Showing posts with label doa nehemia. Show all posts
Showing posts with label doa nehemia. Show all posts

Doa Nehemia

Oleh: Gene A. Getz

1:5 "Ya, TUHAN, Allah semesta langit, Allah yang Mahabesar dan dahsyat, yang berpegang pada perjanjian dan kasih setia-Nya terhadap orang yang kasih kepada-Nya dan tetap mengikuti perintah-perintah-Nya,

1:6 berilah telinga-Mu dan bukalah mata-Mu dan dengarkanlah doa hamba-Mu yang sekarang kupanjatkan ke hadirat-Mu siang dan malam bagi orang Israel, hamba-hamba-Mu itu, dengan mengaku segala dosa yang kami orang Israel telah lakukan terhadap-Mu. Juga aku dan kaum keluargaku telah berbuat dosa.

1:7 Kami telah sangat bersalah terhadap-Mu dan tidak mengikuti perintah-perintah, ketetapan-ketetapan dan peraturan-peraturan yang telah Kauperintahkan kepada Musa, hamba-Mu itu.

1:8 Ingatlah akan firman yang Kaupesan kepada Musa, hamba-Mu itu, yakni: Bila kamu berubah setia, kamu akan Kucerai-beraikan di antara bangsa-bangsa.

1:9 Tetapi, bila kamu berbalik kepada-Ku dan tetap mengikuti perintah-perintah-Ku serta melakukannya, maka sekalipun orang-orang buanganmu ada di ujung langit, akan Kukumpulkan mereka kembali dan Kubawa ke tempat yang telah Kupilih untuk membuat nama-Ku diam di sana.

1:10 Bukankah mereka ini hamba-hamba-Mu dan umat-Mu yang telah Kaubebaskan dengan kekuatan-Mu yang besar dan dengan tangan-Mu yang kuat?

1:11 Ya, Tuhan, berilah telinga kepada doa hamba-Mu ini dan kepada doa hamba-hamba-Mu yang rela takut akan nama-Mu, dan biarlah hamba-Mu berhasil hari ini dan mendapat belas kasihan dari orang ini."

Sumber: "When Your Goals Seem Out Of Reach, Take A Lesson From Nehemiah"/Dabara Publishers


Baca selanjutnya...

Perspektif Nehemia Dalam Hal Berdoa

Ada beberapa individu yang memiliki tempat khusus dalam skema Allah. Orang-orang yang dipakai Allah melalui cara-cara yang unik untuk mencapai tujuan Allah di dalam dunia. Nehemia adalah salah satu di antaranya. Meskipun kisah kehidupannya tidak berada pada sejumlah banyak tokoh individu-individu lain dalam Perjanjian Lama yang dipilih dan dipakai Allah untuk memimpin anak-anak-Nya: bangsa Israel, Nehemia tetap merupakan tokoh yang sangat menonjol sebagai seorang pemimpin yang dinamis.

Nama Nehemia muncul di Perjanjian Lama secara mendadak sebagai orang yang sudah dewasa dan bertanggung jawab. Meskipun dalam masa pembuangan, kehidupannya tetap meningkat sampai ke posisi yang terhormat dan dikenal dalam lingkungan pemujaan berhala yang ada di sekitamya. Dia melayani raja Arthasasta sebagai juru minuman anggur (lihat Ezra 1:11; 2:1)

Posisi penting dalam ruangan raja itu sendiri banyak membantu kita memberikan pandangan terhadap kehidupan dan karakter Nehemia. Dalam suatu kerajaan monarki yang demikian berkuasa seperti raja Persia, untuk mencapai kedudukan seperti itu, raja hanya akan memilih seseorang yang bersifat bijaksana, seseorang yang pernah memperlihatkan sikap dapat menyimpan rahasia tanpa batas dan seseorang yang memiliki hati yang benar-benar jujur dan dapat dipercaya. Sebagai tambahan, orang tersebut juga harus terlebih dahulu berani menguji minum anggur untuk raja dan memeriksa ruangan tempat tidur raja (untuk memastikan bahwa raja tidak akan mungkin dapat dibunuh). Mungkin Nehemia sering diajak berbicara untuk memberikan nasihat dan berbagi rasa oleh raja sendiri. Dengan perkataan lain, kedudukan Nehemia sendiri telah membuktikan adanya kemampuan yang tinggi dalam berpikir, kedewasaan emosi dan tingkat kerohanian.

Sementara Nehemia melayani raja sebagai juru minuman di ruang utama istana di Susa, maka pada suatu hari, Nehemia menerima laporan dari beberapa orang dan salah satu dari orang-orang tersebut adalah saudaranya sendiri, Hanani. Laporan tersebut yang secara dramatis telah mengganggu kerja rutin Nehemia, datang pada bulan Kislew (Neh. 1:1)—yang merupakan bagian antara bulan November dan Desember menurut sistim tahun kita sekarang.

Laporan tersebut segera ditanggapi oleh Nehemia melalui sebuah pertanyaan, — sebuah pertanyaan yang mampu bercerita banyak tentang orang itu, Nehemia. Di tengah-tengah hidupnya yang relatif mewah dan tenang, Nehemia temyata menaruh perhatian terhadap apa yang terjadi pada orang-orangnya sendiri yang kembali dari Yerusalem. "Bagaimana dengan saudara-saudara kita?" Nehemia bertanya, "Bagaimana keadaan mereka? Dan bagaimana situasi di Yerusalem?" (lihat Neh. 1:2)

Nehemia segera berubah menjadi tertekan dengan apa yang telah didengamya. "Apa yang tersisa di sana, di propinsi yang berhasil menyelamatkan diri dari penangkapan-penangkapan adalah tekanan-tekanan kehidupan dan perlawanan," jawab mereka, "dan dinding Yerusalem telah dirobohkan dan pintu gerbangnya telah dibakar dengan api" (Neh. 1:3)

Dengan memahami apa yang telah kita ketahui mengenai karakter Nehemia, kita dapat menduga reaksi apa yang diberikan Nehemia terhadap laporan dari Yerusalem tersebut. Namun hanya kata-kata bersifat spesifik saja dalam Alkitab yang mampu memperlihatkan adanya perhatian mendalam dari orang laki-laki ini dan kepekaan perasaannya terhadap bangsanya sendiri. Dia "duduk dan menangis dan merasa sedih selama beberapa hari." Seberapa lama keadaan itu terjadi, kita tidak mengetahuinya, tetapi keadaan itu dikatakan berlangsung sebagai—untuk berhari-hari—Dan seperti apa yang dapat kita lihat dalam bab berikutnya, keadaan itu mungkin sekali berlangsung selama 4 bulan lamanya! Emosi Nehemia juga terlibat sangat dalam, sedemikian hingga dia tidak makan—setidak-tidaknya, dia hanya makan secukupnya—namun seluruh waktunya dipergunakan untuk mendoakan para pengikut Yahudi di Yerusalem (lihat Neh. 1:4).

Semuanya itu menampilkan suatu sikap yang sangat menonjol, khususnya bagi seorang pria yang sudah terbiasa bergaul dalam suatu lingkungan dapur istana dengan berbagai macam jenis makanan dan minuman yang istimewa di negara tersebut. Mudah sekali kiranya bagi Nehemia untuk tidak memikirkan dan menghindarkan diri dari masalah-masalah di Yerusalem. Betapa hal ini dapat merupakan godaan untuk risiko kehilangan posisi dirinya yang sudah dalam keadaan sangat menguntungkan.

Betapa lebih nyaman sebenarnya apabila dia tidak mengajukan pertanyaan tersebut! Bagaimanapun juga, apa sesungguhnya yang dapat dia perbuat untuk para pengikutnya! Tetapi, bukan itu yang diberikan Nehemia sebagai reaksi. Keberadaannya sendiri yang menyenangkan justru telah memperlihatkan rasa keprihatinannya terhadap orang-orang Israel—suatu refleksi dari watak agung Nehemia.

By Gene A. Getz | Sumber: "When Your Goals Seem Out Of Reach, Take A Lesson From Nehemiah"/Dabara Publishers


Baca selanjutnya...

Doa Spesifik Nehemia

Ada saat-saat di mana Allah menuntun para penulis tulisan-tulisan rohani dalam menuangkan konsep-konsep tertentu secara rinci seirama dengan usaha Allah mencapai tujuan-tujuan tertentu. Kita memiliki ilustrasi secara grafis dari proses tersebut dalam doa-doa Nehemia. Pada awalnya kita membaca dalam bentuk satu pernyataan yang sederhana bahwa Nehemia sedang "berdoa" (Neh. 1:4) mengenai situasi yang tidak menyenangkan di Yerusalem. Tujuh ayat berikutnya—dalam ayat-ayat akhir Pasal 1—kita diberitahu tentang cara bagaimana Nehemia berdoa dan apa yang didoakannya. Berkaitan dengan proses tersebut, terdapat satu kemungkinan dan pengajaran paling menakjubkan yang dapat kita peroleh mengenai kehidupan Nehemia.

Dia mengakui kebesaran Tuhan
Nehemia menghadapi suatu situasi yang diketahuinya dengan benar bahwa dia tidak akan dapat memecahkan berdasarkan kemampuannya sendiri. Dari sudut pandang manusia, hal itu benar-benar merupakan sesuatu yang "mustahil". Namun, Nehemia juga mengetahui bahwa Allah itu tidak dapat dibatasi oleh sifat-sifat manusia. Bersama Dia, semua hal adalah "mungkin" karena Dia adalah Allah. Nehemia memulai doanya dengan mengakui adanya kenyataan itu, "Ya Tuhan, Allah semesta langit, Allah yang Maha Besar dan dahsyat, yang berpegang pada perjanjian dan kasih setia-Nya terhadap orang yang kasih kepada-Nya dan tetap mengikuti perintah-perintah-Nya." (Neh. 1:5)

Bersamaan dengan pernyataan itu, Nehemia mampu mengenali kebesaran Allah yang tak terbatas—kekuatan-Nya, kemampuan-Nya untuk mengetahui semua perkara, keberadaan-Nya di semua tempat pada saat yang sama dan keMahakuasaan-Nya. Nehemia juga mengakui bahwa Allah itu tidak pemah melupakan janji-janji-Nya. Hal itu terbukti dengan adanya kenyataan-kenyataan menyebut nama-Nya dengan nama "Yahweh"—sebutan yang digunakan oleh anak-anak Israel bagi Allah pada saat mereka mengkaitkannya dengan perjanjian mengenai hubungan antara mereka dengan Allah yang dibuat oleh Allah sendiri. Pernyataan Nehemia selanjutnya kepada Yahweh memperlihatkan sesuatu yang bersifat khusus mengenai mengapa Nehemia menggunakan sebutan itu untuk Allah.

Dia mengingatkan Allah kembali tentang janji-Nya kepada Israel
"Ya, Tuhan, Allah semesta langit, Allah yang Maha Besar dan dahsyat, yang berpegang pada perjanjian dan kasih setia-Nya terhadap orang yang kasih kepada-Nya dan tetap mengikuti perintah-perintahNya," (Neh. 1:5). Dalam beberapa ayat selanjutnya, Nehemia telah lebih bersifat mengingatkan Allah kembali terhadap janji-janji-Nya kepada bangsa Israel: "Ingatlah akan firman yang Kau pesan kepada Musa, hamba-Mu itu, yakni: Bila kamu berubah setia, kamu akan Kuceraiberaikan di antara bangsa-bangsa. Tetapi, bila kamu berbalik kepada-Ku dan tetap mengikuti perintah-perintah-Ku serta melakukannya, maka sekalipun orang-orang buangan-Mu ada di ujung langit, akan Kukumpulkan mereka kembali dan Kubawa ke tempat yang telah Kupilih untuk membuat nama-Ku diam di sana." (Neh. 1:8,9)

Mungkin nampak agak aneh kalau Nehemia berani mengingatkan Allah yang serba tahu tentang janji-janji-Nya. Apakah Allah dapat lupa? Tentu saja tidak. Allah adalah Allah dan serba mengetahui. Tetapi sikap Nehemia tersebut justru menyenangkan Allah dengan mendengar anak-Nya yang setia telah berani mengulang kembali janji-Nya di hadapan kehadiran-Nya. Sikap ini memberikan indikasi secara pasti bahwa tidak semua dari orang-orang pilihan-Nya telah melupakan kehendak dan jalan-Nya.

Ingatlah, tidak mengikuti perintah Allah adalah sama dengan meninggalkan Allah. Dan inilah yang telah terjadi terhadap hampir kebanyakan orang-orang di Israel. Keadaan ini, tentu saja, memberikan penjelasan dari mengapa doa Nehemia selanjutnya terkait dangan dosa bangsa Israel.

Dia mengakui dosa bangsa Israel
"Kita telah berdosa terhadap Tuhan," Nehemiah berdoa. "berilah telinga-Mu dan bukalah mata-Mu dan dengarkanlah doa hamba-Mu yang sekarang kupanjatkan ke hadirat-Mu siang dan malam bagi orang Israel, hamba-hamba-Mu itu, dengan mengaku segala dosa yang kami, orang Israel telah lakukan terhadap-Mu. Juga aku dan kaum keluargaku telah berbuat dosa. Kami telah sangat bersalah terhadap-Mu dan tidak mengikuti perintah-perintah, ketetapan-ketetapan, peraturan-peraturan yang telah Kau perintahkan kepada Musa, hamba-Mu itu."

Perhatikanlah sendiri doa itu. Sesungguhnya, Nehemia telah bersikap spesifik, "Juga aku dan kaum keluargaku telah berbuat dosa." (Neh. 1:6). Seperti Daniel juga merasa memikul tanggung jawab untuk ketidakpatuhan bangsa Israel (lihat Dan. 9:4-6). Meskipun kedua-duanya, Daniel dan Nehemia tidak diragukan lagi adalah tetap dibenarkan oleh Allah selama mereka berada dalam tahanan—setidak-tidaknya demikianlah yang terjadi apabila dibandingkan dengan banyak orang Israel lainnya—mereka tidak melarikan diri dari keterlibatan kesalahan Israel sebagai satu bangsa. Secara konsekwen, mereka mengakui dosa orang-orang Israel—termasuk mereka sendiri.

Tetapi Nehemia juga mengingatkan Allah bahwa beberapa orang di Israel (termasuk dirinya sendiri) tetap mengakui siapa Allah itu dan tetap berkeinginan untuk mematuhi-Nya karena mereka tidak menyembah Allah yang palsu. Karena itulah dia berdoa, "Ya Tuhan, berilah telinga kepada doa hamba-Mu ini dan kepada doa hamba-hamba-Mu yang rela takut akan nama-Mu, dan biarlah hamba-Mu berhasil hari ini dan mendapat belas kasihan dari orang ini." (Nehemia 1:11). Dan pada titik ini, Nehemia mengajukan permintaannya secara amat spesifik.

Dia mohon kepada Allah untuk suatu pertolongan pribadi
Secara kemanusiaan, hanya ada satu individu yang akan mampu membuat Nehemia memiliki kemungkinan untuk menolong bangsa Yahudi di Yerusalem — yaitu raja yang dilayaninya. Karena itulah, Nehemia berdoa secara amat spesifik, "Biarlah hamba-Mu berbasil hari ini dan mendapat belas kasihan dari orang ini." (Neh. 1:11) (yaitu raja Arthasasta).

Permintaan spesifik Nehemia, sekali lagi, memperlihatkan karakter Nehemia. Dia tidak hanya ingin mendekati Allah dan berdoa untuk bangsanya, tetapi dia juga ingin dipakai oleh Allah sebagai saluran untuk memecahkan masalah ini.

Hal ini bukanlah merupakan suatu keputusan yang sederhana. Nehemia tidak bersikap naif. Dia tahu apa yang akan terjadi seandainya dia meninggalkan lingkungan raja dan pergi ke Yerusalem. Dia tidak hanya mengambil keputusan secara berhati-hati dan aman, namun nyawanya sendiri juga telah dipertaruhkan—dan demikianlah yang terjadi seperti apa yang akan kita lihat pada pasal-pasal selanjutnya. Tetapi Nehemia adalah orang yang mencintai Allah dan bangsanya. Dan apapun yang akan terjadi, dia berani membayar harganya.

By Gene A. Getz | Sumber: "When Your Goals Seem Out Of Reach, Take A Lesson From Nehemiah"/Dabara Publishers


Baca selanjutnya...

Proses Doa Nehemia

Ada banyak pelajaran yang muncul dari pengalaman-pengalaman Nehemia seperti apa yang tercatat dalam pasal pertama buku Perjanjian Lama yang memiliki judul sama dengan namanya sendiri itu. Integritasnya, perhatiannya dan perasaan ibanya, merupakan beberapa contoh dari karakter Nehemia. Tetapi tidak satu pun kualitas dalam diri Nehemia yang melebihi kepercayaannya bahwa "efektifitas doa seorang yang benar akan dapat menyelesaikan banyak hal." Dan doa bukanlah sesuatu yang hanya sekadar dibicarakan oleh Nehemia. Dia berdoa! Dia mendemonstrasikan efektifitas dari komunikasi dengan Allah melalui cermin hidupnya sendiri untuk semua kebutuhan-kebutuhan kita yang paling mendalam—khususnya pada saat-saat kita mengalami masa-masa krisis, dalam kesulitan dan pencobaan. Dalam saat-saat kepedihan dan tanpa harapan inilah kita harus ingat bahwa kita harus memiliki jalur hubungan dengan yang SATU itu, yang dapat menolong kita keluar dari masa-masa kesulitan kita yang paling mendalam.

Apa yang membuat contoh doa Nehemia menjadi bersifat sedemikian unik dalam hal ini adalah apa yang dapat kita pelajari dari pengalaman dia sendiri dalam berdoa. Nehemia telah memberikan garis-garis besarnya untuk kita, dengan pengalaman Nehemia sendiri dalam doa, garis-garis besar dari proses yang dapat diterapkan selama masa-masa krisis yang kita hadapi.

Tetapi sebelum kita menerapkan isi sesungguhnya dari doa Nehemia ke dalam diri kita, marilah kita melihat terlebih dahulu kepada sikap-sikap dan langkah-langkah yang menyertai doa Nehemia untuk memohon pertolongan.

Allah menghargai para pendoa yang mengekspresikan kebutuhan mereka dari lubuk hati yang paling dalam.
Nehemia menyampaikan doanya kepada Allah dari kedalaman hati yang digerakkan oleh rasa belas kasihannya atas penderitaan bangsa Yahudi di Yerusalem. Dan bila siapapun juga, anak-anak Allah mendekati tahta Allah dengan niat yang sungguh-sungguh, hati Allah akan tersentuh. Yesus, secara dramatis memberikan ilustrasi atas kenyataan ini melalui perumpamaan seorang hakim yang tidak adil dan seorang janda miskin. Meskipun hakim itu adalah seorang yang "tidak taat akan Allah" atau "seorang yang tidak pantas dihormati" (Luk. 18:4), dia tetap memberikan tanggapan terhadap permohonan pertolongan yang diajukan si janda.

Yesus menerapkan pengajaran dari kisah di atas dengan cara mengingatkan kita, bahwa Allah, yang adalah seorang hakim yang adil, akan "membenarkan orang-orang pilihannya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah la mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka?" (Luk. 18:7). Allah benar-benar menghormati pendoa yang menyatakan kebutuhannya dari lubuk hati mereka yang paling dalam.

Allah menghargai pendoa yang memberikan unsur "prioritas", lebih tinggi dari kebutuhan-kebutuhan lainnya.
Alkitab berbicara agak banyak mengenai puasa, dan pengalaman ini seringkali terkait dengan doa. Tujuan dari puasa adalah bukan untuk tidak makan makanan secara harafiah, namun untuk memanfaatkan waktu yang tersedia yang seharusnya diperlukan untuk makan, bukan untuk makan makanan, tetapi untuk berdoa. Rasul Paulus juga menyebutkan tentang perlunya untuk tidak mengadakan hubungan seksual antara suami istri dalam saat-saat tertentu dan menggunakan saat-saat itu khusus untuk berdoa. Sesungguhnya, hal ini berkaitan dengan satu-satunya alasan yang diperkenankan untuk tidak melakukan salah satu dari suatu tanggung jawab perkawinan. (lihat 1 Kor. 7:5)

Dalam kedua contoh di atas, Allah mengajar kita, bahwa ada saat-saat di mana kita tidak harus mengambil sikap untuk memenuhi kebutuhan jasmani maupun emosi kita demi tujuan menyediakan waktu untuk berkomunikasi dengan Dia mengenai masalah-masalah kebutuhan lain yang lebih penting. Dan bila kita melakukannya, hati Allah akan tersentuh melalui suatu cara yang bersifat khusus. Sikap kita akan memperlihatkan kepada Allah tentang ketulusan hati dan kemauan kita untuk mengorbankan keinginan-keinginan kita sendiri agar kita memperoleh perhatian Allah. Suatu sikap yang bersifat pengujian yang benar terhadap motivasi kita. Dan seperti apa yang telah kita lihat, semuanya itu telah dibuktikan kebenarannya melalui pengalamAn-pengalaman hidup Nehemia, melalui puasa dan doa selama beberapa hari yang dilakukan oleh Nehemia untuk situasi-situasi yang dialami bangsa Israel di Yerusalem.

Allah menghargai pendoa yang tekun.
Yesus membenarkan kebenaran hal ini dalam kisah perumpamaan yang telah disebutkan di atas. Permohonan janda miskin itu didengar oleh si hakim yang tidak adil karena "janda itu tetap saja datang kepadanya" dengan permohonannya (Lukas 18:3). Penerapannya jelas sekali. Bila ada seorang kaya dalam dunia ini yang bersikap tidak peduli terhadap kebutuhan seorang janda miskin yang kemudian berubah mau memberikan tanggapan karena faktor ketekunan si janda miskin, apalagi dengan Allah—yang mau memperhatikan segala kebutuhan kita—yang memberikan reaksi pada saat kita "siang malam berseru kepada-Nya?" (Lukas 18:7; lihat juga Matius 6:25,26). Nehemia mengalami kebenaran ini saat dia mencari pertolongan dari Allah untuk orang-orang Israel. Allah sungguh-sungguh menghargai pendoa yang tekun!

By Gene A. Getz | Sumber: "When Your Goals Seem Out Of Reach, Take A Lesson From Nehemiah"/Dabara Publishers


Baca selanjutnya...

Pokok Isi Doa Kita

Seperti Nehemia, kita harus mampu mengenali kebesaran Allah.
Dia adalah Allah yang Maha Kudus dan Penguasa Tunggal dari seluruh alam semesta. Kita harus mendekati Dia dengan sikap yang penuh pengabdian dan penghormatan. Yesus memberikan ilustrasi atas kebenaran ini melalui cara berdoa yang Dia bagikan bersama kepada para pengikut-Nya. "Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu." (Matius 6:9)

Meskipun Allah adalah sahabat kita, kita seharusnya tidak menerimanya demikian saja. Dia adalah tetap Allah dan kita ini adalah manusia biasa. Kita harus secara tetap mengakui Dia sebagai Allah dengan siapa kita berbicara.

Seperti Nehemia, kita juga dapat mengingatkan kembali Allah atas janji-janji-Nya kepada kita.
Meskipun Dia adalah Maha Besar dan sangal terhormat, Dia dapat didekati dan Dia menginginkan kita datang kepada-Nya dalam doa. Mengapa Allah menginginkan kita untuk mengingatkan Dia kembali—Dia yang Maha Tahu—atas apa yang pernah Dia janjikan? Apakah Dia tidak ingat atas apa yang pernah dikatakan-Nya? Tentu saja Dia ingat. Kenyataan ketika kita mengatakan kepada Allah mengenai apa yang pernah Dia janjikan, memberikan petunjuk kepada-Nya bahwa kita benar-benar mengetahui dan percaya atas apa yang pernah Dia katakan. Meskipun sulit bagi kita untuk mengerti tentang pokok masalah ini, Allah merasa senang dan menghargai apa yang didengar-Nya.

Berpikirlah sejenak atas apa yang terjadi terhadap seorang guru yang menguji murid-muridnya, dan murid-murid itu kemudian dapat mengungkapkan kembali seluruh bahan pembicaraan yang terjadi selama berjam-jam dengan kata-kata yang diucapkan. Guru itu pasti akan merasa senang dan menghargai murid-muridnya. Dan guru itu akan merasa semakin lebih senang dan menghargai, bila murid-muridnya juga melakukan tindakan nyata terhadap apa yang sudah mereka pelajari. Maksud sebenarnya adalah jelas! Meskipun Allah tidak sama dengan guru biasa, Dia benar-benar akan memberikan reaksi positif kepada mereka yang melaksanakan apa yang telah diajarkan-Nya.

Seperti Nehemia, pada saat kita mendekati Allah, kita harus mengakui bahwa kita adalah manusia yang kurang layak dan penuh dosa, penuh kelemahan dan kekurangan.
Namun kita harus ingat bahwa kita memiliki kelebihan yang bersifat unik, seperti halnya Nehemia, Yesus Kristus telah mati untuk kita dan Rasul Yohanes mengingatkan bahwa, "Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa." (1 Yohanes 1:7). Selanjutnya, Rasul Yohanes berkata, "Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan." (1 Yohanes 1:9)

Sesungguhnya, Yohanes telah menyatakan kepada kita bahwa darah Yesus akan selalu bekerja membersihkan diri kita dari segala dosa. Kita bukan hanya diampuni di dalam Kristus bila kita menerima pengorbanan pribadi-Nya di dalam hati kita; tetapi kita juga harus tetap berjalan di bawah terang-Nya dan selalu mengakui dosa-dosa kita. Sementara kita melakukan semuanya itu, Allah akan menanggapi doa-doa kita.

Seperti halnya dengan Nehemia, kita harus berdoa secara spesifik agar kita memperoleh jawaban juga secara spesifik.
Rasul Paulus memberi penekanan kepada orang-orang Filipi, "Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur." (Filipi 4:6) Tidak ada sesuatu yang demikian kecil di mana Tuhan tidak tertarik. Dan tidak ada sesualu yang demikian besar di mana Dia tidak dapat menolong kita. Kita tidak boleh ragu-ragu untuk memohon secara spesifik. *

By Gene A. Getz | Sumber: "When Your Goals Seem Out Of Reach, Take A Lesson From Nehemiah"/Dabara Publishers


Baca selanjutnya...

Komentar Terbaru

Artikel Terbaru

Powered By Blogger
Cari di pendoa.blogspot.com...

About this blog

Blog ini dibuat dengan tujuan untuk membagikan berkat firman Tuhan yang diperoleh kepada saudara seiman yang membutuhkan agar dapat saling membangun sebagai satu tubuh dalam Kristus. Materi diambil dari berbagai sumber seperti buku, milis, buletin, traktat, dan berbagai media lain. Hak cipta setiap tulisan ada pada masing-masing penulis, pembuat atau penerbit seperti yang tercantum pada setiap akhir tulisan (kecuali yang tidak diketahui sumbernya). Isi blog ini bersifat non-denominasi dan tidak condong/tidak memihak kepada kelompok denominasi tertentu. Apabila di dalamnya terdapat materi/tulisan yang tidak cocok/ tidak sesuai dengan pendapat/pemahaman Anda, mohon tetaplah menghargai hal itu dan silakan memberi tanggapan secara sopan dan tidak menghakimi. God bless you...

  © 2008 Blogger template by Ourblogtemplates.com

Back to TOP