalem untuk membangun reruntuhan itu. Bahkan, ketika ditanya oleh raja Artahsasta mengenai keinginan hatinya, Nehemia berdoa dulu (Nehemia 2:4), baru kemudian memberi jawaban yang berupa visi pelayanan untuk membangun kembali tembok Yerusalem.

Sebelum menangkap visi itu, Nehemia terlebih dahulu berdoa dan berpuasa (Nehemia 1:4). Nehemia kemudian menaikkan syafaat untuk kota Yerusalem (Nehemia 1:5-6). Doa-doa itu dilakukannya siang dan malam dengan tekun dan terus-menerus (Nehemia 1:6). Di dalam doanya, Nehemia juga merendahkan diri dengan mengaku dosa (Nehemia 1:6). Akhirnya, Nehemia mengingatkan Tuhan akan janji-janji-Nya kepada bangsa Israel (Nehemia 1:8-11).

Banyak pemimpin Kristen tidak berjalan dengan visi dari Tuhan. Pelayanan dan organisasinya dibangun atas dasar cita-cita dan pemikiran akal budi manusia. Pemimpin yang sejati akan diberi visi oleh Tuhan, dan itu diperolehnya melalui doa.

Pengerjaan visi itu juga dilandasi dengan doa yang kuat. Sebelum memberitahukan visinya kepada raja, Nehemia berdoa lebih dulu (Nehemia 2:4). Alhasil, visi itu direspons dan bahkan didukung penuh. Pelayanan harus kita mulai dan terus kita bangun dengan doa, sebab jika bukan Tuhan yang mendirikan, maka semua akan sia-sia (Mazmur 127:1).

Sumber: "Mezbah Doa Para Pemimpin", Yayasan ANDI, Yogyakarta 2008
Baca selanjutnya...

Doa dan Kebangunan gereja

Oleh: Pdt. Dr. Stephen Tong

Sebelum Tuhan Yesus lahir ke dunia, Allah telah menyediakan seorang wanita yang siang malam berdoa untuk itu. Wanita itu sudah berusia 84 tahun. Akhirnya, sebelum meninggal, ia sempat menyaksikan kelahiran Tuhan Yesus. Selain itu, Allah juga menyediakan seseorang bernama Simeon yang berada di Bait Allah ketika Yesus disunat pada hari kedelapan. Pertama kali Anak Allah mengalirkan darah-Nya di dalam dunia bukan di atas kayu salib, tetapi 33,5 tahun sebelumnya.

Dia mengalirkan darah bagi Anda dan saya pada waktu Dia disunat, karena Dia harus menaati semua tuntutan Hukum Taurat. Ketika Yesus disunat pada hari yang kedelapan, Maria dan Yusuf mempersembahkan korban di Bait Allah. Simeon menggendong Yesus yang masih bayi itu sambil berkata, "Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu." (Lukas 2:25-30)

Telah lama dia merindukan hal itu, sampai Tuhan memberinya kesempatan untuk menyaksikan apa yang dia rindukan. Terkadang kebangunan terjadi setelah orang yang mendoakannya meninggal, tetapi ada kalanya kebangunan terjadi sebelum ia meninggal. Berbahagialah orang yang masih sempat menyaksikan kebangunan itu terjadi. Tetapi kalau tidak sempat pun tidak apa-apa, karena setelah mati pun masih bisa menyaksikan. Jangan Anda mengira orang mati tidak bisa menyaksikan, kecuali dia yang mati di dalam dosa. Kalau demikian, mungkinkah tanpa gerakan Tuhan, seorang bisa berdoa untuk kebangunan? Jawabnya tidak. Kalau kita merasa perlu ada kebangunan dan kita mulai berdoa bagi hal tersebut, berarti Roh Kudus telah memberikan pengertian dan menggerakkan kita untuk berdoa.

Doa Sejati Awal Kebangunan Sejati
Apakah kebangunan terjadi karena doa manusia? Kebangunan adalah anugerah Tuhan, maka bukan karena kita berdoa lalu Tuhan mengadakan kebangunan, dan bila kita tidak berdoa maka Tuhan tidak mengadakan kebangunan. Kalau demikian, bukankah ini merupakan pernyataan yang bersifat kontradiktif? Bukankah sejarah bungkam dan tidak pernah mencatat kebangunan yang tidak dimulai dengan doa? Berarti kita berdoa dulu, baru kebangunan terjadi. Kalau begitu, bukankah doa yang mengakibatkan kebangunan? Berdoa dahulu, baru terjadi kebangunan, kalau tidak berdoa berarti tidak akan terjadi kebangunan. Secara urutan waktu dan secara tertulis memang betul, berdoa dahulu baru terjadi kebangunan. Jadi, bukankah kebangunan merupakan hasil doa kita? Kita memberi perintah kepada Allah, dan Allah menaatinya? Tidak. Karena doa yang benar sudah merupakan permulaan dari kebangunan yang sesungguhnya. Artinya, anugerah Tuhan selalu mendahului reaksi manusia.

Kalimat "Karena saya berdoa, maka Allah memberikan anugerah kepada saya," sepintas lalu kedengarannya benar. Namun jika kalimat tersebut dibalik, "Karena saya tidak berdoa, maka Allah tidak memberikan anugerah-Nya kepada saya," menjadi kurang benar. Itulah yang diucapkan oleh Agustinus. Lalu dia menyambung lagi dengan kalimat: "Karena tanpa anugerah-Mu, saya tidak bisa berdoa. Saya bisa menaikkan doa yang benar, yang sesuai dengan kehendak-Mu itu karena doa saya sudah disucikan, sudah Engkau tolong."

Doa Sejati Digerakkan oleh Roh Kudus
Di dalam Roma 8:26, dicantumkan bahwa Roh Kudus mengetahui dan menolong kita berdoa dengan keluh kesah dalam kalimat yang tidak terkatakan. Doa kita sering salah dan egosentris. Kalau kita sering berdoa dengan cara yang salah, tidak berfokus, tidak mencari kemuliaan kerajaan dan kebenaran Allah terlebih dahulu, selalu menaikan doa yang membuat Tuhan marah, maka semakin kita berdoa, Tuhan akan semakin jengkel dan semakin membenci kita. Oleh sebab itu, doa kita tidak dikenan Tuhan. Doa kita perlu dikoreksi. Lalu bagaimana doa kita yang egosentris, yang sering salah, yang tidak berfokus, serta yang tidak sesuai dengan kehendak Allah itu bisa dikoreksi dan diterima oleh-Nya? Untuk tugas itulah Allah mengirim "Parakletos". Allah mengirim Penghibur yang agung, yang sekaligus menjadi guru untuk memimpin kita ke dalam kebenaran. Roh Kudus menolong kita berdoa, dengan keluh kesah yang tidak terkatakan. Artinya, Dia menolong kita dengan sabar, bagaikan seorang ibu yang menjaga dan membimbing anaknya yang nakal sekali. Ia diajar, dikoreksi, dan didoakan dengan keluh kesah. Demikian juga cara yang dipakai Roh Kudus.

Pengertian ayat ini adalah bahwa permintaan kita yang selalu egosentris, bersalah, tidak berfokus, dan tidak sesuai dengan kehendak Tuhan hanya bisa dikoreksi, ditolong, dan diberi kekuatan oleh Roh Kudus. Pada waktu kita malas berdoa, pada waktu kita tidak merasa perlu untuk berdoa, pada waktu kita tidak mau berdoa dengan sungguh-sungguh, Roh Kuduslah yang menolong, memberi kekuatan, dan dorongan kepada kita, sehingga kita bisa berdoa. Kita minta kepada Tuhan untuk bisa merendahkan diri di hadapan-Nya, agar doa kita bisa dibenarkan oleh Roh Kudus dan bisa diterima oleh Tuhan. Bapa di surga menerima doa kita, karena di tengah-tengah surga dan manusia terdapat pengantara, yaitu Yesus Kristus, yang sudah mati dan bangkit, yang telah mengalahkan segala penguasa dengan kuasa-Nya. Bapa di surga menerima Yesus Kristus sebagai Pengantara, sehingga doa kita bisa sampai kepada Dia, karena doa kita sudah dikoreksi, dibenarkan, dan ditolong oleh Roh Kudus. Itulah doa.

Doa berarti saya sadar bahwa diri saya hanyalah manusia. Saya menaklukkan diri di bawah kedaulatan Allah. Saya memerlukan Dia, bukan untuk menyombongkan diri atau membanggakan diri, tetapi untuk menjadi sandaran di dalam doa saya. Saya berdoa kepada Bapa di dalam nama Anak melalui pimpinan Roh. Roh Kudus menolong kita berdoa dan memperhalus doa kita, Roh Kudus memberi ketekunan, mengoreksi, dan membawa kita ke dalam Roh yang sesungguhnya. Itu yang disebut berdoa di dalam Roh.

Jangan berpikir bahwa berdoa di dalam Roh itu adalah doa yang dinaikkan dengan bahasa roh. Karena dengan berpikiran begitu, berarti kita terlalu berani menafsirkan Alkitab dengan salah. Alkitab berkata, berjalan di dalam Roh, taat di dalam Roh, hidup di dalam Roh, melakukan segala sesuatu di dalam Roh, mengapa kita hanya menafsirkan berdoa di dalam Roh adalah berdoa dengan bahasa roh?

Bagaimana dengan berjalan di dalam Roh, hidup di dalam Roh, dan berbuat segala sesuatu di dalam Roh? Adapun maksud berdoa di dalam Roh, hidup di dalam Roh, dan taat pada pimpinan Roh adalah takluk kepada Roh Allah di dalam rohmu, yaitu mengakui akan kedaulatan Roh yang menguasai seluruh keberadaan Anda, baik pada waktu Anda berdoa, bersandar, bertindak, berjalan, maupun hidup. Itulah yang disebut "dalam Roh".

"En Christos" (di dalam Kristus) adalah status hidup yang baru. "En Pneuma" (di dalam Roh Kudus) adalah hidup baru yang dinaungi dan dipimpin sepenuhnya oleh Roh Kudus. Di dalam Kristus dan di dalam Roh ada dua hal yang membuat kita berada di dalam Allah. Di sini kita menyaksikan bahwa kasih Allah dicurahkan kepada kita melalui Kristus dan kasih Allah memenuhi kita melalui Roh kudus. Dan kasih yang dari Allah kepada kita itulah yang mengakibatkan kita hidup di dalam Kristus melalui pimpinan Roh. Allah Tritunggal terus bekerja, bersirkulasi, dan memberi pengertian tentang Kitab Suci. Biarlah kita memunyai kestabilan dan keseimbangan. Jika "berdoa di dalam roh" diartikan berdoa dengan bahasa roh, apakah "hidup di dalam roh" berarti hidup dengan bahasa roh, dan "berjalan di dalam roh" berarti berjalan dengan bahasa roh atau berjalan tanpa menginjak tanah? Harap kita mengerti dan menafsir firman Tuhan secara lebih bertanggung jawab.

Lalu bagaimana dengan "beribadah di dalam roh"? Ibadah di dalam roh berarti beribadah dengan hati yang sepenuhnya ditaklukkan kepada pimpinan Roh Kudus. Jika seluruh hidup dan kelakuan kita ditaklukkan di bawah tuntunan Roh Kudus, di situ kita dikatakan "berjalan di dalam roh". Konsep-konsep Alkitab ini sebenarnya sedemikian mudah dimengerti. Meskipun sederhana, tetapi mendalam. Janganlah kita melepas-lepaskannya sehingga menjadi kepingan-kepingan yang artinya menjadi kacau. Paulus menegaskan bahwa berdoa di dalam Roh bukan berarti tidak dengan pengertian. Karena jika Anda hendak berdoa di dalam roh, Anda juga harus berdoa dengan pengertian. Bukan berarti kalau kita mengatakan "roh... roh..." maka kita yang berdoa di dalam Roh, tidak lagi memakai pikiran.

Paulus berkata, "Aku akan berdoa dengan rohku, tetapi aku akan berdoa juga dengan akal budiku." Di dalam Roh, kita betul-betul taat kepada Tuhan, tetapi pengertian (akal budi) kita tetap bertanggung jawab. Kita perlu senantiasa mempertanyakan apakah semua yang kita taati itu sesuai dengan Alkitab atau tidak. Jangan hanya berdoa di dalam Roh, tapi berdoa juga di dalam pengertian (akal budi). Namun, ayat ini sudah dibalikkan oleh banyak orang. Ada orang-orang yang tidak bertanggung jawab mengatakan bahwa jika kita berdoa dengan kalimat-kalimat yang bisa dimengerti, maka orang itu tidak memunyai Roh. Berdoa di dalam Roh, ialah berdoa dengan tidak memakai kalimat, tidak memakai pengertian. Hal ini jelas sekali membalikkan fokus ajaran Alkitab. Di Korintus terdapat banyak orang yang menganggap dirinya bisa berdoa dengan bahasa roh, yaitu mereka kira berdoa dengan tidak memakai pengertian. Oleh karena itu, Paulus berkata, "Aku akan berdoa dengan rohku, tetapi aku akan berdoa juga dengan akal budiku." Jangan dibalikkan. Orang yang menafsirkan Alkitab dengan sembarangan, yang membalikkan ayat-ayat firman Tuhan, telah menghilangkan makna dan fokus dari ajaran Alkitab itu. Ia harus bertanggung jawab kepada Tuhan.

Sumber: "Roh Kudus, Doa, dan Kebangunan" Lembaga Reformed Injili Indonesia, 1995
Baca selanjutnya...

Hasrat untuk Kemurnian vs Doa yang Pasif

Oleh: John Piper

Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya. Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkan, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimujika satu dari anggota tubuhmu binasa, daripada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka. (Matius 5:28-29)

Jika Anda dipikat secara seksual, apakah Anda bertarung dengan pikiran Anda untuk berkata tidak kepada gambaran itu dan kemudian berjuang keras untuk memenuhi pikiran Anda dengan gambaran-gambaran tandingan yang sepenuhnya menghilangkan gambaran yang menggoda? "Jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup" (Roma 8:13).

Terlalu banyak orang berpikir mereka telah bergumul dengan pencobaan kedka mereka telah berdoa meminta ke-lepasan dan berharap hasrat itu akan lenyap. Itu juga adalah sikap yang terlalu pasif. Memang, Allah bekerja di dalam diri kita untuk [membuat kita] menginginkan dan melakukan kerelaan kehendak-Nya! (Tetapi efeknya adalah kita "mengerjakan keselamatan [kita] sendiri dengan takut dan gentar" (Filipi 2:12-13). Mencungkil mata Anda mungkin adalah sebuah metafora, tetapi hal itu berarti melakukan sesuatu yang sangat keras. Otak adalah "otot" yang harus dilenturkan untuk kemurnian, dan dalam diri orang Kristen, otak memiliki Roh Kristus sebagai kompresornya.

Maksudnya adalah bahwa kita tidak boleh memberi waktu lebih dari lima detik kepada satu gambaran atau rangsangan seksual sebelum kita melancarkan serangan balasan yang dahsyat dengan pikiran. Saya bersungguh-sungguh! Lima detik. Dalam dua detik pertama, kita berteriak, "TIDAK! Enyahlah dari pikiranku!" Selama dua detik berikutnya kita berseru: "Ya Allah, di dalam nama Yesus, tolonglah aku. Selamatkan aku sekarang. Aku adalah milik-Mu."

Permulaan yang baik. Tetapi kemudian pertempuran yang sesungguhnya dimulai. Ini adalah perang pikiran.Yang mutlak harus dilakukan adalah mengeluarkan gambaran dan rangsangan itu dari pikiran kita. Bagaimana caranya? Munculkanlah gambaran-tandingan yang meninggikan-Kristus dan menguasai jiwa di dalam pikiran. Lawan. Dorong. Serang. Jangan lengah. Gambaran itu harus berupa gambaran yang begitu kuat sehingga gambaran yang satunya tidak bisa bertahan. Ada gambaran-gambaran dan pikiran-pikiran yang bisa mengalahkan nafsu.

Sebagai contoh, pernahkah Anda selama lima detik pertama saat menghadapi pencobaan menuntut pikiran Anda untuk memandang tanpa henti pada bayangan Yesus Kristus yang disalibkan? Bayangkanlah hal ini.Anda baru saja melihat sehelai blus yang sedikit terbuka yang mengundang fantasi lebih jauh. Anda mungkin memiliki lima detik.

"Tidak! Enyahlah dari pikiranku! Allah, tolonglah saya!" Kini, seketika itu juga, tuntudah pikiran Anda—Anda bisa melakukan hal ini oleh Roh (Roma 8:13)—tuntutlah pikiran Anda untuk memusatkan perhatiannya kepada Kristus di kayu salib. Gunakanlah seluruh kemampuan berfantasi Anda untuk melihat punggung-Nya yang terkoyak.Tiga puluh sembilan cambukan menyisakan sedikit daging yang masih utuh. Dada-Nya naik turun saat la menghela napas dan punggung-Nya bergesekan dengan palang kayu vertikal yang kasar. Setiap tarikan napas semakin memperlebar koyakan itu. Tuhan megap-megap. Berulang kali la menjerit karena rasa sakit yang tidak tertahankan. la berusaha menjauhi kayu itu tetapi paku sangat besar yang menancap di pergelangan tangan-Nya merobek ujung-ujung urat nadinya dan la menjerit lagi dengan kesakitan dan mendorong ke atas dengan kaki-Nya untuk sedikit meringankan rasa sakit di pergelangan tangan-Nya. Tetapi tulang-tulang dan urat-urat di dalam kaki-Nya yang terpaku saling berbenturan dan menimbulkan rasa sakit yang luar biasa sehingga la menjerit lagi. Tidak ada kelegaan. Kerongkongan-Nya kering karena menjerit dan kehausan. la kehabisan napas dan berpikir bahwa la tercekik, dan tiba-tiba tubuh-Nya tanpa sengaja berusaha menghirup udara dan seluruh luka itu menyatu dalam rasa sakit. Dalam siksaan, la melupakan mahkota yang terbuat dari duri-duri berukuran dua inci dan dengan putus asa menghentakkan kepala-Nya ke belakang, tetapi itu membuat salah satu dan duri-duri itu menghantam palang kayu salib dan menancap masuk sedalam setengah inci ke dalam tengkorak-Nya. Suara-Nya melengking sangat tinggi karena kesakitan dan jeritan-jeritan-Nya bergema di sekujur tubuh-Nya yang sangat kesakitan sementara setiap jeritan menimbulkan rasa sakit yang lebih besar.

Kini, saya tidak lagi memikirkan blus itu. Saya berada di Kalvari. Kedua gambaran ini tidak sepadan. Jika Anda bersedia menggunakan otot otak Anda untuk mengejar—mengejar habis-habisan dengan otot pikiran Anda—gambaran-gambaran Kristus yang tersalib dengan energi krearif yang sama yang Anda gunakan untuk mengejar fantasi-fantasi seksual, Anda akan mematikannya. Tetapi itu harus dimulai dalam lima detik yang pertama—dan jangan menyerah.

Jadi pertanyaan saya adalah: Apakah Anda bertempur, dan bukan hanya berdoa dan menunggu dan berusaha untuk menghindari? Ini adalah soal pertempuran antara bayangan dengan bayangan. Ini adalah pertarungan mental yang tidak kenal belas kasihan, ganas, bukan sekadar berdoa dan menunggu. Bergabunglah dengan saya dalam pertempuran berdarah ini untuk menjaga agar pikiran dan tubuh saya tetap suci bagi Tuhan dan bagi istri saya dan jemaat saya. Yesus menderita secara tidak terbayangkan untuk "menguduskan bagi diri-Nya suatu umat untuk menjadi kepunyaan-Nya sendiri" (Titus 2:14). Setiapjeritan dan kekejangan ditujukan untuk mematikan hawa nafsu saya—"la sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita mati terhadap dosa dan hidup untuk kebenaran" (1 Petrus 2:24).

Sumber: “Pierced by the Word”, Desiring God Foundation, 2003
Baca selanjutnya...

Orang Farisi dan Pemungut Cukai

Oleh: Greg Laurie

Pernahkah Anda menonton film dan Anda merasa pasti bahwa Anda tahu bagaimana akhir ceritanya—pria mana yang akan mendapatkan si gadis atau siapakah sebenarnya orang jahat dalam cerita itu — tetapi kemudian ceritanya berubah drastis dan memperlihatkan akhir cerita yang tidak disangka-sangka?

Itulah yang terjadi dengan perumpamaan yang Yesus sampaikan mengenai dua orang yang sedang berdoa. Ceritanya dimulai seperti ini: "Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai" (Lukas 18:10).

Saat Yesus mulai dengan kata-kata itu, saya pikir pendengar-pendengarnya langsung mendengarkan dengan saksama untuk mengetahui siapa pahlawan dan orang jahatnya dalam cerita ini. Memperhatikan keadaan budaya di waktu cerita tersebut diceritakan, pasti orang Farisilah yang akan keluar sebagai orang baiknya, dan pemungut cukai sebagai orang jahatnya.

Hal ini sulit kita mengerti saat ini karena kita telah menambahkan pengertian lain atas kata Farisi, dan secara umum kita lihat dari sisi negatifnya. Tetapi keadaan sekarang berbeda dengan zaman Yesus. Orang Farisi dianggap sebagai orang-orang besar yang dihormati, orang-orang yang berkomitmen unruk mempelajari firman Tuhan dan mengikuti Tuhan dan menaati segala perintah-Nya dengan segenap kemampuan mereka, jauh melebihi apa yang dilakukan oleh orang-orang biasa.

Sementara itu, orang-orang pada waktu itu membenci para pemungut cukai sama seperti kita sekarang yang tidak menyukai pemungut pajak—dan mungkin lebih dari kita. Pada masa itu ditetapkan pajak yang terlalu tinggi bagi orang-orang tersebut sama seperti kita sekarang, hanya saja waktu itu jauh lebih buruk sebab para pemungut cukai mengenakan biaya tambahan di atas jumlah yang harus mereka setor kepada pemerintah Romawi dan biaya tambahan tersebut masuk ke dalam kantong mereka sendiri. Bukan hanya itu, tetapi ia bisa juga disebut pengkhianat—kaum Yahudi yang bekerja untuk orang-orang Romawi yang dibenci, memungut cukai dari sesama Yahudi untuk kepentingan pendatang asing.

Jadi, ketika Yesus memulai ceritanya, kira-kira seperti cerita kita saat ini, "Seorang pendeta dan pengedar obat terlarang pergi ke gereja untuk berdoa." Atau "Ibu Teresa dan Adolf Hitler pergi ke gereja untuk berdoa." Atau “Billy Graham dan Marilyn Manson.” Mendengar cerita seperti itu, orang akan langsung membedakan dalam pikiran mereka mana orang baik dan mana yang jahat, dan Anda berpikir, sudah pasti Tuhan akan mendengarkan doa Billy Graham daripada doa Marilyn Manson. Dan mengapa Tuhan mau lakukan itu? Apakah karena Billy Graham seorang penginjil besar? Tidak. Bila terjadi, itu dikarenakan Billy Graham datang kepada Tuhan dengan cara yang sama dengan bagaimana Anda dan saya datang kepada Tuhan, melalui darah Yesus Kristus. Billy Graham rnempunyai akses yang sama kepada Tuhan seperti halnya Anda dan saya.

Kembali pada cerita kita. Mari lihat bagaimana sang 'pahlawan' berdoa: Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: "Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezina dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku" (ayat 11-12).

Perhatikan pertama-tama dua kata kecil yang diselipkan oleh Yesus—orang ini berdoa "dalam hatinya" (bila diterjemahkan dari Alkitab bahasa Inggris yaitu: orang ini berdoa "dengan dirinya sendiri"). Pengertian harfiah dari kata ini adalah, "ia berdoa kepada dirinya sendiri." Apakah Anda tahu bahwa kita bisa berdoa kepada diri kita sendiri? Bila tidak ada penghormatan akan Tuhan dalam doa Anda, pada intinya Anda sedang berdoa kepada diri sendiri, dan doa Anda tinggal di tempat. Banyak orang dengan rutin mengucapkan doa-doa mereka, namun tidak pernah benar-benar berdoa, sebab hati mereka tidak sesuai dengan Tuhan. Itulah yang terjadi dengan orang Farisi ini.

Pada titik ini, adalah sangat baik untuk melihat ke belakang mengenai mengapa Yesus menceritakan perumpamaan ini: "kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain, Yesus mengatakan perumpamaan ini" (ayat 9). Inilah yang merupakan akar permasalahan orang Farisi—menganggap dirinya benar.

Tetapi jangan salah paham. Yesus tidak mencela orang Farisi karena ia berpuasa dua kali seminggu dan ia menyerahkan persembahan persepuluhan sebesar 10 persen dari segala hartanya. Itu sebenarnya merupakan hal yang terpuji.

Malahan, orang ini melakukan di atas dan lebih dari apa yang ditentukan oleh hukum. Adalah suatu kebiasaan bagi orang Farisi untuk menyerahkan persepuluhan dari hasil tuaiannya, tetapi orang Farisi ini melakukan lebih dari itu—ia mengenakan persepuluhan pada semuanya. Perlukah kita mengkritik dia mengenai hal ini saat kita sendiri jarang menyerahkan persepuluhan bahkan dari sebagian saja milik kita? Atau perlukah kita mengkritik dia karena berpuasa dua kali seminggu saat kita sendiri tidak berpuasa bahkan satu kali pun dalam satu bulan atau satu tahun?

Kita membela diri kita sendiri dengan berkata bahwa saat ini kita hidup dalam anugerah, bukan hukum—bahwa kita hidup dalam Perjanjian Baru, bukan Perjanjian Lama. Tetapi pengertian yang benar mengenai Perjanjian Baru berarti Anda memberikan lebih banyak dari yang Anda sebelumnya berikan saat Anda berada di dalam hukum, bukannya lebih sedikit; Anda akan berdoa dan berpuasa lebih banyak, bukannya lebih sedikit.

Yesus tidak bermaksud mengatakan bahwa orang Farisi itu salah karena melakukan hal-hal tersebut, tetapi karena ia percaya akan apa yang ia lakukan—ia percaya kepada dirinya sendiri. Kita bisa melakukan hal yang sama. Kita pikir, Tuhan akan mendengarkan saya sebab minggu ini saya pergi kegereja—pasti itu berarti untuk-Nya. Atau Tuhan pasti mendengarkan saya sebab tadi pagi saya membaca Firman untuk waktu yang lama atau karena saya menyampalkan Injil kepada seseorang minggu lalu atau karena akhir-akhir ini saya banyak menolong orang lain—atau bahkan karena saya telah bergumul dengan intens dalam doa.

Tidak, Tuhan akan mendengarkan Anda hari ini dan setiap hari hanya karena Anda datang kepada-Nya melalui Yesus Kristus, melalui darah-Nya yang dicurahkan, dan bukan karena alasan lainnya. la mendengarkan doa kita karena pengorbanan Yesus.

Hilang dan Berharga
Orang Farisi yang berdoa itu bukan saja mempercayai dirinya sendiri, tetapi tampaknya ia berdoa dengan nyaring sehingga orang-orang di sekitarnya bisa mendengarnya dan menjadi kagum. Dan perhatikan sikap yang ia perlihatkan kepada si pemungut cukai: "Aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti... pemungut cukai ini." Perkataannya seolah memandang rendah. Dan Anda tahu, saat Yesus menyampaikan cerita ini, kebanyakan orang yang mendengar mungkin merasakan hal yang sama terhadap pemungut-pemungut cukai. Banyak dari kita bisa bersikap demikian terhadap orang-orang non-Kristen.

Saya merasa prihatin bila mendengar bagaimana orang-orang percaya berbicara mengenai orang-orang yang belum percaya sebagai si musuh. Menurut firman Tuhan, mereka yang tidak percaya telah dibelenggu oleh iblis untuk melakukan kehendak-Nya—mereka adalah tawanan-tawanan perang. Orang-orang yang belum percaya bukanlah musuh; mereka adalah tawanan-tawanan musuh. Dan beberapa waktu lalu Anda ada di dalam penjara sana bersama mereka, terikat oleh dosa Anda dan tanpa sang Juru Selamat.

Kita perlu memiliki belas kasihan bagi orang-orang yang belum percaya, bukannya kepura-puraan, karena Anda tidak akan pernah bisa dengan efektif membagikan iman Anda kepada orang lain bila Anda tidak memperhatikan mereka terlebih dahulu.

Si pemungut cukai dalam cerita Yesus memang adalah orang yang jahat. Namun ia tetap membutuhkan sang Juru Selamat. Anda ingat bagaimana Yesus menghadapi pemungut cukai lain yang bernama Zakheus? Kita tahu bahwa Zakheus memperkaya dirinya sendiri di atas kesengsaraan orang lain. Tetapi ketika Yesus (dalam Lukas 19) sedang berjalan melintasi kota dan melihat orang yang dibenci ini di atas sebuah pohon, la berhenti dan memandang ke atas dan berkata, "Zakheus, segeralah turun, kita akan makan bersama-sama!"

Bisakah Anda bayangkan betapa kagetnya Zakheus? Dan kekagetan semua orang di jalan itu yang mendengar Yesus mengatakan hal ini? Mungkin mereka akan bersorak bila Yesus melihat Zakheus di atas sana dan berseru, "Hei semuanya, mari kita bakar pohon ini!"

Tetapi Yesus memiliki belas kasihan. la segera dikritik karena hal itu, tetapi kata-Nya, "Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang" (Lukas 19:10). Orang-orang yang terhilang berharga di hadapan Tuhan. Mereka diciptakan dengan unik menurut gambar-Nya. Ia mengasihi mereka hingga rela mengutus Anak-Nya yang Tunggal untuk mati disalibkan bagi mereka. Kita perlu melihat orang-orang ini bukan dengan cara seperti orang Farisi memandang mereka, tetapi dengan cara Yesus—sebagai domba-domba tanpa gembala.

Saya Orang Berdosa
Sekarang mari kita melihat dengan lebih saksama pada orang jahat ini, si pemungut cukai. Betapa kontrasnya! Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: "Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini" (Lukas 18:13).

Ia tidak mengemukakan kebaikan-kebaikannya seperti yang dilakukan oleh orang Farisi, tetapi ia mengakui dosa-dosanya. Ia tidak berniat membandingkan dirinya dengan orang Farisi atau orang lain. Ia tahu ia telah jatuh sangat jauh dari standar Tuhan, dan ia bertanggung jawab sepenuhnya atas segala tindakannya. Ia tidak membuat alasan apa pun; ia juga tidak menyalahkan orang lain.

Ia mengucapkan doa orang berdosa satu-satunya yang saya tahu ada dalam Alkitab: "Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini." Ungkapan yang digunakan, "aku orang berdosa ini," dapat juga diterjemahkan, "aku si pendosa." Bukan hanya satu di antara banyak pendosa, tetapi si pendosa! Si pemungut cukai ini pastilah sangat terkenal akan kejahatannya.

Rasul Paulus membuat pernyataan yang sama ketika ia menulis, "Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa, dan di antara mereka akulah yang paling berdosa" (1 Timotius 1:15). Suatu kenyataan yang menarik di sini adalah: Semakin dekat Anda kepada Tuhan dan semakin serupa Anda dengan Yesus, maka semakin Anda sadar akan sifat dosa Anda.

Artinya semakin banyak Anda menilai orang lain, maka tingkat kerohanian Anda sebenarnya semakin berkurang. Dan semakin bertambahnya tingkat kerohanian Anda, maka semakin sedikit juga Anda menilai orang—karena Anda sadari dengan sungguh-sungguh bahwa Anda bukannya lebih baik dari orang itu, bahkan bisa lebih buruk dari mereka yang ada di sekeliling Anda.

Pria dan wanita yang takut akan Tuhan yang saya kenal selama ini adalah orang-orang yang rendah hati, tidak penuh dengan kesombongan. Tunjukkan kepada saya seseorang yang selalu punya kata kritikan untuk orang lain, selalu bisa mencela ini dan itu mengenai orang lain, dan saya akan tunjukkan kepada Anda seseorang yang penuh dengan kesombongan Farisi.

Maksud Yesus mengenai si pemungut cukai sangat jelas dan tegas: Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan (Lukas 18:14).

Dalam doa pergumulan, jangan lupa bahwa cara mendekat kepada Tuhan yang diajarkan oleh Kristus adalah jalan kerendahan hati yang diambil oleh si pemungut cukai ini: "Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini." *

Sumber: "Wrestling With God" (Bergumul Dengan Tuhan)/Greg Laurie/Immanuel, Jakarta/2004
Baca selanjutnya...

Kesendirian Bersama Tuhan

Oleh: Henri J.M. Nouwen

Tanpa memiliki kesendirian bersama Tuhan, sangatlah tidak mungkin untuk hidup dalam suatu kehidupan yang rohani. Kesendirian untuk memberikan waktu dan tempat bagi Allah berbicara kepada kita.

Jika kita benar-benar percaya bahwa bukan hanya Allah itu ada, tetapi juga percaya bahwa Dia hadir secara aktif dalam kehidupan kita —menyembuhkan, mengajar, dan memimpin— maka kita perlu meluangkan waktu dan tempat secara khusus untuk memberikan perhatian kita kepada-Nya sepenuhnya. Yesus berkata, “Masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi” (Mat. 6:6).

Memberikan waktu untuk menyendiri bersama Tuhan dalam kehidupan kita merupakan salah satu hal yang paling penting, tetapi juga merupakan disiplin yang paling sulit. Meskipun kita mungkin memiliki kerinduan yang dalam untuk bersekutu secara pribadi dengan sungguh-sungguh bersama Tuhan, tetapi kita juga mengalami keprihatinan tertentu pada saat kita memasuki tempat dan waktu untuk menyendiri. Segera setelah kita sendirian bersama Tuhan, tanpa ada orang lain untuk bercakap-cakap, tanpa ada buku-buku untuk dibaca, tanpa ada televisi untuk ditonton, atau tanpa ada pembicaraan lewat telepon yang dilakukan, maka timbullah kegalauan di dalam hati kita.

Kegalauan ini dapat begitu mengganggu dan membingungkan sehingga kita tidak dapat tahan untuk tidak melakukan kesibukan lagi. Akan tetapi, masuk ke dalam kamar pribadi dan menutup pintu tidak berarti kita lalu segera menumpahkan segala keraguan hati kita, kekhawatiran kita, ketakutan kita, ingatan buruk yang kita miliki, masalah kita yang belum terselesaikan, perasaan marah kita, dan keinginan hati kita. Sebaliknya, pada saat kita telah menghentikan kebingungan kita di luar, kita sering mengalami bahwa kebingungan kita di bagian dalam menjadi lebih nyata. Kita pun sering menggunakan kebingungan kita di luar itu untuk melindungi diri kita dari kegalauan di bagian dalam. Karena itu tidaklah mengherankan apabila sulit sekali bagi kita memiliki waktu untuk menyendiri bersama dengan Tuhan. Konfrontasi atau pergumulan yang terjadi di dalam hati kita itu bisa sangat menyiksa apabila kita tetap bertahan.

Hal ini menyebabkan disiplin untuk menyendiri bersama dengan Tuhan menjadi lebih penting dari segalanya. Kesendirian bersama dengan Tuhan itu bukanlah suatu tanggapan (respon) yang spontan bagi kehidupan yang penuh dengan kesibukan dan keasyikan. Ada banyak sekali alasan untuk tidak menyendiri bersama dengan Tuhan. Karena itu, kita harus dengan seksama merencanakan atau mengatur waktu untuk menyendiri dengan Tuhan.

Lima atau sepuluh menit setiap hari barangkali kita semua bisa bertahan untuk melakukannya. Mungkin kita telah siap untuk menyediakan waktu satu jam setiap hari, semalam suntuk dalam seminggu, sehari penuh dalam sebulan, atau seminggu dalam setahun. Banyaknya waktu yang diberikan oleh setiap pribadi tidak sama antara satu dengan lainnya, sesuai dengan watak (temperamen), umur, pekerjaan, cara hidup, dan kedewasaan masing-masing individu. Tetapi kita tidak pernah mengalami kehidupan yang rohani dengan sungguh-sungguh jika kita tidak menyediakan waktu khusus untuk menyendiri bersama Allah dan mendengarkan suara-Nya.

Mungkin kita harus menjadwalkan dalam kalender kegiatan harian kita, sehingga tak seorangpun dapat mengambil waktu khusus tersebut. Dengan demikian kita akan bisa berkata kepada semua sahabat, tetangga, murid, langganan, klien, atau pun orangtua kita, “Maafkan saya, sebab saya telah membuat sebuah janji pada saat itu dan tidak dapat diubah.”

Pada waktu kita telah mengikat diri untuk menyediakan waktu secara pribadi bagi Tuhan, maka kita mengembangkan perhatian yang sungguh terhadap suara Allah di dalam diri kita. Pada hari-hari, minggu-minggu, bahkan bulan-bulan pertama, barangkali kita merasakan bahwa kita hanya membuang-buang waktu dengan melakukan hal itu. Pada awalnya waktu menyendiri bersama Tuhan itu mungkin lebih sedikit artinya dibandingkan dengan bila kita dibombardir oleh ribuan pikiran dan perasaan yang timbul dari tempat tersembunyi dalam pikiran kita.

Seorang penulis muda Kristen menjelaskan tentang langkah awal doa seorang diri, dari pengalaman seseorang yang setelah bertahun-tahun hidup dengan pintu terbuka, pada akhirnya memutuskan untuk menutup pintu itu. Para pengunjung yang biasa datang dan memasuki rumahnya mulai mengetok pintunya, sambil bertanya-tanya mengapa mereka tidak diijinkan masuk. Hanya pada saat mereka sadar bahwa mereka tidak disambut dengan baik, secara berangsur-angsur mereka tidak datang lagi ke rumah orang itu. Hal ini merupakan pengalaman dari seorang yang memutuskan untuk melakukan persekutuan pribadi bersama Tuhan setelah sekian lama kehidupannya tidak memiliki disiplin rohani sama sekali. Pada awalnya, berbagai macam gangguan itu tetap menyatakan dirinya. Lama-kelamaan, karena mereka tidak diperhatikan lagi sama sekali, maka mereka dengan pelan-pelan meninggalkan tempat itu.

Jelas sekali bahwa persoalannya adalah kesetiaan yang diperlukan pada disiplin ini. Pada permulaannya, menyendiri bersama dengan Tuhan itu tampaknya sangat berlawanan dengan segala keinginan kita, sehingga kita terus-menerus digoda untuk melarikan diri dari hal itu. Salah satu cara untuk melarikan diri dari hal itu ialah mimpi di siang hari, atau mudahnya, kita tertidur. Tetapi apabila kita memegang disiplin itu erat-erat, dengan keyakinan penuh bahwa Allah bersama dengan kita sekalipun kita belum mendengar suara-Nya, maka pelan-pelan kita mengerti bahwa kita tidak ingin kehilangan waktu kita untuk menyendiri bersama Allah. Walaupun kita tidak mengalami banyak kepuasan dalam kesendirian kita dengan Allah, kita menyadari bahwa satu hari tanpa menyendiri dengan Allah adalah kurang “rohani” daripada satu hari dengan menyendiri bersama Allah.

Secara intuitif, kita tahu bahwa sangatlah penting bagi kita menyediakan waktu untuk menyendiri bersama Allah. Kita bahkan mulai menghargai waktu yang tadinya terbuang dengan sia-sia. Kerinduan untuk menyendiri bersama Allah seringkali merupakan tanda awal dari doa, tanda awal kehadiran Roh Allah tidak lagi tidak kita ketahui. Pada saat kita mengosongkan diri kita dari segala kekhawatiran kita, kita bisa tahu, bukan hanya dengan pikiran kita saja, tetapi juga dengan hati kita, bahwa sebenarnya kita tidak pernah sendirian, bahwa Roh Allah selalu bersama dengan kita selama-lamanya.

Dengan demikian, kita bisa memahami apa yang dituliskan oleh Paulus kepada jemaat Kristen di Roma, “Bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita” (Rom. 5:3-5).

Dalam kesendirian bersama Allah itu, kita bisa mengetahui kehadiran Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita. Dengan demikian, perasaan sakit dan pergumulan yang kita hadapi pada saat menyendiri bersama Allah itu menjadi jalan menuju pengharapan, karena pengharapan kita tidak berdasarkan atas sesuatu yang akan terjadi setelah segala penderitaan kita berlalu, tetapi berdasarkan atas kehadiran Roh Allah yang benar-benar menyembuhkan semua penderitaan yang sedang kita alami. Disiplin untuk menyendiri bersama Allah ini secara bertahap memungkinkan kita untuk merasakan kehadiran Allah yang penuh harapan dalam kehidupan kita. Bahkan memungkinkan kita untuk mulai mencicipi sebagian kecil dari sukacita dan damai sejahtera yang baru akan kita alami sepenuhnya di dalam langit baru dan bumi baru kelak.

Disiplin untuk menyendiri bersama Allah, sebagaimana telah saya jelaskan, merupakan salah satu disiplin yang paling besar kekuatannya di dalam mengembangkan kehidupan doa. Hal itu merupakan cara yang sederhana, meskipun tidak mudah, untuk membebaskan diri kita dari perbudakan kesibukan dan keasyikan kita, serta mulai mendengarkan suara yang menjadikan segala sesuatu baru.

Biarlah saya memberikan suatu gambaran yang lebih konkrit tentang bagaimana disiplin dalam menyendiri bersama Allah itu bisa dipraktekkan. Suatu keuntungan yang besar bila mempunyai sebuah ruangan atau pojok suatu ruangan —atau kamar kecil (WC) yang besar!— yang disediakan untuk disiplin menyendiri bersama Allah.

Sebuah tempat yang telah “siap” semacam itu menolong kita untuk mengarahkan hati kita pada kerajaan-Nya tanpa persiapan yang memakan banyak waktu. Hal yang penting ialah bahwa tempat untuk menyendiri bersama Allah itu harus merupakan tempat yang sederhana atau bersahaja, tetapi bersih. Di sanalah kita tinggal dalam hadirat Tuhan. Godaan bagi kita adalah melakukan sesuatu hal yang berguna: Membaca sesuatu yang menimbulkan gairah, memikirkan sesuatu yang menarik, atau mengalami sesuatu yang tidak seperti biasanya. Tetapi waktu kita menyendiri bersama Tuhan itu justru merupakan waktu di mana kita ingin tinggal dalam hadirat Tuhan dengan tangan hampa, telanjang, lemah, tanpa banyak ingin menunjukkan, membuktikan, atau mempertahankan sesuatu kepada Tuhan. Hal itu merupakan cara bagi kita secara pelan-pelan belajar untuk mendengarkan suara Allah yang lemah lembut.

Tetapi apakah yang harus kita lakukan dengan berbagai macam hal yang menganggu kita itu? Apakah kita harus memerangi semua gangguan ini dan berharap bahwa dengan demikian kita menjadi semakin penuh perhatian terhadap suara Allah? Hal ini tampaknya bukanlah cara untuk bisa berdoa dengan sungguh-sungguh. Menciptakan tempat yang kosong di mana kita dapat mendengarkan Roh Allah berbicara tidaklah mudah apabila kita sedang mengerahkan seluruh energi kita untuk memerangi semua gangguan itu. Dengan memerangi semua gangguan itu dalam cara yang langsung seperti itu, akhirnya kita lebih banyak memberikan perhatian kepada mereka daripada yang seharusnya mereka terima. Akan tetapi, kita harus menaruh perhatian terhadap firman Allah.

Sebuah mazmur, perumpamaan, cerita Alkitab, perkataan Yesus, atau sebuah kata dari Paulus, Petrus, Yakobus, Yudas, ataupun Yohanes dapat menolong kita untuk memusatkan perhatian kita pada kehadiran Allah. Dengan demikian, kita menghilangkan “berbagai macam hal lainnya” itu yang pengaruhnya selalu menganggu kita. Apabila kita menempatkan perkataan dari Alkitab di tengah-tengah kesendirian bersama Allah, entahkah kata-kata seperti pernyataan singkat, beberapa kalimat, atau sebuah teks yang lebih panjang dapat berfungsi sebagai tempat di mana kita kembali manakala hati dan pikiran kita telah mengembara ke berbagai tempat yang berlainan.

Perkataan firman Allah itu merupakan tempat berlabuh yang aman di tengah lautan yang menggelora. Pada akhir saat teduh yang seperti itu di mana kita tinggal bersama Allah, melalui doa syafaat, kita bisa membawa semua orang yang menjadi bagian dalam kehidupan kita, entahkah semua sahabat maupun orang yang memusuhi kita, ke dalam hadirat-Nya yang menyembuhkan. Dan mengapa tidak mengakhiri dengan kata-kata yang Yesus sendiri ajarkan kepada kita, yaitu Doa Bapa Kami?

Hal tersebut di atas hanyalah merupakan salah satu cara yang khusus (spesifik) di mana disiplin menyendiri bersama Allah bisa dipraktekkan. Berbagai macam variasi yang tidak ada habis-habisnya bisa saja dilakukan. Berjalan-jalan di alam terbuka, mengulangi doa-doa yang pendek, menyanyi, dan masih ada banyak unsur lainnya dapat menjadi bagian yang sangat bermanfaat dalam disiplin menyendiri bersama Allah. Tetapi kita harus menentukan cara khusus manakah dalam disiplin ini yang cocok bagi kita, sehingga kita dapat tetap setia.

Lebih baik setiap hari menyendiri bersama Allah selama sepuluh menit daripada melakukan hal itu selama satu jam penuh tapi hanya kadang-kadang saja. Kesederhanaan dan keteraturan merupakan pemandu atau penuntun yang terbaik dalam menemukan jalan kita. Kedua hal itu memungkinkan kita menjadikan disiplin menyendiri bersama Allah sebagai bagian dalam kehidupan kita sehari-hari seperti halnya makan dan tidur. Apabila hal itu terjadi, segala kekuatiran kita yang sangat mengganggu itu secara pelan-pelan akan kehilangan kekuatannya dalam diri kita, dan aktivitas Roh Allah yang memperbaharui itu secara pelan-pelan pula akan membuat kehadiran-Nya diketahui.

Semakin kita melatih diri kita untuk menyediakan waktu bersama Allah, dan hanya dengan Dia sendiri, semakin kita akan tahu bahwa Allah bersama-sama dengan kita dalam setiap saat dan di segala tempat. Dengan demikian, kita akan bisa mengenal Dia sekalipun di tengah-tengah kehidupan yang penuh dengan kesibukan dan aktivitas. Pada saat dan tempat yang hening itu menjadi keheningan di dalam hati kita, maka kita tidak akan pernah meninggalkan waktu menyendiri bersama Allah itu. Kita akan bisa menikmati kehidupan yang rohani tersebut di mana saja dan kapan saja. Jadi, disiplin menyendiri bersama Allah tersebut memampukan kita untuk menikmati kehidupan yang penuh dengan berbagai macam aktivitas di dunia ini. Sementara itu pula kita selalu tinggal dalam hadirat Allah yang hidup. *

Sumber: Kepemimpinan, Vol. 6, Tahun II/“Kesendirian Bersama Tuhan”/Henri J.M. Nouwen/Yayasan ANDI, Yogyakarta/1981
Baca selanjutnya...

Doa Pelepasan yang Sebenarnya

Oleh: Pdt. Poltak YP Sibarani, D.Th

Setelah lulus dari sekolah lanjutan tingkat atas (SLTA) tahun 1993, saya langsung masuk Seminari untuk belajar di Fakultas Theologi dan menjadi Sarjana Theologia pada tahun 1997. Sejak saat itu, saya terus-menerus berkecimpung dalam dunia pelayanan Kristen, entah sebagai penginjil maupun sebagai pengkhotbah. Dalam pelayanan tersebut, saya beberapa kali melayani masyarakat yang mengalami banyak penderitaan dan berbagai bentuk kemiskinan. Sejak saat itu pula saya banyak belajar dari guru saya bagaimana mengadakan pelayanan yang disebut sebagai ‘doa pelepasan’.

Pelayanan ini sangat penting dan merupakan kebutuhan bagi orang yang mengalami banyak persoalan hidup karena penyembahan berhala dan kebiasaan buruk. Namun, sepenting apa pun pelayanan ini, bukan berarti pelaksanaannya boleh dilakukan secara sembarangan dan membabi buta. Praktik doa pelepasan seharusnya dilakukan dengan motivasi, maksud, dan metode yang benar, yang sesuai dengan pesan-pesan Alkitab. Di bawah ini saya uraikan pemahaman dan pengalaman saya sekitar praktek doa pelepasan ini agar tidak disalahpahami atau tidak disalahgunakan.

Saya mulai dari pelayanan doa pelepasan bagi anak-anak yang pernah dijadikan ‘tumbal’ oleh orangtuanya. Jika orangtuanya adalah penyembah berhala dan anak-anaknya ‘ditumbalkannya’ kepada setan, apakah anak-anak tersebut juga akan menyembah berhala seperti orangtuanya? Atau, orangtuanya adalah dukun dan anak-anaknya ‘ditumbalkannya’ kepada setan, apakah anak-anak tersebut juga akan menjadi dukun? Jawaban terhadap pertanyaan ini adalah: bisa ya dan bisa tidak.

Anak-anak seperti itu dapat meneruskan ‘dosa’ orangtuanya, namun bisa tidak meneruskannya. Hal ini berhubungan dengan dua faktor, yakni: berhubungan dengan kesadaran dari anak-anak tersebut dan berhubungan dengan pihak lain yang menolongnya. Inilah yang disebut dengan ‘pelepasan’. Jika si anak secara sengaja ‘berontak’ dan melawan terhadap ‘penumbalan’ itu, maka ia dapat lepas.

Sekalipun hal ini memang tidak mudah untuk dilakukan, namun bukan berarti tidak bisa. Terlebih ketika orang tersebut mau meneriman Tuhan Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya secara pribadi; mengundang Dia untuk ‘hadir’ dalam hidupnya, yang ditandai dengan kemauan berdoa kepada-Nya dan mempercayai firman-Nya. Kelepasan juga dapat terjadi ketika seorang ‘hamba Tuhan’ memberikan bimbingan kerohanian melalui pembacaan firman Tuhan, memuji dan menyembah Tuhan bersama-sama, dan berdoa secara khusus untuk hal tersebut.

Ketika ‘pelepasan’ ini dilakukan, bisa saja terjadi gerakan-gerakan aneh, seperti muntah, histeris, menari-nari, meliuk-liuk, dan lain sebagainya. Berbagai manifestasi seperti ini dapat merupakan tanda ‘perlawanan’ dari roh jahat yang ada di dalam diri orang tersebut. Seseorang dapat dijadikan tumbal oleh orang lain apabila ia berada di dalam ‘otoritas’ atau ‘penguasaan’ yang menumbalkannya.

Otoritas yang dimaksud di sini dapat berupa ‘hubungan darah’, seperti anak kecil dengan orangtuanya, atau ‘hubungan hirarkis-emosional’ (hubungan batin), seperti pembantu rumah-tangga atau karyawan yang ‘lugu’ dan ‘cenderung bodoh’ majikan yang menguasainya. Namun, tidak semua anak dapat dijadikan tumbal oleh orangtuanya, dan tidak semua pembantu dapat dijadikan tumbal oleh majikannya. Hal ini dapat dipengaruhi oleh beberapa hal, seperti usia, kecerdasan, kemandirian, dan iman. Anak yang sudah dewasa, cerdas, mandiri, dan memiliki iman yang kuat kepada Tuhan, tentunya, kalaupun bisa, akan lebih sulit dijadikan tumbal. Kriteria ini juga berlaku bagi bawahan atau karyawan.

Masih berhubungan dengan terjadinya manifestasi ketika seseorang ‘dilepaskan’ dari pengaruh roh jahat, harus dicatat bahwa tidak selalu dan tidak harus manifestasi tersebut ditandai dengan muntah, histeris, menari-nari, meliuk-liuk, dsb. Seseorang yang sudah ‘ditumbalkan’ biasanya akan dikuasai oleh roh jahat; roh jahat akan masuk ke dalam tubuhnya. Seperti kita ketahui bahwa roh jahat dapat masuk ke dalam tubuh seseorang, ketika roh itu ‘dimasukkan’ atau ‘diizinkan’ untuk masuk. Dan ketika orang tersebut ‘dilepaskan’ dari ikatan roh-roh jahat dalam nama Tuhan Yesus Kristus, maka roh jahat itu akan keluar. Namun, seseorang dapat ‘dilepaskan’ dan mengalami ‘pembebasan’ tanpa adanya ‘manifestasi’ seperti di atas.

Kelepasan yang sesungguhnya atas pengaruh roh jahat adalah ketika orang tersebut tidak lagi berada di bawah pengaruh dan penguasaan roh jahat, yang ditandai dengan adanya kedamaian di hati yang dicerminkan dengan kesegaran dan keceriaan wajah yang tulus, dapat berbuat kasih, tidak gelisah dan tidak suka mimpi buruk, tidak melakukan perbuatan yang jahat, dan mau berdoa dan merenungkan firman Tuhan secara pribadi di samping beribadah bersama di gereja. Adalah berbahaya bila kita mengukur kelepasan seseorang dari pengaruh roh jahat hanya dari manifestasi-manifestasi secara fisik tanpa diiringi dengan perubahan kerohanian. Sebab, apalah artinya seseorang mengalami manifestasi fisik ketika dilepaskan tanpa firman Allah ‘menguasai’ dirinya? Bukankah roh jahat yang sudah keluar itu akan masuk lagi dengan tujuh roh jahat yang lebih jahat darinya seperti yang dikatakan oleh Tuhan Yesus dalam Matius 12:43-45?

‘Doa pelepasan’ dibutuhkan setelah diadakan konseling pastoral. Konseling pastoral secara sederhana dapat dipahami sebagai suatu proses untuk menemukan persoalan yang sesungguhnya (the real problem) dan faktor-faktor pendukung persoalan tersebut. Disebut sebagai ‘suatu proses’ adalah karena konseling pastoral tidak dapat dilakukan secara terburu-buru apalagi secara instan. Konseling pastoral dilakukan secara sabar dan bertahap, paling tidak, tidak hanya satu kali pertemuan. Konseling pastoral dilakukan dengan cara mempelajari latar belakang hidup ‘konsili’ (orang yang dikonseling) oleh ‘konselor’ (orang yang melakukan konseling) dengan tuntunan dari firman Allah yang terdapat dalam Alkitab. Doa pelepasan tidak boleh dilakukan secara sembarangan.

Doa pelepasan tidaklah efektif dilakukan, bahkan cenderung hanya akan menambah persoalan saja, ketika dilakukan tanpa mengetahui duduk perkara yang sesungguhnya. Rasul Paulus pernah menasihati Timotius agar ia tidak sembarangan mengadakan ‘penumpangan tangan’ atas seseorang. Secara implisit pesan itu juga berhubungan dengan hal ini. Dengan didahului oleh konseling pastoral, kiranya kita tidak bersifat ‘menghakimi’ dan tidak secara sembarangan menuduh atau menentukan penyebab dari suatu masalah. Sebaliknya, tanpa didahului oleh konseling pastoral, seseorang dapat terjebak kepada penafsiran yang salah atas suatu masalah.

Misalnya, banyak orang, ketika melihat hanya secara sepintas saja, menilai bahwa seseorang yang ‘dilahirkan buta’ adalah karena disebabkan oleh dosa orangtuanya (dan nenek moyangnya) atau dosanya sendiri. Namun, menurut Tuhan Yesus dalam Yohanes 9:1-3, tidak semua masalah karena dosa, tetapi ‘supaya kemuliaan Allah dinyatakan melaluinya’. Hal yang sama juga terlihat secara jelas dalam kisah Ayub. Bila kita salah menafsirkan penyebab dari suatu masalah, maka kita akan menuduh pihak lain sebagai ‘biang keroknya’ secara tidak tepat. Hal ini dapat menimbulkan suatu ‘cap buruk’ atau stigma terhadap orang lain, yang tentunya dapat membawa ketidaksejahteraan dalam hati orang lain, bahkan dapat merusak citra mereka (character assassination?). Bila hal ini terjadi, maka ‘doa pelepasan’ tadi bukannya akan menyelesaikan masalah, tetapi akan menambah masalah.

* Penulis adalah Pendiri Sekolah Pengkhotbah Modern (SPM), Ketua STT Lintas Budaya, dan Pendiri Jakarta Breakthrough Community (JBC).
Sumber: Reformata

Baca selanjutnya...

Komentar Terbaru

Artikel Terbaru

Powered By Blogger
Cari di pendoa.blogspot.com...

About this blog

Blog ini dibuat dengan tujuan untuk membagikan berkat firman Tuhan yang diperoleh kepada saudara seiman yang membutuhkan agar dapat saling membangun sebagai satu tubuh dalam Kristus. Materi diambil dari berbagai sumber seperti buku, milis, buletin, traktat, dan berbagai media lain. Hak cipta setiap tulisan ada pada masing-masing penulis, pembuat atau penerbit seperti yang tercantum pada setiap akhir tulisan (kecuali yang tidak diketahui sumbernya). Isi blog ini bersifat non-denominasi dan tidak condong/tidak memihak kepada kelompok denominasi tertentu. Apabila di dalamnya terdapat materi/tulisan yang tidak cocok/ tidak sesuai dengan pendapat/pemahaman Anda, mohon tetaplah menghargai hal itu dan silakan memberi tanggapan secara sopan dan tidak menghakimi. God bless you...

  © 2008 Blogger template by Ourblogtemplates.com

Back to TOP