Showing posts with label renungan. Show all posts
Showing posts with label renungan. Show all posts

Doa Menentukan Kemenangan

“Dan terjadilah, apabila Musa mengangkat tangannya, lebih kuatlah Israel, tetapi apabila ia menurunkan tangannya lebih kuatlah Amalek.” (Keluaran 17:11)

Ayat di atas merupakan ayat yang disampaikan ketika bangsa Israel berperang melawan orang-orang Amalek. Kemenangan bangsa Israel atas Amalek tidak ditentukan oleh strategi, perencanaan, kekuatan dan kemampuan pasukan Yosua dalam menghadapi pertempuran, namun oleh tangan Musa yang terangkat atau diturunkan.

Hal yang tampaknya “aneh” tetapi benar-benar terjadi dalam pertempuran itu. Ini juga merupakan gambaran pertempuran bagi anak-anak Tuhan di tengah-tengah dunia yang menghadapi krisis, himpitan persoalan hidup dan desakan-desakan ekonomi yang makin menggempur hidup kita. Ingat kita hidup juga dalam peperangan menghadapi hawa nafsu daging dan rayuan dunia yang menginginkan kita kalah dan hancur dalam hidup kita. Apa yang bisa kita pelajari dari ayat tersebut?

1. Doa memberi pengaruh
Jelas dikatakan dalam ayat tersebut jika Musa mengangkat tangan maka kuatlah Israel, jika menurunkan tangan maka kuatlah Amalek. Dalam ayat ini diberitahukan bahwa doa memberi pengaruh anda akan menjadi kuat atau anda akan menjadi lemah.
1 Tesalonika 5:17 “Tetaplah berdoa“ ayat yang diajarkan oleh Rasul Paulus kepada jemaat Tesalonika untuk tetap memiliki spirit/roh doa dalam diri mereka, sebab doa itu memberi pengaruh kepada yang berdoa. Doa kita akan memberi kekuatan dalam hidup kita untuk menghadapi segala lawan dan musuh dalam kehidupan kita.
Filipi 4:13 “Segala perkara dapat kutanggung didalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku,“ berdoa memberi dampak kekuatan bagi kita.

2. Doa menentukan Kemenangan
Ternyata dalam peristiwa diatas doa memberi pengaruh kemenangan dalam peperangan Yosua dengan Amalek. Demikian juga dalam kehidupan kita jika kita tidak berdoa maka kita sedang memberikan diri kita untuk dikalahkan oleh musuh-musuh kehidupan kita. Tangan Musa yang terangkat mempengaruhi kemenangan Yosua, jika tidak terangkat maka kekalahan terjadi atas Yosua. Jika kita ingin mengalami kemenangan demi kemenangan dalam persoalan hidup ini “berdoalah dan berdoalah”, maka kemenangan akan berpihak dalam hidup kita.
Roma 8:37 "Tetapi dalam semuanya itu kita lebih daripada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita" Tuhan Yesus telah memberi kemenangan tetapi itu akan terlaksana jika kita hidup dalam doa kepada Tuhan Yesus.

3. Doa di atas segalanya
Dalam pertempuran pasti di dalamnya ada strategi, perencanaan dan perhitungan-perhitungan yang dilakukan untuk mendapatkan gambaran kekuatan musuh dan menghitung kekuatan kita. Tetapi fakta nas di atas menunjukkan bahwa tanpa tangan terangkat maka strategi pertempuran apapun yang telah direncanakan tidak memberi dampak kemenangan. Tempatkan doa di atas strategi, perencanaan dalam menghadapi situasi dan pergumulan hidup, maka kemenangan yang kita cita-citakan akan terlaksana dalam hidup kita. Manusia boleh merancangkan tetapi keputusan Tuhan-lah yang terlaksana.

KESIMPULAN
Jadikan doa kepada Tuhan Yesus menempati prioritas yang utama dalam hidup kita, karena di dalam doalah ditentukan kemenangan atau kekalahan dalam pertempuran hidup kita untuk menghadapi segala persoalan hidup, keinginan dunia, keinginan daging, ekonomi bahkan melawan sakit penyakit. Oleh karenanya doa menjadi sangat penting untuk menentukan kemenangan, jika tidak berdoa maka kita sedang membawa diri kita untuk dikalahkan oleh musuh-musuh kita.

Sumber: TDmail
Baca selanjutnya...

Doa yang Tidak Terjawab

Ayat Bacaan: Matius 7:7-11
“Orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin. Orang yang demikian janganlah mengira, bahwa ia akan menerima sesuatu dari Tuhan.” (Yakobus 1:6-7)

Doa memegang peranan penting dalam pertumbuhan rohani orang Kristen; karena itu, kedewasaan rohani seseorang akan terlihat melalui kualitas kehidupan doanya. Orang Kristen yang dewasa tidak akan tenang dengan apa yang kelihatannya merupakan doa yang tidak terjawab. Orang Kristen yang dewasa akan mencari tahu penyebab dari doanya yang tidak terjawab.

Alasan utama bagi tiap doa yang tidak terjawab adalah bahwa, dalam banyak hal kita telah meminta secara salah. Yakobus mengatakan, “Kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa” (Yak. 4:3b). Atau, apakah mungkin kita telah mengganti “percaya kepada Allah” dengan “percaya kepada doa?” Kita tidak dinasihati untuk menaruh percaya pada doa, tapi pada Tuhan, faktor terpenting dalam doa!

Ketika para rasul menghadapi kegagalan, mereka bertanya kepada Yesus, “Mengapa kami tidak dapat...?” Jawab Yesus, “Karena kamu kurang percaya.” Suatu analisis tentang doa kita mungkin dapat mengungkapkan kebenaran yang membingungkan ini, bahwa banyak di antara doa-doa yang dipanjatkan, sama sekali bukan doa yang lahir dari iman, melainkan doa yang lahir dari keputusasaan. Ketika kita berdoa, kita benar-benar berharap bahwa Tuhan mau menjawab, tapi, seringkali kita tidak memiliki keyakinan yang teguh bahwa Ia mampu berbuat demikian.

Kita harus tahu dan sadar bahwa Tuhan menjawab doa yang lahir dari iman; untuk itu, kita memiliki kepastian di dalam Firman-Nya, “Aku berkata kepadamu, apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kapadamu” (Mat. 21:22). Jangan mengira penerjemah telah keliru menyusun kalimatnya. Kitalah yang mempunyai sikap hati yang salah! Doa yang lahir dari iman akan dimampukan untuk melihat janji dan penegasan Allah, sesuai Firman-Nya.

Berdoalah dengan penuh keyakinan akan supremasi Allah.

Sumber: Perspektif
Baca selanjutnya...

Doa, Jendela Hati

Ayat Bacaan: Mazmur 61:2-6
“Dengarkanlah kiranya seruanku, ya Allah, perhatikanlah doaku!” (Mazmur 61:2)

Bayangkan jika sebuah rumah tidak berjendela! Betapa pengap dan gelapnya rumah itu. Jendela, selain berfungsi untuk pencahayaan, juga berfungsi untuk pertukaran udara. Dengan adanya cahaya dan sirkulasi, rumah kita menjadi terang dan sehat. Demikian pula dengan doa-doa kita. Apabila ruangan hati kita terasa sumpek dan kalut, tidak berpengharapan, kita perlu membuka “jendela hati” kita dengan berdoa pada Tuhan. Bila “jendela hati” itu sudah terbuka, maka Tuhan akan meneranginya sehingga kita beroleh kelegaan. Inilah yang diajarkan pemazmur, supaya kita menghadap Tuhan dengan seruan doa.

Pertama, ia percaya bahwa Allah memperhatikan doanya, “Dengarkanlah kiranya seruanku, ya Allah, perhatikanlah doaku!” Allah menjadi tumpuan hatinya, tempat ia mencurahkan kesusahan hatinya. “Dari ujung bumi aku berseru kepada-Mu, karena hatiku lemah lesu” (ay. 3). Ia tidak berdaya dan tidak ada pertolongan lain, kecuali berseru kepada Tuhan Allah. Meski dari jarak jauh, Allah mampu mendengar dan memperhatikan seruan hati kita.

Kedua, ia menjadikan Allah sebagai tempat perlindungannya. Ia sadar, rasa aman hanya ia dapatkan ketika ia berada di dalam perlindungan Allah. Kekuatan manusia, senjata canggih, harta serta lingkungan tidak memberikan rasa aman padanya. “Sungguh Engkau telah menjadi tempat perlindunganku” (ay. 4). Allah ialah menara, kemenangan, dan kekuatan baginya. Doanya, “Biarlah aku berlindung dalam naungan sayap-Mu!” (5a).

Ketiga, pemazmur menjadikan kemah Allah sebagai tempat tinggalnya. Ia menarik kesimpulan bahwa tidak ada tempat tinggal yang nyaman dan aman selain dalam kemah-Nya. Rumah mewah, besar, megah, atau istana, bukanlah jaminan. Ia berdoa, “Biarlah aku menumpang di dalam kemah-Mu untuk selama-lamanya” (ay. 5b). Bukalah “jendela hati” melalui doa kepada Allah; niscaya kita akan menemukan kelegaan seperti yang pemazmur dapatkan.

Tuhanlah tempat perlindungan dan penghiburan bagi mereka yang percaya kepada-Nya.

Sumber: Perspektif (Januari 2008)
Baca selanjutnya...

Sehati Dalam Doa

Ayat Bacaan: Kisah Para Rasul 1:12-14
“Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama, dengan beberapa perempuan serta Maria, ibu Yesus, dan dengan saudara-saudara Yesus.” (Kisah Para Rasul 1:14)

Setelah Tuhan Yesus kembali ke sorga, Ia memerintahkan para murid untuk menantikan kuasa Roh Kudus sebelum pergi memberitakan Injil. Maka, 11 orang murid Yesus, Maria, ibu Tuhan Yesus dan 120 orang lainnya, berdoa bersama-sama menantikan turunnya Roh Kudus.

Namun, dalam bagian lain, Tuhan Yesus mengajarkan, ketika kita berdoa, masuklah ke kamar seorang diri dan tidak perlu ada orang lain yang tahu (Mat. 6:6). Apakah Tuhan Yesus tidak konsisten dalam mengajarkan cara berdoa? Jelas tidak! Kedua cara berdoa ini sama-sama diajarkan dan juga dipraktikkan oleh-Nya. Alkitab mencatat kadang Ia berdoa sendirian, dan kadang Ia berdoa bersama murid-murid-Nya.

Bila demikian, mengapa kita berdoa bersama? Ada beberapa alasan. Pertama, saat kita menghadapi pergumulan yang sama. Dalam bacaan ini, murid-murid menghadapi situasi yang sama, yaitu ditinggal Tuhan Yesus. Seperti anak kecil yang ditinggal orang tua, mereka tidak tahu apa yang harus mereka lakukan. Hati mereka tawar karena ditinggal Tuhan Yesus. Mereka berdoa bersama menantikan kuasa Roh Kudus (pentakosta) serta mendoakan pengganti Yudas Iskariot. Terkadang, Tuhan mengizinkan masalah datang dalam gereja, keluarga, dan pelayanan, agar kita memiliki beban doa yang sama. Demikian pula gereja mula-mula, mereka berdoa bersama karena menghadapi aniaya dari kerajaan Roma.

Kedua, berdoa bersama menunjukkan kesehatian kita. Pada saat berdoa bersama, hal ini memberikan kekuatan rohani daripada berdoa seorang diri. Paulus dalam 1Kor. 12, bicara tentang gereja sebagai tubuh Kristus. Bila ada satu anggota tubuh yang sakit, semua turut merasakan. Dengan berdoa bersama berarti kita perlu orang lain untuk mendoakan kita. Alkitab tidak pernah mengajarkan kita menjadi “superman rohani.” Berdoa bersama mengajarkan kepada kita untuk tidak egois rohani, tetapi mau menjadi berkat bagi yang lainnya.

Doa bersama mengajarkan kepada kita bahwa kita perlu orang lain dan berbagi dalam beban doa yang sama.

Sumber: Perspektif (Juli 2008)
Baca selanjutnya...

Tentang Doa (1)

Ayat Bacaan: Yakobus 5:13-19
“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” (Filipi 4:6)

Doa merupakan jantung dari orang Kristen. Ungkapan ini ingin menunjukkan betapa pentingnya sebuah doa yang dipanjatkan. Seluruh Alkitab menekankan doa sebagai hal yang sangat penting. Doa-doa para tokoh Alkitab yang ditulis dalam Kitab Suci menyatakan dua hal penting. Pertama, menunjukkan keterbatasan dan kebergantungan manusia kepada Allah Tritunggal. Hampir seluruh tokoh Alkitab berkonsep demikian. Di dalam Perjanjian Baru, Yesus Kristus dipercayai memiliki natur ilahi, namun Dia tetap berdoa kepada Allah Bapa (bnd. Mrk. 1:35; 6:46; 14:32, 35; Luk. 3:21; 6:12, dan lain sebagainya).

Kedua, menunjukkan bahwa Allah sungguh berdaulat dan berkuasa penuh atas segala ciptaan. Tidak ada yang tidak diketahui dan dapat terjadi di luar pengetahuan dan juga kehendak-Nya. Tuhan telah mengatur segala sesuatu untuk umat-Nya, sesuai dengan rencana kekal-Nya. Kedua hal di atas merupakan alasan dasar mengapa seseorang harus berdoa.

Di samping itu, doa-doa di dalam Alkitab juga menyatakan dua unsur yang harus diperhatikan: pertama, unsur doa itu bersifat “keharusan.” Mengapa? Karena hal ini sangat berkaitan dengan keterbatasan dan kebergantungan manusia kepada Allah Tritunggal. Kalau manusia terbatas, maka seharusnya manusia bergantung terus kepada Allah Tritunggal. Kebergantungan manusia kepada Allah Tritunggal dinyatakan di dalam doa dan permohonan.

Kedua, unsur doa bersifat tetap. Maksudnya, apa yang telah didoakan manusia (menaikkan permohonan) tidak akan merubah rencana dan ketetapan Allah Tritunggal terhadap orang tersebut. Apa yang kita doakan, semuanya telah diatur oleh Tuhan dan dijawab oleh Dia sesuai kehendak-Nya, bukan lagi kehendak manusia. Namun sayangnya, orang Kristen zaman ini tidak tahu bagaimana seharusnya berdoa kepada Allah menurut kehendak-Nya.

Doa yang benar, tidak didasarkan kepada kebutuhan manusia, melainkan kepada kehendak dan kedaulatan Allah yang mengatur segala sesuatu.

Sumber: "Perspektif" (Mei 2006)
Baca selanjutnya...

Tentang Doa (2)

Ayat Bacaan: Yakobus 5:13-19
“Tetaplah berdoa.” (1 Tesalonika 5:17)

Dalam bagian ini Yakobus menasihati kedua belas suku perantauan bagaimana seharusnya mereka menghadapi pergumulan dan tekanan dengan mengandalkan doa. Ada dua hal penting yang dibahas di sini: Pertama, Yakobus menekankan soal pemulihan yang berkaitan dengan doa. Di sini Yakobus menekankan bagaimana Tuhan bisa bekerja melalui penumpangan tangan orang-orang percaya (termasuk penatua) (bnd. ay. 14-15). Struktur teks bahasa Yunani yang berkaitan dengan topik ini tidak menunjukkan bahwa penumpangan tangan dan pengolesan minyak menjadi faktor penentu kesembuhan si sakit. Tuhanlah yang bekerja melalui penumpangan tangan dan pengolesan minyak. Konsep pengolesan minyak di sini, tidak seperti yang dipahami oleh orang-orang Kristen modern zaman ini, bahwa minyak tertentu —apalagi dari Israel— berkhasiat untuk menyembuhkan. Yang menjadi faktor penentu terjadinya kesembuhan adalah, bila sesuai dengan kehendak Tuhan.

Kedua, Yakobus menekankan iman di dalam mendoakan kesembuhan yang dikaitkan dengan orang benar. Maksud dari Yakobus adalah, Tuhan bekerja di dalam iman orang benar (yaitu orang yang setia dan mengikuti kehendak Allah, bukan kehendak sendiri), sehingga kesembuhan itu sungguh dapat terjadi. Iman di sini bukanlah iman yang buta dan ”ngawur” seperti yang dipraktikkan oleh banyak orang Kristen modern di zaman ini. Kata ”iman” dan ”orang benar” tidak boleh dipisahkan dengan ”kehendak Allah”. Tentang hal ini, Yakobus memberi contoh tokoh Elia, orang benar (yang mengikuti kehendak Allah) dan orang yang beriman kepada Allah. Apa yang didoakan terjadi, karena isi doanya sesuai dengan kehendak Allah.

Kiranya pelajaran rohani tentang doa pada hari ini dapat mengingatkan orang Kristen bahwa doa yang benar adalah doa yang sesuai dengan kehendak Allah!

Umumnya, umat Tuhan berdoa agar keinginannya terpenuhi. Tetapi Tuhan akan menjawab doa orang benar, yang sesuai dengan rencana dan kehendak-Nya.

Sumber: "Perspektif" (Mei 2006)
Baca selanjutnya...

Ekspresi Sang Bapa

Ayat Bacaan: Matius 6:8-13

Tuhan Yesus mengajar kita untuk mengekspresikan kerinduan-Nya di dalam persekutuan yang intim dengan Bapa. Melalui doa yang diajarkan kepada murid-murid-Nya di dalam bacaan kita hari ini. Perhatikan: “Bapa kami yang ada di sorga, dikuduskanlah nama-Mu” (ayat 9). Ada kata Bapa dan kudus di dalam satu kalimat. Di sini Yesus menunjukkan kepada kita bahwa kitapun dapat memiliki persekutuan pribadi dengan Allah. Kita dapat meminta Bapa untuk mencukupi segala kebutuhan kita sehari-hari, dan mengampuni dosa-dosa kita dengan sempurna. Kita juga dapat meminta-Nya untuk memberikan kuasa, agar dapat mengampuni orang yang bersalah kepada kita.

Bila kita datang kepada Allah dengan hati yang tenang dan teduh, kita akan dimampukan merasakan hadirat-Nya, dan selanjutnya Ia akan menyingkapkan lebih dalam lagi tentang diri-Nya. Kita akan semakin memahami kehendak-Nya. Hal ini dapat kita percaya, sebab Yesus berkata, “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu” (Lukas 11:9).

Kasih Allah yang tak bersyarat adalah ekspresi terbesar dari Bapa. Kasih-Nya bagi orang-orang yang menerima-Nya tidaklah berbeda dengan mereka yang menolak-Nya. Namun siapa yang menolak Tuhan, artinya ia telah membuat dirinya sedemikian rupa, sehingga ia tidak menikmati ekspresi kasih itu. Tetapi, kita yang “tinggal” di dalam kasih Kristus, dan mengikuti Dia, akan dapat menikmati kasih itu sepenuhnya (Yohanes 15:9-11). Puji Tuhan.

Alkitab mencatat Ia berjanji untuk menyertai kita selamanya (Yohanes 14:16-18). Betapa luar biasa bukan? Jangan ragu-ragu lagi, kenalilah Bapa yang sempurna, Ia siap bersekutu dengan kita, dan siap memberikan kasih-Nya yang tak bersyarat dan tak pernah berkesudahan, sampai selama-lamanya.

Sumber: "Sentuhan Hati" (April 2006)
Baca selanjutnya...

Berdoa di Tengah Krisis

Ayat Bacaan: Yakobus 5:13-18

Alkitab berkata bahwa, ”Doa yang efektif dan tekun dari orang benar ...sangat besar kuasanya” (Yakobus 5:16 - NKJV). Setiap kita pasti ingin doa kita efektif terutama di tengah krisis. Bila kita taat akan beberapa ’persyaratan’ dari Tuhan, maka Ia pasti akan mencurahkan kuasa-Nya.

Syarat no. 1 – Doa yang tekun.
Doa semacam ini dipenuhi oleh semangat sekaligus kepasrahan diri. Doa ini juga mengacu pada suatu titik masalah yang menjadi fokus kita.

Syarat no. 2 – Kebenaran.
Setelah diselamatkan, kita menjadi anak Allah, dimeteraikan oleh Roh Kudus, dan dibenarkan di dalam Kristus. Namun kata “benar” di sini juga merujuk pada tindakan kita, artinya bila kita ingin disebut “orang benar,” maka kita harus ada di dalam Kristus (Filipi 3:9) dan punya gaya hidup yang taat kepada Bapa. Jika kita dengan sengaja berbuat dosa, maka kita belumlah hidup benar dan doa kita pun jadi tidak efektif.

Tuhan pasti mendengarkan doa dan mengenal siapa yang memanjatkannya. Jika doa itu datang dari orang benar yang selalu hidup sesuai kehendak-Nya, maka Alkitab berjanji bahwa Roh Kudus akan bekerja di dalamnya. Ingatlah, Tuhan sangat memperhatikan doa dari orang benar.

Bacaan kita hari ini menegaskan kuasa doa yang lahir dari kesungguhan dan pertobatan yang sejati. Hasilnya jangan diragukan lagi. Kebenaran ini sudah teruji dan sudah di alami oleh banyak orang. Rindukah Anda juga mengalaminya?

Sumber: "Sentuhan Hati" (Februari 2006)
Baca selanjutnya...

Pesan di Tengah Badai

Ayat Bacaan: Mazmur 62:1-8

Salah satu hal tersulit untuk dilakukan adalah “menunggu Tuhan dengan tenang.” Bagi kita, menunggu itu identik dengan menunggu dengan pasif sampai sesuatu terjadi. Namun biasanya kita menjadi tidak sabar di tengah berkecamuknya badai hidup. Naluri kita akan menuntut reaksi cepat untuk mengubah segala sesuatunya.

Namun kata “tunggu” di sini memiliki makna yang berbeda, artinya “kita perlu waktu jeda hingga ada instruksi berikutnya.” Memang kadang Tuhan berdiam diri, tapi itu semua ada maksudnya. Ia tahu saat yang tepat untuk bertindak bagi kita, namun sebelum saat itu tiba, kita harus sabar. Tahukah Anda bahwa dibutuhkan lebih banyak kekuatan dan penguasaan diri untuk dapat berdiam di tengah badai ketimbang kalang kabut mencari solusinya sendiri.

Saya mengaku bahwa saya pun kadang tidak sabar untuk menunggu. Saya sering jadi gelisah dan mulai mempertanyakan Tuhan. Atau malah mengeluh. Rasul Paulus berkata dengan jelas agar kita tidak “kuatir tentang apa pun juga” tapi berdoa kepada Tuhan yang memberikan kedamaian. Jadi kita perlu menanti dengan tenang dan sabar. Untuk bisa sabar, kita perlu yakin akan hikmat, kasih, kuasa, dan waktu Tuhan. Percayalah bersandar kepada-Nya tidak akan pernah salah.

Kunci untuk mendapatkan ketenangan di tengah badai hanyalah menanti dengan setia di hadapan Tuhan. Bila kita menolak melakukannya, maka hasilnya akan buruk. Tuhan senantiasa mendengar doa kita, tapi kita harus bersedia dengan tenang menantikan jawaban dari-Nya.

Sumber: "Sentuhan Hati" (Februari 2006)
Baca selanjutnya...

Bagaimana Berdoa untuk Pemimpin

Ayat Bacaan: Ulangan 17:14-20

Bacaan hari ini adalah pra syarat yang Tuhan sampaikan bagi bangsa Israel jika memilih raja bagi mereka. Hal itu dapat dikatakan sebagai doa yang harus mereka panjatkan. Kitapun memiliki tanggung jawab yang sama untuk mendoakan mereka yang mengemban otoritas, baik itu orangtua, pendeta, dan pemimpin masyarakat. Kita harus dapat mengatakan lebih dari sekadar, “Tuhan, berkatilah presiden kami” atau “Tuhan, tolonglah pendeta kami agar dapat berkhotbah dengan baik.”

• Berdoalah tiap hari secara khusus bagi mereka supaya, beliau boleh…
• Menyadari keberdosaannya dan kebutuhannya akan kuasa Allah yang sanggup membersihkan dia setiap hari.
• Mengakui ketidakmampuannya untuk melakukan tugas jika tidak kebergantung kepada Tuhan.
• Menolak segala macam nasihat yang akan merusak prinsip-prinsip rohani di dalam segala aspek hidupnya.
• Melawan tekanan dari orang-orang atau kelompok yang ingin mengacau bangsa dengan bergantung kepada hikmat yang dari Tuhan.
• Bekerja untuk mengubahkan kecenderungan agar rakyat tidak mendewakan manusia, tetapi Tuhan.
• Rela berkorban melalui karir politiknya dan dijauhkan dari ambisi pribadi.
• Bergantung penuh pada Allah sebagai sumber kekuatannya.
• Dipakai untuk membawa martabat, kehormatan, kepercayaan dan kebenaran kepada segala bangsa.
• Menjadi teladan yang baik bagi para bapak dan anak bangsa.
• Diingatkan setiap hari bahwa ia bertanggung jawab kepada Allah untuk sikap, motivasinya, tindakan dan keputusan-keputusannya.

Maukah kita mendoakan hal ini setiap hari, agar para pemimpin dunia ini boleh menjalankan tugasnya dengan lebih baik?

Sumber: Sentuhan Hati (Januari 2006)
Baca selanjutnya...

Kuasa Doa

Ayat Bacaan: Matius 7:7-11

Hari ini kita akan belajar mengenai kuasa yang akan kita peroleh bila kita berdoa. Allah yang Mahakuasa, yang bagi-Nya tidak ada yang mustahil, mendengar setiap permohonan kita. Ketika kita masuk ke dalam hadirat Bapa, sesungguhnya kita sedang masuk ke dalam kuasa terbesar di jagat raya ini. Dengan kuasa-Nya itu Dia sanggup memberikan kita apapun yang kita minta, meskipun tidak selalu Dia melakukan seperti itu. Ingat, Ia selalu bekerja menurut waktu dan kehendak-Nya. Ia bisa berkata, tunggu atau tidak, dan itu selalu baik bagi kita.

Firman Tuhan yang kita baca hari ini memberikan perbandingan antara bapa di dunia dengan Bapa sorgawi. Jika bapa di dunia yang penuh kekurangan dan sangat terbatas saja dapat memberikan hal-hal yang baik kepada anak-anaknya, apalagi Bapa sorgawi yang Mahakuasa dan tahu segalanya, Dia tentu akan memberikan karunia yang luar biasa kepada kita anak-anak-Nya asal itu sesuai dengan kehendak-Nya.

Merupakan pengalaman yang mengagumkan bila kita menerima apa yang kita minta dari Bapa yang kudus dan mahakuasa serta penuh kasih itu. Allah tidak pernah memberikan kepada kita jawaban doa yang berlebihan atas doa-doa kita. Melalui doa Ia rindu kita membangun keintiman dengan-Nya, sehingga kita dapat terus bergantung pada-Nya.

Bila segala keinginan kita berpadanan dengan kehendak Bapa, dan kita selalu merindukan hadirat-Nya, maka waktu doa kita akan menjadi efektif dan penuh kuasa. Kita bisa mendapat apa saja sebagai jawaban doa, namun keuntungan yang lebih besar dari doa adalah, kita dapat berhubungan langsung dengan Dia yang menyediakan segala keperluan kita.

Sumber: "Sentuhan Hati" (Mei 2006)
Baca selanjutnya...

Jawaban yang Tepat

"Dan apa saja yang kita minta, kita memperolehnya daripada-Nya karena kita berbuat apa yang berkenan kepada-Nya." (1 Yohanes 3:22)

James Gilmour, seorang utusan Injil di Mongolia, suatu ketika diminta mengobati beberapa prajurit yang terluka. Ia bukanlah dokter, tetapi dia memiliki pengetahuan mengenai pertolongan pertama. Ia mampu mengobati luka-luka dua orang prajurit, tetapi prajurit ketiga mengalami patah tulang paha yang parah. Gilmour tidak tahu apa yang harus dilakukan, maka ia berlutut di samping prajurit itu dan berdoa mohon pertolongan dan yakin bahwa Tuhan akan menjawab.

Ketika ia tengah berpikir apa yang harus dilakukan, sekelompok pengemis datang meminta-minta. Walaupun Gilmour sedang berkonsentrasi pada prajurit yang luka, hatinya tergerak juga pada para pengemis yang compang-camping itu. Segera ia memberi sedikit uang dan perhatian kepada mereka.

Beberapa saat kemudian ia takjub memandang salah seorang pengemis yang berada di belakang. Orang yang tampak lelah dan kelaparan itu menyerupai kerangka hidup. Glimour tiba-tiba menyadari bahwa Tuhan tengah mengajarkan anatomi tubuh manusia melalui pengemis tadi. Lalu Glimour bertanya pada orang tua itu apakah ia boleh memeriksanya. Dengan hati-hati ia meraba-rabakan jari-jarinya pada bagian yang sama dengan tulang prajurit yang patah itu. Dengan begitu, ia mampu mebetulkan patah tulang prajurit itu. Beberapa tahun kemudian, Gilmour sering menceritakan hal tersebut sebagai jawaban doa dari Tuhan yang aneh tetapi indah.

Tuhan selalu memberi apa yang kita minta atau sesuatu yang lebih baik.

Sumber: "Renungan Harian"/RBC Ministries/Yayasan Gloria
Baca selanjutnya...

Mendengar Suara-Nya

Ayat Bacaan: Kisah Para Rasul 9:3-9
"Allah tidak pernah berhenti berbicara kepada kita."
- F. Fenelon

Ada yang mengatakan bahwa Tuhan berbicara kepada kita dengan dua cara: bisikan atau teriakan. Tentu saja kita tidak akan memilih metode "teriakan" namun sadarkah Anda, sering kali kita kurang sensitif dengan bisikan-Nya, sehingga Ia terpaksa memakai metode lain yang lebih menarik perhatian kita.

Peristiwa tragis di dalam kisah hidup Yosua dan Saulus menunjukkan dengan jelas metode bisikan dan teriakan ini. Yosua taat pada petunjuk-petunjuk Tuhan yang berkata, "Janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, supaya engkau beruntung ke manapun engkau pergi (Yosua 1:7). Tetapi bagi Saulus, Allah menarik perhatiannya sampai ke jalan Damaskus dengan cara yang membuatnya rebah ke tanah dan buta sesaat.

Allah dapat berkomunikasi kepada umat-Nya lewat berbagai cara; mimpi, para nabi, malaikat, atau suara yang dapat didengar. Nah, tahukah Anda apa yang Ia lakukan untuk membuat kita mendengarkan-Nya di masa ini? Tuhan menawarkan firman-Nya untuk menyatakan kehendak-Nya dan mengizinkan Roh Kudus menerjemahkannya di dalam hati kita. Ia juga mengutus sesama kita untuk memberkati dan mengarahkan kita. Bahkan lewat peristiwa yang mengecewakan sekalipun Ia dapat berbicara dan mengingatkan bahwa kegagalan hari ini dapat membuat kita berhasil di kemudian hari (Roma 8:28).

Sebagai orang percaya, Anda perlu yakin bahwa di setiap situasi Allah akan berbicara (Yohanes 16:13), menghibur (Yohanes 14:16), menjaga (Kejadian 19:17-26), mengajarkan ketaatan (Yosua 6:18-19), atau menyatakan kasih setia-Nya (Yohanes 16:27) kepada kita. Jangan biarkan keramaian dunia ini memudarkan suara-Nya. Bila kita gagal mendengarkan bisikan-Nya yang lembut itu, maka Ia akan memakai cara lain untuk menyadarkan kita. Apakah saat ini Anda sudah memasang telinga Anda baik-baik?

Sumber: Unknown
Baca selanjutnya...

Ketika Sulit Berdoa

Sebab sebelum lidahku mengeluarkan perkataan, sesungguhnya, semuanya telah Kauketahui, ya Tuhan (Mazmur 139:4)

Alkitab menyatakan kepada kita bahwa Allah mengetahui setiap pikiran dan perkataan di lidah kita (Mazmur 139:1-4). Maka, ketika kita tidak tahu apa yang perlu didoakan, Roh Kudus "berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan" (Roma 8:26).

Kebenaran alkitabiah ini meyakinkan kita bahwa kita dapat berkomunikasi dengan Allah, meskipun tanpa mengucapkan sepatah kata pun, karena Dia mengetahui kehendak dan keinginan hati kita. Sungguh hal itu menjadi suatu penghiburan di kala kita dalam kebimbangan atau mengalami tekanan berat! Kita tidak perlu khawatir jika tidak dapat menemukan kata-kata untuk menyatakan pikiran dan perasaan kita. Kita tidak perlu merasa malu jika terkadang kalimat yang kita ucapkan terputus di tengah jalan. Allah mengetahui apa yang ingin kita sampaikan. Kita juga tidak perlu merasa bersalah jika terkadang pikiran kita mengembara ke mana-mana, sehingga kita harus berupaya keras untuk memusatkan pikiran kepada Tuhan.

Selain itu, dalam hal berdoa kita juga tidak perlu mengkhawatirkan posisi tubuh yang layak untuk berdoa. Seandainya pun kita berusia lanjut atau menderita arthritis [penyakit radang sendi] sehingga tidak bisa berlutut, tidak menjadi masalah. Sesungguhnya yang Allah perhatikan adalah posisi hati kita.

Betapa luar biasanya Allah! Betapa pun Anda tersendat-sendat atau gagap dalam berdoa, Dia mendengarkan Anda. Kasih yang tiada batas di dalam hati-Nya menanggapi kebutuhan dan perasaan hati Anda yang tak terucapkan. Oleh karena itu, tetaplah berdoa! --Vernon Grounds

Doa tidak membutuhkan kelancaran berkata-kata melainkan kesungguhan hati.

Sumber: "Renungan Harian"/RBC Ministries/Yayasan Gloria
Baca selanjutnya...

Berdoa Bagi Utusan Misi

Ayat Bacaan: Efesus 6:10-20
“Berdoalah... untuk aku, supaya kepadaku, dikaruniakan perkataan yang benar, agar dengan keberanian aku memberitakan rahasia injil.” (Efesus 6:18-19)

Meski Paulus ialah seorang Rasul Tuhan yang memiliki kemampuan lebih daripada rekan-rekannya yang lain, namun, dalam pelayanan pemberitaan Injil, ia sadar bahwa doa syafaat dari jemaat Tuhan ialah penting bagi dirinya. Baginya, doa adalah kekuatan yang mendorong dan memberikan keberanian, ketika ia harus memberitakan Injil. Kepada jemaat di Efesus, Paulus tidak segan-segan meminta mereka agar berdoa bagi orang-orang kudus, terutama bagi dirinya.

Pertama, Paulus sadar bahwa dalam pemberitaan Injil maupun hidup orang-orang kudus, selalu dihadapkan dengan peperangan rohani (ay. 11-17). Peperangan rohani ini bentuknya bermacam-macam. Bagi jemaat di Efesus, mereka harus menghadapi budaya agamawi dan penyembahan pada dewi Artemis, okultisme, maupun kemesuman, yang semuanya telah berakar kuat dalam masyarakat masa itu. Menghadapi keadaan seperti itu, Paulus dan orang-orang kudus memerlukan dukungan doa agar mereka dapat bertahan menghadapi godaan maupun tantangan.

Kedua, bagi Paulus, doa adalah bagian yang tak dapat dipisahkan dari perlengkapan senjata Allah. Artinya, meski seseorang telah memakai perlengkapan senjata Allah, tanpa doa, hal ini seperti sebuah peperangan tanpa semangat yang membara. Akibatnya adalah kekalahan, yang didapat bukan karena tidak memiliki perlengkapan perang, tapi, karena tidak adanya kekuatan dan keberanian untuk berperang. Karena itu, Paulus meminta agar jemaat di Efesus tetap berdoa baginya, yang sedang menunaikan tugas pemberitaan Injil.

Bagaimana dengan diri Anda? Sudahkah Anda mengambil komitmen untuk senantiasa berdoa bagi para utusan misi Tuhan? Jika Anda belum melakukannya, maka sekaranglah waktunya; banyak utusan misi di ladang pelayanan yang sedang membutuhkan dukungan doa. Doa kita membantu mereka yang memberitakan Injil.

Doa merupakan penggerak dalam pemberitaan Injil.

Sumber: Perspektif (31/01/08)
Baca selanjutnya...

Mengapa Kita Berdoa?

Ayat Bacaan: Lukas 11:5-13

Di dalam Matius 6:8, Tuhan berkata, “Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya.” Lalu mengapa Allah menghendaki kita untuk meminta kepada-Nya apa yang kita butuhkan, bila Dia sudah mengetahui semuanya itu? Jawabannya sangat sederhana. Berdoa bukan berarti memberi informasi kepada Allah. Berdoa adalah menghargai-Nya sebagai sumber hidup kita. Dia menghendaki agar kita memahami siapa Dia, siapa kita dan mengenal segala sesuatu yang Dia kerjakan.

Kita juga dipanggil untuk berdoa karena hal itu sangat penting bagi pertumbuhan rohani kita. Anda dapat menghafalkan banyak ayat Alkitab, menghadiri pertemuan ibadah, dibaptis dan bersaksi tentang Kristus kepada orang lain. Namun bila Anda MALAS berdoa, sesungguhnya Anda sedang menuju kepada kekalahan. Kita tidak dapat membangun hubungan intim dengan siapapun kecuali kita mau menghabiskan waktu untuk berbagi dan mendengarkan, karena hanya dari situlah kita dapat mempelajari tentang orang itu. Allah telah menyatakan diri kepada kita agar kita mau membuka hati kita bagi-Nya, mendengarkan-Nya dan bertindak menurut apa yang Ia perlihatkan bagi kita.

Jadi doa adalah berbicara tentang hubungan. Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya” (Yohanes 14:14). Itu tidak berarti bahwa kita cukup mengakhiri setiap permohonan kita dengan stempel “di dalam nama Yesus,” lalu Allah wajib menyediakan apa yang kita inginkan! Tuhan melanjutkan dengan menjelaskan bahwa Dia akan melakukan apapun yang kita minta hanya bila kita tinggal di dalam-Nya dan dipenuhi dengan Roh-Nya (Yohanes 15:7-8). Berdoa di dalam nama-Nya berarti datang kepada-Nya di bawah otoritas-Nya, dan kebergantungan total pada-Nya. Izinkanlah sifat ini memerintah hidup Anda mulai saat ini juga.

Sumber: "Sentuhan Hati" (Mei 2006)
Baca selanjutnya...

Berdoalah

Ayat Bacaan: Lukas 22:39-46
“Berdoalah supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan.” (Lukas 22:40b)

Mungkin kita sering mendengar khotbah tentang doa, atau membaca buku tentang doa dan melihat orang berdoa. Namun, yang perlu kita tanyakan adalah, “Berapa sering saya berdoa? Apa saya memiliki waktu khusus untuk berdoa?”

Jika kita perhatikan PL dan PB, banyak sekali catatan tentang aktivitas doa umat Tuhan. Begitu banyak orang yang beriman di dalam PL, berdoa (seperti: Nuh, Abraham, Daniel, dan lainnya). Di dalam PB, selain mengajar tentang doa (Mat. 6:9-13), Tuhan Yesus sendiri juga memberikan teladan dalam hal berdoa. Markus 1:3 mencatatnya, “Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia pergi... dan berdoa,” dan di dalam Matius 14:23 dikatakan, “dan setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Ketika hari sudah malam, Ia sendirian di situ.” Kedua ayat ini jelas menyatakan bahwa Tuhan mengawali dan mengakhiri pelayanan-Nya dengan berdoa. Dan, ketika harus menerima cawan murka Allah, Tuhan Yesus pun berdoa di taman Getsemani sebanyak tiga kali.

Hal ini menyatakan bahwa doa itu sangat penting dan indah. Alasannya? Pertama, Ketika kita berdoa, kita berkomunikasi dan membina hubungan yang indah dengan Bapa di sorga. Kedua, Ketika berdoa, kita mendapat kekuatan Allah, seperti Tuhan Yesus menerimanya dari Bapa-Nya (ay. 43). Ketiga, Kita berdoa agar kita jangan jatuh ke dalam pencobaan. Dalam bagian ini, Tuhan Yesus memperingati murid-murid-Nya sebanyak dua kali untuk berdoa, tapi, mereka malah tertidur. Akhirnya terbukti, ketika Tuhan Yesus ditangkap, para murid meninggalkan-Nya (Mat. 26:56) dan Petrus menyangkal-Nya sebanyak tiga kali.

Jika para murid yang hidup bersama Yesus, jatuh dalam pencobaan, maka kita pun memiliki potensi sama; sangat mungkin, kita meninggalkan dan menyangkal Tuhan Yesus. Karena itu, kita perlu berdoa.

Doa bukanlah aktivitas yang berhenti, tapi, harus kontinyu dilakukan orang percaya.

Sumber: Perspektif (05/01/08)

Baca selanjutnya...

Seni Berdoa (1)

Ayat Bacaan: Lukas 11:5-8
“Oleh karena itu Aku berkata kepadamu: Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.” (Lukas 11:9)

Saat kita memerlukan pertolongan, kepada siapakah kita akan memintanya? Kepada sahabat, atau kepada orang yang tidak terlalu kita kenal? Jika sahabat kita berada di dekat kita, maka tentu saja padanyalah kita akan meminta pertolongan, bukan? Mengapa demikian? Karena terhadap sahabat tidak ada rasa sungkan, dan kita juga tahu bahwa dia pasti mau menolong.

Tuhan Yesus memberikan perumpamaan tentang seorang yang meminta pertolongan pada sahabatnya di tengah malam, untuk melukiskan hal berdoa. Yesus menggunakan kata “sahabat” untuk menyatakan adanya sebuah relasi yang akrab dan dekat, sehingga mengalahkan rasa sungkan untuk meminta tolong, sekalipun di tengah malam. Demikianlah Tuhan ingin relasi kita dengan-Nya adalah relasi persahabatan. Tuhan ingin agar kita memperlakukan Dia sebagai seorang sahabat, sahabat yang selalu siap sedia memberikan pertolongan.

Berelasi dengan Tuhan sebagai sahabat dalam doa berarti kita bebas mencurahkan semua isi hati kita kepada-Nya. Dengan senang Tuhan mendengarkan kita, bahkan menolong kita. Menjadikan Tuhan sebagai sahabat berarti kita tidak takut salah berucap dalam doa. Kita bebas mengungkapkan diri kepada-Nya, bahkan dengan bahasa yang sederhana.

Banyak orang takut dan malu jika diminta untuk berdoa. Ada juga orang yang enggan meminta hal yang kecil dengan alasan permohonannya adalah hal yang terlalu sepele, sehingga tidak mau menyusahkan Tuhan. Bagi Tuhan, tidak ada hal yang sepele dan memalukan untuk didoakan pada-Nya. Setiap anak-Nya penting di mata-Nya. Namun tentu saja Tuhan memberikan pertolongan pada kita sesuai dengan kebutuhan kita, bukan keinginan kita semata.

Kalau sahabat di dunia saja bersedia memberi pertolongan pada sahabatnya yang sedang dalam kesulitan, apalagi Sahabat sorgawi kita! Tuhan pasti menolong kita.

Sumber: Perspektif (05/06/05)
Baca selanjutnya...

Seni Berdoa (2)

Ayat Bacaan: Lukas 11:11-13
“Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan.” (Lukas 11:10)

Dalam doa-doa pribadi, biasanya kita meminta yang terbaik dari Tuhan. Biasanya juga, jika berkaitan dengan kebutuhan sehari-hari, kita meminta pada Tuhan yang terbaik berkaitan dengan hal-hal fisik saja. Contohnya: perlindungan di dalam perjalanan, keselamatan diri dan orang-orang terdekat, kecukupan berkat, kesehatan, dan pekerjaan. Berdoa meminta hal-hal ini adalah wajar dan tidak salah.

Saya tergelitik dengan pertanyaan Tuhan Yesus dalam bagian ini. Jika kita perhatikan dalam ayat 11-12, bukankah pada awalnya Tuhan Yesus berkata, “Bapa manakah di antara kamu, jika anaknya minta ikan dari padanya, akan memberikan ular kepada anaknya itu ganti ikan? Atau, jika ia minta telur, akan memberikan kepadanya kalajengking?”

Dengan kata lain, di sini Tuhan Yesus berbicara soal kebutuhan secara fisik, yaitu makanan. Namun di ayat 13, Tuhan Yesus menutup pernyataannya demikian, “Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya.” Tuhan tidak lagi menyinggung masalah fisik sebagai hal yang terbaik, melainkan masalah rohani, yaitu Roh Kudus.

Dengan kata lain, kita boleh meminta hal-hal yang bersifat fisik pada Tuhan, dan hal itu tidak salah. Namun yang terpenting yang seharusnya kita ingat adalah bahwa hal-hal yang bersifat fisik bukanlah yang terbaik bagi kita. Roh Kuduslah yang terbaik dan yang paling kita butuhkan. Roh Kudus adalah pemberi hidup (Yoh. 6:63), Ia juga memberi damai sejahtera (Rm. 8:6). Roh Kudus akan memimpin kehidupan orang percaya. Karena itu, seharusnya hal utama yang kita minta adalah Roh Kudus, kemudian baru diikuti dengan hal-hal yang bersifat jasmani; bukan kebalikannya, atau malah sama sekali tidak meminta Roh Kudus.

Apakah Saudara merindukan karya Roh Kudus yang nyata dalam hidup Saudara?

Sumber: Perspektif (06/06/05)
Baca selanjutnya...

Penghalang Doa

Ayat Bacaan: 1 Petrus 3:1-7
“Tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu.” (Yesaya 59:2)

Pada umumnya, orang beropini bahwa kaum Adam lebih dominan di dunia dibanding kaum Hawa. Kesempatan wanita mengembangkan diri jauh lebih kecil dibanding pria. Memang semestinya tidak seperti ini, tetapi demikianlah realitanya. Misalnya, masih ada gereja-gereja yang tidak mengizinkan kehadiran seorang wanita sebagai pendeta.

Mungkin kita mempunyai asumsi bahwa penulis surat 1 Petrus ini lebih memihak kepada kaum wanita, sebab dari ketujuh ayat dalam perikop ini, hanya 1 ayat saja yang menyinggung kaum pria, sedangkan keenam ayat lainnya membahas kaum wanita. Tetapi kalau diamati dengan baik dan teliti, maka kita akan menemukan perbedaan penekanan. Para istri diminta untuk tunduk pada suami dan mendandani diri secara batin, sedang para suami diminta untuk menghormati istri mereka, supaya doa mereka jangan terhalang. Kata-kata kepada para suami jauh lebih lugas.

Adalah lebih baik jika para istri bertanya pada diri mereka sejauh mana mereka sudah melayani suami, terutama pelayanan yang bersifat rohani; demikian pula para suami bertanya pada diri sendiri mengapa banyak doa dan harapan mereka yang tidak dikabulkan. Penulis surat Petrus menjelaskan bahwa hal ini mungkin terjadi karena hidupnya yang tidak bijaksana dengan istri, dan tidak memandang istri sebagai partner yang sederajat dalam warisan kasih karunia Tuhan. Suami lebih mudah mengoreksi kesalahan yang dilakukan dalam pekerjaan atau pergaulan yang berhubungan dengan orang lain, namun mengabaikan koreksi atas banyak kesalahan yang dia sendiri lakukan terhadap orang yang paling dekat dengannya, yaitu istri. Mungkin para suami berpikir kesalahan yang dilakukan terhadap istri dengan sendirinya tentu dimaafkan (karena dia istri yang harus tunduk pada suami), dan karena itu dia pun menerima pengampunan dari Tuhan. Ini adalah konsep yang salah.

Jika kita sadar Tuhan mengarahkan sejarah dunia dengan memperhitungkan doa orang percaya, maka suami-istri harus saling berdoa untuk mengukuhkan kasih mereka dalam Tuhan.

Sumber: Perspektif (26/06/05)
Baca selanjutnya...

Komentar Terbaru

Artikel Terbaru

Powered By Blogger
Cari di pendoa.blogspot.com...

About this blog

Blog ini dibuat dengan tujuan untuk membagikan berkat firman Tuhan yang diperoleh kepada saudara seiman yang membutuhkan agar dapat saling membangun sebagai satu tubuh dalam Kristus. Materi diambil dari berbagai sumber seperti buku, milis, buletin, traktat, dan berbagai media lain. Hak cipta setiap tulisan ada pada masing-masing penulis, pembuat atau penerbit seperti yang tercantum pada setiap akhir tulisan (kecuali yang tidak diketahui sumbernya). Isi blog ini bersifat non-denominasi dan tidak condong/tidak memihak kepada kelompok denominasi tertentu. Apabila di dalamnya terdapat materi/tulisan yang tidak cocok/ tidak sesuai dengan pendapat/pemahaman Anda, mohon tetaplah menghargai hal itu dan silakan memberi tanggapan secara sopan dan tidak menghakimi. God bless you...

  © 2008 Blogger template by Ourblogtemplates.com

Back to TOP